De Proklamator

oleh :Sriwidada Putu Gedhe

Bung Karno pada 1933 telah menyatakan : “Bilapecah perang Asia – Pacific maka INDONESIA AKAN MERDEKA”. Dan sejak dasa warsa dua puluhan Bung Karno telah mempersiapkan itu semua. Pro kontra terhadap sosok Bung Karno memang tak dapat dihindari sejak pra kemerdekaan, karena ada satu yang terlupakan bahwa sisi isoteris yang tersirat dan atau yang batin jarang dipadukan dalam setiap memandang sesuatu.

Bahkan hingga kini dengan adanya gerakan “DESOEKARNOISASI”,masih menyisakan banyak penilaian yang nyinyir, tidak fair dan cenderung membabi buta, tidak saja oleh sesama anak bangsa akan tetapi banyak pula kaum orientalis dan atau sejarawan barat yang sering melupakan sisi terdalam tersebut!

Sebagai fakta sejarah, bagaimana tokoh Chairul Saleh seorang pemuda yang amat progresif revolusioner sebagai pemimpin pergerakan kaum muda selalu saja berseberangan dengan Bung Karno, sehingga terjadilah tragedy “PENCULIKAN” yang dibawa ke Rangasdengklok untuk dipaksa agar segera meproklamirkan kemerdekaan R.I yang usianya persis genap 65 tahun yang lalu.

Tentu tidaklah bijak bila Bung Karno harus memaparkan secara detail tentang restu penggunaan tgl. 17 itu dari sesepuh yang dituakan dan dihormatinya. Simaklah perdebatannya saat para pemuda mendatangi kediamannya pada 15 Agustus 1945, Bung Karno menyatakan bahwa “Saya menghadapi pihak Pemuda; Pemimpin Tua dan pemimpin Agama. Syahrir menarik saya ke jurusan tertentu, Hatta juga menarik saya ke arah tujuan tertentu. Tapi saya harus mengikuti hati nurani saya sendiri”! (hatinurani saya sendiri inilah yang tidak terjabarkannya).
Nah jiwa Bung Karno yang dipengaruhi oleh factor Gemini itu, tidak selalu orang yang dituakannya senantiasa nasehatnya dituruti apabila tidak sejiwa dengannya seperti pada saat pernikahannya dengan Utari putri tokoh kharismatik yang sekaligus gurunya, HOS. Tjokroaminoto nyaris batal karena hanya urusan pakaian yang diharuskan oleh penghulunya. BungKarno di samping hormat dan bektinya kepada ke dua orang tuanya, menunjukkan kebesaran jiwanya, seperti saat sedang berpidato di Surakarta saat memandang hadirin di depannya sekejab tak disadari saling berpandangan dengan guru yang ia hormati. Tak ayal Bung Karno pun segera turun podium & menyalaminya. Nah adakah pemimpin kita seperti itu ?

Dalam tulisan ini penyaji sama sekali bukan bermaksud mengkultuskan dirinya, karena secara spiritual kultus hanya milik yang serba maha itu sendiri, namun ingin mengajak bagi yang berfikiran negatif untuk jujur dan menghormati pengorbanan dan jasa – jasa Bung Karno yang pada akhir kekuasaannya hanya untuk sekedar membeli seikat rambutan rabiah kesukaannya puntak mampu sehingga dibelikan ajudannya. Tak ubahnya Bung Hatta hanya bermimpin memakai sepatu buatan Itali merek “Bally” pun tak kesampaian.
Ada baiknya kita mengikuti ketauladanan sosok kontroversial yakni Chairul Saleh yang kemudian mau bergabung dalam Pemerintahan Bung Karno, dan setelah memahami siapa sosok Bung Karno, ia menjadi sangat Soekarnois, sampai – sampai ia meminta pada Muhtar Kusumaadmaja (Bapak Maritim Indonesia = anak idiologis Ken Arok) untuk mengusahakan aga rlebar laut wilayah NPKRI yang semula hanya 4 mil yang kemudian (disepakatiinternasional) menjadi 12 mil, ia ngotot agar diperjuangkan menjadi 17 mil agar sama dengan angka Proklamasi! Sebagai seorang Soekarnois akibatnya nasibnya (Waperdam III yang sekaligus Ketua MPRS itu) nyaris sama dengan BK, ia wafat dalam tahanan RTM tanpa proses pengadilan. Mari kita doakan semoga mereka diberikan matfiroh dan tempat yang mulia di alamnya.

Bung Karno ditakdirkan sebagai Proklamator bersama Bung Hatta, yang memungkinkan kita semua dapat hidup (lebih) baik daripada menjadi inlander! Kalau bangsa ini esensinya belum merdeka itu karena kesalahan elit para penyelenggara Negara sendiri , bukan oleh Bung Karno dan founding fathers dll.! Betapa anak – anak bangsa yang telah dimerdekakan ini justru merasa lebih hebat ketimbang mereka. Sungguhironis, ekses Desokearnoisasi tentunya berimbas pada Depancasilaisasi sehingga tak ketinggalan para ahli hukum tatanegara yang menganggap para founding fathers itu tak becus membikin undang – undang bahkan ada yang penuh sakwasangka seperti pendapat pakar hukum tata Negara , seorang pengajar di Universitas Trisakti, (bisa jadi lupa nama Trisakti itupun dicetuskan oleh BungKarno) dimana A. Ahsin Thori yang menilai bahwa : ” ………mengingat UUD 1945 naskah aslinya mengidap persoalan sejak kelahirannya sehingga sejak awal tidak dimaksudkan sebagai UUD difinitif”. …….UUD 1945 naskah asli justru menjadi persoalan itusendiri”. (Kompas, Kamis 3 Juli 2008 hal.6).
Bisajadi penilaian minor tsb. karena mereka lupa bahwa UUD 1945 itu dibuat dalam suasana apa dan latar belakangnya apa serta terjadinya teks itu bagaimana “. Sedangkan UUD 1945 itu sendiri menuntut adanya “bagaimana praktek dan bagaimana suasana kebatinannya (geistlichen hinterground)”. Seharusnya kita mampu dan mau menyelami pokok– pokok pikiran di dalam Preambule itu sehingga kita tidak begitu mudah melecehkan warisan mereka.
Kalimat yang berbunyi ” … sejak awal tidak dimaksudkan sebagai UUD yang difinitip”, sungguh suatu ungkapan pelecehan & prasangka buruk terhadap founding fathers. Tega – teganya dan berani – beraninya melontarkan tuduhan tersebut sedangkan mereka itu bukan saja darahnya bahkan nyawanyapun rela untuk dipersembahkan bagi nusa dan bangsa. UUD 1945 itu hanya diselesaiakan dalam waktu kurang dari 3 bulan maka atas kesadaran keterbatasan itu, founding fathers pun mengamanatkan adany Perubahan (Bab XVI pasal 37)! Dan bandingkan dengan UUD Amandemen (UUD baru) yang butuh waktu 3 tahun yang dalam kondisi damai dan dengan fasilitas berlimpah ruah termasuk fulus, tapi apa yang dihasilkannya ?

Persatuan dan kesatuan bangsa raib; demokrasi hanya menjadi gincu, menciptakan raja – raja kecil dalam oligarki kekuasaan, dan ribuan triliun rupiah hanya dihabiskan untuk menggelar : Pilkada, Pileg, Pildewandarah, dan pildeperada. Sementara rakyatnya tetap saja miskin dan bodoh, sungguh suatu kemudlaratan!. Akibatnya kini menyulut syahwat – birahi untuk mereamandemen bahkan Presiden SBY setelah gagasannya membentuk “Komisi Konstitusi”, dengan enteng menyatakan bahwa : “Bentuk demokrasi dan UUD 1945 bukan kitab suci agama sehingga bisa diubah. Perubahan dimungkinkan untuk menjawabtan tangan dan permasalahan bangsa” (Kompas, 31 Agustus 2009, hal 2).

Hanya dengan keihklasan menghargai pengorbanan dan jasa – jasa BK (sekalipun dia tidak meminta itu) dan penghargaan termasuk kepada para founding fathers, para pejuang, para pahlawan dan para syuhada serta para pendahulu k ita, dengan mempersembahkan (pahala) bacaan Surat Alfatekah & ayat – ayat suci kepadanya disamping yang umum dilakukan untuk para nabi, para wali dst.Nampaknya akan mampu membuat suasana negeri ini dingin apa lagi mau dan mampu menghayati ajarannya yang telah diwasiatkan di dalam Supersemar itu dimana kemerdekaan hakiki dan hidup merdesa dapat dipastikan dapat terwujud.

Kemudian mari kita bertanya kepada diri kita masing – masing apa saja yang telah kita perbuat dan persembahkan kepada Bunda Pertiwi ini ? Bagaimana hanya sekedar ego saja belumlah mampu ?.
Bung Karno disamping menyandang julukan resmi sebagai Proklamator, Penggali Pancasila, Presiden RI I, beliau juga dijuluki sebagai humanis, orator, pelukis, seniman, arsitek, budayawan,penulis, filsuf, pembaharu, bapak bangsa bahkan futurolog, pemilik 26 gelar doctor dari berbagai universitas terkenal di dunia serta gelar2 lainnya yang dibunuh belasan kali tapi tetap saja malaekat pencabut nyawa enggan mendekatinya. Mestinya kita bersyukur keharibaan – NYA dan bangga pernah memiliki pemersatu bangsa bernama Koesno yang kemudian Soekarno yang lebih pas dengan sebutan BUNG KARNO! Sebagai seorang futurolog & filsuf banyak sekali memberikan pernyataan seperti peringatan Bung Karno, :”A nation in collapses” (satubangsa yang sedang ambruk), dimana krisis demi krisis sehingga mungkin nanti menjadilah krisis itu, satu krisis total, krisis mental”, telah menjadi suatu kenyataan pula. PM. GajahMada dan para pendahulu kita yakni parapejuang – para pahlawan dan para syuhada, kini sedang menangis sendu, hatinya tercabik – cabik, begitu sedih melihat anak cucunya hidup dengan penuh penderitaan bahkan terpaksa banyak yang bunuh diri karena beban hidup yang tak tertahankannya dan tanpa ada penerangan ataucahaya Illahi, serta leadership karena para elit penyelenggara Negara baik eksekutif, yudikatif dan legislatif tak lagi mau melaksanakan laku hidup Berpancasila dan melupakan perjuangan serta jasa – jasa mereka. Bukankah Bung Karno pada 1956 di hadapan sidang konstituante telah mengingatkan : “Dan mata hatiku melihat pula roh – roh pahlawan – pahlawan kita yang telah berkorban dan kini tak berbadan lagi.Dengan suara yang tiada bergema tapi sampai ke telinga hatiku, mereka berkata “Pengorbanan kami jangan disia – siakan ! Kami telah berkorban untuk persatuan bangsa, untuk kesatuan tanah air, untuk kedaulatan negara nasional yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945″.
Pada kesempatan lain BK pun telah mengingatkan bahwa : “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”!

TANGGAL 16 AGUSTUS 1945 MENJELANG DETIK -DETIK PROKLAMASIi :

LANGIT KOTA jAKARTA, penuh aura jiwa patriotisme dan hawa begitu asing (bisa jadi seperti sekarang ini?) karena pada pagi buta seusAi saur, kurang lebih lonceng menunjukkan angka 0400 para pemuda telah menyebar ke berbagai pelosok kota & pinggiran Jakarta guna mempersiapkan rakyat agar menyambut dentang “Proklamasi” sesuai jadwal (para pemuda) dan dengan pembagian tugasnya masing – masing.

Sebuah mobil membawa Chairul ke rumah Winoto Danuasmoro di jalan Pekalongan untuk meminjam mobil Fiat. Kemudian mengantarkan Muwardi ke kediaman Bung Karno guna melakukan tugasnya. Sukarni, Singgih danJusuf Kunto melanjutkan perjalanannya ke Oranye Boulevard (sekarang Jl. Diponegoro) rumah BungHatta.
Setibanya, Bung Hatta menyambutnya dengan nada marah : “Apa maksudmu ? “Sukarni menjawab : “Bung lekas – lekas bersiap keadaan sudah memuncak genting. Rakyat sudah tidak sabar lagi menunggu. Belanda & Jepang sudah bersiap – siap pula untuk menghadapi segala kemungkinan. Pemuda & rakyat tidak berani menanggung akibat apa yang akan terjadi jika Saudara masih tinggal di dalam kota”!.
Sebaliknya dr. Muwardi setelah sampai dikediaman Bung Karno digelayuti rasa takut sehingga begitu enggan untuk membangunkan Bung Karno karena menganggap jam – jam seperti itu Bung Karno sedang tidur nyenyak. Kemudian setibanya kembali Winoto Danuasmoro dan Chairul Saleh baru ia memiliki keberaniannya lagi.
Mereka tidak menyangka bahwa penghuni rumah, pada saat yang gawat itu sedang galau, terjadi perang batin atas persoalan cara menyatakan kemerdekaan bangsa dan mengenai prosedurnya. PPKI yang dipimpinSoekarno – Hatta oleh kalangan pemuda dianggap “bikinan Jepang”. Maka Bung Karno tak dapat tidur dan duduk sendirian di ruang makan sambil makan saur. Maka dini hari itu saat para pemuda tersebut datang lagi dengan mengendap – endap Bung Karno melihatnya. Para pemuda seraya menyandang pistol dan sebilah pisau panjang dengan mata membelalak berseru : “Berpakaianlah Bung …., sudah tiba saatnya”.Kegaduhan seketika terjadi dan kemudian Bung Karno masuk kamar menyampaikan kepada Bu Fat bahwa ia akan dibawanya ke luar kota. Fat ikut apa tinggal ? Tanya BungKarno. Fat sama Guntur ikut. Kemana Mas pergi di situ aku berada juga! Jawabnya.(sungguh mengharukan keselamatannya pun mereka pertaruhkannya).

Tak ayal, di luar sudah menunggu sebuah sedan Fiat hitam kecil dan ternyata Bung Hatta sudah ada di dalamnya. Mereka berempat duduk di belakang sementara Soekarni dan Winoto Danuasmoro bersama seorang supir duduk di depan, dan di pagi buta itu mobil meluncur ke arah timur. Sesampainya di Cipinang terpaksa mereka harus pindah mobil menggunakan truk Syodanco Singgih, karena susu bubuk bayinya Guntur tertinggal , maka Fiat tesebut kembali untuk mengambilnya. Dan Bung Karno – Bung Hatta diberikan pakaian seragam Peta untuk digunakannya. Truk segera meluncur dikawal oleh sepasukan Peta anak buah Singgih mengawal rombongan tersebut sampai di tempat tujuan.

Jam 0600 rombongan telah tiba di Rangasdengklok setelah berkali – kali melewati tempat pemberhentian dan menyeberangi sungai karena suasana yang dianggapnya tidak kondusif berhubung tentara Jepang senantiasa mengawasinya di manapun mereka berada.
Setelah rombongan singgah di rumah Camat, kemudian di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan , setelah mendapat sarapan pisang rebus kemudian pindah lagi kesurau dan pada jam 0810, Syodanco Singgih dari Daidan Jakarta memasuki asrama PETA (kediaman Cudanco Subeno kemudian berita “Jakarta sudah mulai” diteruskan pula kepada Syodanco Oemar Bahsan dan memintanya untuk menemui Sukarni dan dr. Sutipto Gondoamidjojo. Para tamu yang berada di Cudanco Subeno kemudian dipindahkan kesebuah rumah di luar pagar Cudan di sebelah utara yakni rumah Djiauw Sie Siong (versi Bu Fat) atau I Song (versi Oemar Bahsan) sekalipun halamannya dipenuhi kotoran babi toh dianggap yang paling layak di wilayah Rangasdengklok untuk mengadakan negosiasi. Pemilik rumah dilarang pergi dan harus merahasiakan atastamu – tamunya tersebut.(hingga saat ini rumah tsb. kondisinya sangat memperihatinkan dan akankah bernasib sama dengan Monumen Jenderal Soedirman di Pacitan itu ?).
Tak lama terjadilah perdebatan panas, Soekarni berkata : “Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi siang ini, … lalu …”.! “Lalu apa ?’, hardik BungKarno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala – nyala.Semua yang hadir terkejut, dan anehnya tidak seorang pun yang berani bergerak atau beranjak serta berbicara, wajah – wajah semua tertunduk dalam degub jantung yang menguras adrenalin.
Suasana tenang kembali setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; “Yang paling penting dalam peperangan & revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17!”.
“Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapatidak sekarang saja?, atau tanggal 16 ?” ,tanya Soekarni. “Saya orang yang percaya mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberikan harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka yang suci. Pertama – tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa. Ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besuk hari Jumat, hari Jumat itu Jumat Legi,Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al – Qor’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat. Karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia” !.

Demikianlahantara lain dialog dan perundingan antara Bung Karno dengan para pemuda di Rangasdengklok, saat itu. Setelah disepakati maka mereka makan masakan Mang Irun, Mang Erman, Bik Nari, Mang Ilyas dan lain sebagainya kemudian istirahat – tidur berpencar di tempat pilihannya masing – masing termasuk di dapur.
Sebaliknya di Jakarta pun tak kalah sibuk & menegangkan. Chairul Saleh pada 16 Agustus 1945 jam 09.00 mengadakan pertemuan antara Pemuda yang diwalili oleh Chairul Saleh dengan Peta. Daidan Jakarta diwakili oleh Latif Hendraningrat. Pembicaraan diadakan di Kebun Binatang Cikini yang letaknya berdampingan dengan Asrama Cikini 71. Mereka berdua mengadakan pembicaraan rahasia di restoran Kamar Bola. Sedangkan pemuda lainnya berpencar menjaga keamanan mengantisipasi bila Jepang tiba – tiba mengadakan penyerbuan. Chairul kemudian melakukan pertemuan dengan kelompok pemuda lain di Jl. Bogor Lama (sekarang Jl. Saharjo) di rumah Maruto Nitimihardjo. Sambil menanti datangnya kabar dari Rangasdengklok mereka pun mempersiapkan teks Proklamasi.

Hariitu pihak intel dan polisi Jepang telah mencium hilangnya Bung Karno – BungHatta apa lagi Laksamana Maeda yang sampai sebegitu jauh tetap memelihara hubugan dengan Soekarno menugaskan pembatunya Nishijima untuk mencari tahu dimana kedua pemimpin Indonesia itu berada. Akibatnya diadakanlah penangkapan – penangkapan terhadap Mr. Yamin dan Syarib Thayib.Mereka dianggap mengetahui golongan mana yang menangkap Bung Karno – Bung Hatta. Chairul lolos karena tidak ada di tempat dan ayah Bu Fat pun ikut dicomot Jepang dibawa ke Kempetai.
Subardjo dan Mbah Diro menghubungi Chairul Saleh dan Wikana untuk saling berkerja sama,tawaran tersebut tentu diterimanya. Maka Subardjo dengan Mbah Diro diputuskan dengan diantar oleh Jusuf Kunto untuk menjemput Bung Karno – Bung Hatta ke Rangasdengklok. Kuatir usaha Mr. Subardjo akan menggagalkan rencana “pimpinan van aksi” dan bisa membawa Soekarno – Hatta pada suatu kompromi dengan Jepang dalam bentuk mengintrusksikan kemerdekaan hadiah, maka Wikana segera memerintahkan anak buahnya untuk mencegat mereka di jalan yang menjadi pintu keluar masuk Jakarta.Ternyata tindakan itu sudah terlambat, namun toh malam harinya di ulangnya lagi. Ditentukan agar Mr. Subardjo dkk. sekembali dari Rangasdengklok, bersama maupun tidak bersama Soekarno – Hatta, segera datang ke salah satu markas pimpinan van aksi. Akan tetapi ternyata Wikana menunggunya dengan sia – sia, karena tugas tidak terlaksana sebagaimana yang mereka harapkan.

Kembali situasi di Rangasdengklok, pada jam 1700tiba – tiba muncullah Sukardjo, Sucokan (Residen) dengan berpakaian Jawa datang dari Jakarta kemudian disusul pula oleh Soebardjo yang diberi tugas untuk menyusul Bung Karno – Bung Hatta. Petang itupula diputuskan pulang ke Jakarta dan Soekarni senantiasa gelisah apa lagi melihat api berkobar – kobar di depan seraya mengatakan bahwa di Jakarta pemuda – pemuda sudah mulai berontak.Kata Sukarni berkali – kali! Sebaliknya Bung Karno dan Bung Hatta tak sedikitpun percaya bahwa api itu tanda pemberontakan. Maka diputuskan untuk didekati saja dan ternyata keyakinan Dwitunggal benar adanya karena yang ada api tersebut hanyalah dari nyala pembakaran jerami saja. Dan kemudian semuanya tertawa. Bung Karno nyelethuk : “Itulah revolusi di Jakarta. Hai pemuda – pemudamu yang berevolusi itu ?.

Itulah gurauan Bung Karno kepada Soekarni. Tepat 16 Agustus 1945 jam 20.00 rombongan tiba di rumah Bung Hatta. Tak lama kemudian Bung Karno dengan Bung Hatta segera menuju ke kediaman Laksamana Muda Maeda Tadhasi guna memimpin rapat. Sementara Fatmawati dan Guntur kembali ke rumahnya di Pegangsaan Timur No. 56 dan disana telah menunggu S. K. Tri Murti dan Sayuti Melik serta beberapa pemuda. Orang tua Bu Fat ternyata tidak di rumah karena sepeninggal Bung Karno ia ditahan oleh Kempetai.
Sebelumrombongan tiba dari Rangasdengklok ternyata berbagai kelompok telah mengetahuibila Bung Karno dengan Bung Hatta akan kembali ke Jakarta, dan orang – orang yang dekat dengan Kaigun (Angkatan Laut) pun sudah dikerahkan untuk menyambut kedatangan rombongan tersebut di rumah Lakda Maeda (karena bila di tempat lain pasti akan digagalkan oleh serdadu Jepang sementara di kediaman Maeda memiliki status “hakekstra territorial”. Nampak BM. Diah dari harian Asia Raya, Sayuti Melik yang belum lama keluar dari bui & Iwa Kusuma Sumantri, sudah siap menanti kedatangan Bung Karno – Bung Hatta di ruang depan.
BulanPuasa tak sedekitpun mengurangi gerak dan langkah perjuangan mereka dan itulah esensi ibadah dan bakti sucinya terhadap Ibu Pertiwinya itu yang begitu mulya.

H. 17 AGUSTUS 1945, DETIK – DETIK PROKLAMASI

MalamJumat Legi, 8 Ramadhan 1364 H atau 9 Poso 1876 SJ, setelah masing–masing mengambil tempat dan melepaskan lelah sejenak, Soekarni danChairul Saleh berangkat ke Manggarai menjumpai Syahrir, Maruto, Pandu,Adam Malik,Kusnaeni, Jawoto, dll. Setelah Soekarni memberikan laporanperjalanannya ke dan dari Rangasdengklok, maka diputuskan bahwa yangakan menandatangani Proklamasiialah enam orang pemuda. Mereka adalahSukarni,Chairul Saleh, Adam Malik, Maruto Nitomihardjo, PanduKartawiguna dan Jawoto. Soekarni dan Chairul Saleh diwjibkanmenghadiri rapat yang segera akan diadakan di kediaman Laksamana Maeda.

Taklama mereka semua berangkat ketempat rapat menuju Jl. Nassau Boulevard(sekarang Jl. Iman Bonjol No. 1) dengan maksud menyaksikanpenandatangan Proklamasi. Jepang yang hadir selain Laksamana Maeda,ialah Nishi Sima, Saitodan Miyosi. Seorang lagi belum datang. Maka apabila sampai jam 2300 Yamamoto (Gunseikan) yang ditunggu –tunggu belumjuga tiba, maka Maeda akan mulai membuka perundingan. Maeda sangatberjasa karena elit Jepang, Gunseikan Yamamoto lewat telepon menolakuntuk menerima Soekarno, Hatta dan Maeda. Demikian pula Nishimuramenolak memberi persetujuan resmi terhadap setiap tindakan bebasIndonesia, tetapi akhirnya memberi kesempatan bahwa Proklamasi mungkindapat dilakukan tanpa sepengetahuannya.Akhirnya Laksamana Maeda,membuka rapat dan mengemukakan, bahwa dia mengerti dan setuju denganhasrat pemuda,yakni Indonesia Merdeka. Cuma dia menyesali atasterjadinya perpecahan antara golongan tua dengan golongan muda.

Hatta,mengemukakan, bahwa pernyataan kemerdekaan pada malam hari itu tidakbisa dihalang – halangi lagi. Hanya dia berharap supaya bahayapertempuran secara besar – besaran antara Jepang dan rakyat/PemudaIndonesia dapat dihindarkan. Dikemukakan pula, kalau golongan tua tidakmengakui kehendak pemuda, maka mereka pun (golongan tua) akan terancambahaya. Hatta menganjurkan untuk mecari jalan yang terbaik.

SementaraSoekarno memperkuat pandangan Hatta – Subardjo dengan mengatakan bahwa: “Kalau sampai lewat jam 1200 malamini belum ada keputusan, makagerakan pertama barang kali akan dilakukan oleh Pemuda. Pihak Jepangjuga sudah banyak yang ditawan, kami pun dalam bahaya”.

Setelahperundingan selesai, maka Bung Karno berangkat katanya hendak menjumpaiYamamoto yang ingin berbicara dengannya dan Bung Karno berjanji akanmengumumkan Proklamasi dan mengumpulkan para pemimpin.

Hadirdalam rapat tersebut antara lain ialah : Mr. Subardjo, M. Sutardjo,Teuku Moh. Hasan, Mr. Latuharhary, Dr.Radjiman Wediodiningrat, Dr. M.Amir, Mr. Dr. Supomo, Dr. G.S.J.J. Ratulangi, I.Gusti Ketut Puja, R.Otto Iskandar Dinata, Andi Sultan Daeng Raja, M. A. Abbas, AndiPangeran, Supeno, Gunadi, Semaun Bakri, Sayuti Melik, B. M. Diah, JusufKunto, Chairul Saleh, Soekarni, Dr. Samsi, Dr. Buntaran, Mr. Iwa KusumaSumantri, Kamidan, A. R. Rivai. Semua 26 orang, sedang 4 orang Jepangyang semula hadir telah meninggalkan tempat. Sekembali Bung Karno,sekitar pukul 01.30 dini hari mereka mulai membicarakan susunan kata –kata Proklamasi dancara – caranya. Sukarno – Hatta mengusulkan agarProklamasi dibacakan besuk siang hari, tanggal 17 yang ditandatanganidan diumumkan di muka Anggota Panitya Persiapan Kemerdekaan yang ada.Praktis usul tersebut ditolak mentah – mentah oleh Soekarni dan ChairulSaleh. Mereka menolak keras karena membawa – bawa nama PPKI. KemudianSoekarni membacakan draf Proklamasi yang telah dipersiapkan olehkelompok Pemuda yakni : “Bahwa dengan ini rakyat Indonesia menyatakankemerdekaannya. Segala badan – badan Pemerintah yang ada harus direbutoleh rakyat dari orang – orang asing yang masih mempertahankannya”.

Sebaliknyaisi tek tersebut tidak memuaskan Soekarno – Hatta, karena tidak inginJepang menghantam rakyat Indonesia habis – habisan. Dan perdebatan punmemuncak tak ada ujung pangkal. Akhirnya diambillah jalan tengah danSayuti Melik mengetik (dengan mesin ketik pinjaman dari kedutaanJerman) naskah yang ditulis oleh Bung Karno tersebut yang berbunyi :”Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indoenesia.Hal– hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain – laindiselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat –singkatnya”.

Setelah persoalan naskah Proklamasi selesai,kemudian muncul persoalan baru tentang siapakah yang harusmenandatanganinya. Apakah semua yang hadir seperti Declaration ofIndependencenya Amerika Serikat ?. Toh dengan lantangnya Chairul Salehsegera berdiri dan mengatakan : “Kami golongan pemuda tidak sudimenandatangani naskah ini dengan orang – orang Jepang itu”(yangdimaksudkan adalah anggota PPKI). Dan ngotot mengusulkan enam orangyang telah dibicarakan di Manggarai sebelumnya.

Sebaliknya padasaat itu Soekarni tidak menyetujui usul karibnya tersebut walaupuntelah mereka setujui s ebelumnya, dan ia bahkan mengusulkan bahwa cukupuntuk ditanda – tangani oleh “SOEKARNO – HATTA” saja, sebagai wakilbangsa Indonesia. Usul tersebut akhirnya disetujui bersama.

Dalamruang besar tersebut, jam 0400 itu Bung Karno didampingi Bung Hattamemberikan sambutan. Bung Karno mengemukakan alasan mengapa pertemuanluar biasa ini dilangsungkan pada larut malam, tentang keadaan mendesakyang telah memaksa semua untuk mempercepat pelaksanaan ProkamasiKemerdekaan. Kemudian Bung Karno dengan pelan dan tenang membacakan isiteks Proklamasi itu.

Tak ayal seusainya pembacaan tersebut kiniganti Soekarni yang mengkritiknya bahwa isi teks itu begitu lembek,terlepas dari semangat revolusioner, namun golongan tua tetap padapendiriannya dan keamanan rakyat yang harus diutamakannya. Akhirnyateks tersebut ditandatangani dan diperbanyak untuk disebar luaskan saatitu juga keberbagai penjuru kota.

Maka atas “berkat danrahmat TUHAN”, pada 17 Agustus 1945 yang dalam kalender Jawa jatuh padaJumat – Legi, tanggal 9 Pasa 1876 SJ atau 8 Ramadhan 1364 H, BungKarno dengan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkankemerdekaannya. Gentha – Lonceng Naviri Kemerdekaan bertalu – talumenggema, membahana melalui lorong – lorongl angit di seluruh persadaNusantara ini, suasana keramat menjalari ke sekujur tubuh para pesertadeklarasi tersebut.

PIDATO PROKLAMASI :

Saudara – Saudara sekalian !

Sayatelah minta Saudara – Saudara hadir di sini untuk menyaksikansuatuperistiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh – puluh tahunkitabangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita.Bahkan telahberatus – ratus tahun.

Gelombang aksi kita untukmencapai kemerdekaan kita itu ada naiknyaada turunnya, tetapi jiwa kitatetap menuju ke arah cita – cita. Juga di dalamjaman Jepang ini,tampaknya saja kita menyadari kemerdekaan nasional tidak berhenti –henti.

Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkandiri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenagakita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan kita sendiri.

Sekarangtibalah saatnya kita benar – benar mengambil nasib bangsadan nasibtanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang beranimengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengankuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah denganpemuka – pemuka rakyat Indonesia, dari seluruh Indonesia.Permusyawaratan itu seiya – sekata berpendapat , bahwa sekaranglahdatang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara – Saudara ! Dengan ini kami nyatakan kebulatan tekad itu.Dengar kanlah Proklamasi kami :

PROKLAMASI

Kamibangsa Indonesia denganini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal – halyang mengenai pemindahankekuasaan dan lain – lain diselenggarakandengan cara yang seksama dan dalamtempo yang sesingkat – singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus ’05 (note: 2605 Kalender Jepang atau 1945 Masehi)

Atas nama Bangsa Indonesia

SOEKARNO – HATTA

Demikianlah Saudara – saudara!

Kita sekarang telah merdeka!

Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsaini!

Mulai saat ini kita menyusun Negara kita ! Negara Merdeka, NegaraRepublik Indonesia, merdeka kekal – abadi.

Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.

Gunamengetahui suasana yang maha mengharukan tersebut kiranya dapat disimakpenuturan Bu Fatmawati disamping sebagai isteri Bung Karno, beliau jugasebagai pelaku sejarah yang juga telah lama menyiapkan Bendera PusakaMerah Putih, sejak Guntur masih dalam kandungannya. Bu Fat melukiskanbahwa : “Berdiri di beranda rumah Pegangsaan Timur 56, di pagi hari 17Agustus , sesudah mengalami peristiwa – peristiwa hari – harisebelumnya, dan matahari pagi sedang meninggi, terasalah suatuketegangan yang akan meledak. Apakah itu saat – saat lahirnya kejadian–kejadian besar dalam sejarah ? Pada saat– saat itu terasa orang –orang tidak berdiri sendiri. Kita diliputi oleh suatu suana ghoib yangmengikat kita semua.Bila aku diminta untuk melukiskan kejadian –kejadian pagi itu sampai terperinci aku jelas tidak mampu “……

“Bagian–bagian kalimatnya aku ingat, terutama nadanya yang sangat bersemangattanpa teks dan merupakan pidato terpendek yang pernah diucapkan BungKarno. Tapi marilah kita kembali kepada urutan peristiwa pagi berhikmahitu. Pak Latif Hendraningrat menjadi Komandan Upacara. Bung Karnokeluar menuju corong, Bung Hatta disampingnya sedikit ke belakang(mikropon yang bersejarah ini menurut keterangan Pak Sudiro adalahmilik Saudara Gunawan yang beralamat di Salemba Tengah 24, dipinjamoleh Pak Wilopo & Pak Nyonoprawoto).

Mula – mula Bapakmengucapkan pidato di hadapan massa, yang menurut penafsiranku kuranglebih 300 orang. Pidato Bung Karno saat itu lebih berapi – api daripidato – pidato hari – hari sebelumnya, dan atau hari – hari sesudahnya.

Setelahselesai memberikan pidatonya, mulailah Bung Karno membacakan TeksProklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Aku melihat beberapa orangmengucurkan air mata, gembira bercampur haru. Nampak olehku Pak Suwiryoterisak– isak, demikian juga aku sendiri. Saat itu aku melihat banyaklelaki yang mengucurkam air mata. Aku lihat Bung Karno dan Bung Hattabersalaman, sementaraitu Pak Latif Hendraningrat mempersiapkan upacarapengibaran Sang Saka Merah Putih.

Aku bersama – sama dengan S. K.Trimurti menuju tiang bendera. Upacara Bendera dipimpin oleh Pak LatifHendraningrat, dengan diiringi lagu Indonesia Raya, tanpa musik.

Semuanyabegitu tertib & khusuk. Seusai upacara dilanjutkan dengan resepsidengan makanan kecil yang telah disiapkan oleh Bu Fat”.

Selangbeberapa saat setelah gema Proklamasi berkumandang datanglah duaperwira Jepang menemui Bung Karno, untung tak terjadi apa – apa.

Sebaliknyatidak demikian halnya dengan nasib Chairul Saleh dan Sukarni, setelahmengikuti pendeklarasian Proklamasi Kemerdekaan, ke duanya diajak olehNishishima ke Kebon Sirih No. 70 Asrama Kaigun, katanya untukberistirahat. Akan tetapi kenyataannya mereka dipancing ke sana untuksegera ditahan. Soekarni yang selama ini bertindak atas Pemuda Jakarta,ketika hendak keluar, oleh Jepang diancam dengan pistol. Namun usahaChairul Saleh untuk keluar berhasil. Dia bisa mendapatkan mobilKomandan,kemudian segera menjemput Soekarni & bersama – samaberangkat ke tempat persembunyiannya.

PERUNDINGAN KEPU

Parapemuda melanjutkan aksinya dengan mengadakan rapat di Kepu SelatanKemayoran di kantin Kantor Berita Antara, rumah Jawoto, jam 1700.Sementara menunggu yang lain para pemuda sibuk memperbanyak naskahProklamasi. Bak’da Magrib berkumpullah Jawoto, Kusnaeni,MarutoNitimihardjo, Wikana, Chairul Saleh, Soekarni dan Pandu KartaWiguna.Sementara Syahrir hanya mewakilkannya, ia tidak bisa datang.

Pembahasanmengarah pada tindakan apa yang harus dilakukan setelah Proklamasi.Mereka bertekad untuk menggerakkan aksi massa, mengambil alihkekuasaan dan merampas pesenjataan Jepang. Maunya merebut karena tidaktercantum di dalam teks Proklamasi, adanya hanyalah pemindahankekuasaan. Terjadilah ketegangan ketika Pandu menghunus keris sambilteriak : “Kenapa rakyat tidak bergerak ? Kenapa ?. Maruto mencobamenenangkannya dan Pandu pun dapat menahan emosinya. Akhirnya rapatmemutuskan guna mendirikan markas yang idial yakni di J l. Prapatan Xsebagi tempat basis mahasiswa yang sudah terlatih.

Chairul Salehmenyatukan berbagai elemen aksi Pemuda yang sudah bergerak baik dizaman Belanda maupun Jepangs eperti Gerindo, Suryowirawan, GPII, Perda(Pemuda Rakyat Jakarta), Pertimu (Persatuan Timur Muda), Lasykar PAI(Partai Arab Indonesia) dan lain sebagainya.

AngkatanPemuda Indonesia (API) segera dibentuk dengan markasnya di Menteng 31dengan agenda : Memperteguh Negara Kesatuan Republik Indonesiaberdasarkan kedaulatan rakyat, dengan memperjuangkan masyarakat yangadil dan makmur.

Mereka memilih Wikana sebagai Ketua denganChairul Saleh. D.N. Aidit, Darwis, A. M. Hanafi, Kusnandar, JoharNur,Chalid Rasyidi sebagai anggota pimpinan. Bersama dengan API, diSemarang didirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di bawahpimpinan pemuda – pemuda Ibnu Parna, Bambang Suprapto, S. Karna,Rochyati, Sutiah dan Marthadi. Di Yogyakarta didirikan Pemuda PeloporNasional (PPN) yang tak lama kemudian namanya diganti dengan Gerpri,yaitu Gerakan Pemuda Republik Indonesia di bawah pimpinan SW. Lagiono,Mantoro Tirtonegoro, Hudoyo dan Asrar. Di Surabaya juga berdiri PRI(Pemuda Republik Indonesia) di bawah Sumarsono, B. Kaslan, RuslanWijayasastra. Tak ketinggalan di Bandung dan Cirebon.

Dalamsekejab lahirlah dimana –mana tentara revolusi yang tak terbilangbanyaknya, dimana saja dijumpai bangsa Indonesia disitu hiduplahsemangat dan roh kemerdekaan yang menyala – nyala. Jika dalam keadaanbiasa Jakarta diliputi oleh suasana tenteram, maka pada saat proklamasisemuanya menjadi berubah. Para pemimpin dianggapnya tak pernahmemperhitungkan kekuatan tentara rakyat yang lahir dari rahimnyarevolusi. Jangan sekali – kalai meninggalkan sejarah!

NAH BAGAIMANA SITUASI SAAT INI ? KITA AKAN MELIHAT PARA ANGGOTA DEWAN BAIK DPR MAUPUN DPD YANG MENGKLAIM DIRINYA PARA SENATOR ITU SELURUHNYA BERPAKAIAN JAS YANG TRENDI DISAKUNYA 3 HP BLACKBERRY DENGAN BAU HARUM SEMERBAK. DEMIKIAN PULA PARA PEREMPUAN TERMASUK POLIBRITIS SAMBIL MANGGUT – MANGGUT MENYIMAK PIDATO KEPALA NEGARA PRESIDEN SBY DALAM SIDANG PARIPURNA GABUNGAN SIANG INI! SEMENTARA DI LUAR SUASANA DAN KEJADIAN APA AKAN DILAPORKAN OLEH PEMILIK STASIUN TV YANG GEBYAR – GEBYAR INI//DIRGAHAYU NEGERIKU, WAHAI BUNDA PERTIWIKU HAPUSLAH AIRMATAMU, PERCAYALAH MASIH BANYAK ANAK – ANAKMU YANG MEMPEDULIKANMU BUNDA, IJINKANLAH ANAKMU MEMBASUH KAKIMU DAN MENGAHPUS AIR MATAMU DENGAN KAIN MERAH PUTIH YANG KUSIMPAN SELAMA – LAMANYA INI!KUMOHON BUNDA JANGAN JATUHKAN UCAPANMU BAHWA KAMI DURHAKA TERHADAPMU BUNDA —- JANGAN YA BUNDA KARENA ANAK – ANAKMUA AKAN SEMAKIN TAK TAHAN MENJALANI HIDUP & KEHIDUPAN INI, LALU SIAPA NANTI YANG AKAN MERAIKAN RUMAH INI BUNDA? APAKAH SUARA TAWA RENYAH DI TENGAH LENGKINGAN SUARA CUCU -CUCUMU YANGSEDANG BERMAIN DAN BERCANDA INI KAU BIARKAN SUNYI – SENYAP TANPA KEHADIRANNYA ? SUNGKEMKU BUNDA!

Klik kontak penulis :

http://www.facebook.com/notes/sriwidada-putu-gedhe-wijaya/renungan-viii-agustusan-mari-jadikan-diri-kita-sebagai-proklamatoris-serie-viii/139810756056232#!/profile.php?id=1307165863

Posted in Lelakon | 1 Komentar

Satu Tujuh Delapan Empat Lima.

Aku di Jakarta disebut Gue atau Gua , maka Gue tahu kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia  , dilaksanakan pada Satu Tujuh Delapan Empat Lima [ 17 - Agustus - 1945 ] tidak ada angka enol didalam catatan kalender itu selain tulisan ” Merdeka ataoe Mati “, mungkin karena ini jadi  ada ide atau usaha untuk membuang sebagian  e nol dari belakang angka angka , Si tho mendengar celoteh  engkong Muin  juragan sumur bor … tiba tiba  Si tho manggil dua remaja berseragam abu abu dan putih  ” dik sini sebentar om mau tanya..?

“Ada apa om , sereius amat nih ” kedua pelajar SMU itu mendekati Si tho yang lagi ngopi diwarteg mpok Mileh , Si tho menyodorkan uang sepuluh ribu kepada keduanya  “  Dik …. seandainya angka enol yang ditulis dalam semua buku yang berada dalam tas itu dihapus dua atau tiga cukupkah uang sepuluh ribu ini ” kata si tho menunjuk tas sekolah mereka.

” Busyet … dah  gile bener  ide  si Om ini , om biar  kate  buku  ni dapetnye loakan harga nggak seberape  tapi  kalo  cuma  seratus  ribu nggak cukup buat beli stipo ngapus enolnye …. gile..lu “  kedua pelajar itupun lari meninggalkan  Si tho yang dianggap Gile lu.

Ha ha  ha  ha …… ” Engkong Muin ngetawain Si tho , udah pasi lu di bilangin gile.

” Udah tho,  anak anak aje padha nggak redha  , apalagi orang se Indonesia … busyet dah berapa biaya ngapusin enol  nyang ada pada mereka……” , kata enkong Muin.

” Wah engkong ini bonar bonar pintar ngambil  sample , iya saya jadi ingat waktu dulu engkong ke Medinah naik kapal harga secangkir kopi disana sereyal … empat puluh taon kemudian kita kesana naik pesawat harga secangkir kopi tetep  sereyal  juga “, Sitho geleng geleng kepala sambil membaca  tulisan halaman koran Indonesia Baru “  Rencana redenominasi alias pengurangan nominal rupiah . Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menolak keras rencana redenominasi rupiah karena dinilai akan menyulitkan transaksi di pasar tradisional yang berbasis tawar menawar.
“Jelas, kita menolak dengan keras rencana itu karena akan menyulitkan,” kata Sekjen APPSI Ngadiran saat dihubungi detikFinance, Rabu (4/8).

Masalah nominal Si tho tiba tiba teringat angka Satu Tujuh Delapan yang dipakai sebagai tanggal bulan hari proklamasi kemerdekaan , ya semua orang tidak hanya ingat tapi bahkan hapal luar kepala kapan proklamasi Indonesia di kumandangkan.

Engkong Muin  heran melihat wajah  Si tho yang tiba – tiba tegang ” Alaaa ngapain dipikirin juga …. percuma lu mikirin itu  tho …. biarin yang di Senayan yang nanggung Resiko ” kata engkong sambil nyemburin asap rokok herbalnya.

” Jii , saya bukan mikirin Redenominasi  , saya cuma …. gemetar ngeliat angka hari kemerdekaan ini , satu tujuh delapan empat lima……..” kata Si tho terbata-bata.

” emang kenapa tu angka kalender tho ….?

” Engkong haji Muin yang baik hati …… , ingat waktu kita ngaji dulu …. kata Si tho sambil membuka lembaran koran pagi .

Satu tujuh delapan itu angka keramat yang banyak berada dalam kitab suci ,  nah satu contoh  QS al Hijr 87 :

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang ulang dan al Qur’an yang Agung.

Ayat al Hijr 87 ini kan bagian dari ayat alam semesta , yang juga memiliki berjuta makna, sesuai dengan kejadian alam maka negri ini bakal mengalami peristiwa yang berulang ulang , gempa bumi berulang , banjir berulang tiap hujan berulang banjir padahal negri tadah hujan , mati lampu berulang nah dulu uang kita juga pernah dipotong sekarang mau digulung apa ya ,ini semua akibat dari orang beragama tapi tak menggunakan agama dalam mengatur hidupnya  , kok pada lupa kalo bisanya nyebut tujuh ayat berulang itu dengan oxigen yang gratis … coba kalo bernafas pagi memakai oxigen dari rumah sakit yang seliter sampe ratusan ribu………… apa sanggup berbuat macem macem sehari saja.

Satu tujuh delapan ….. [2],

QS Al Kahfi 22 :

22. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya.” Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.

Nah itu baru sebagian ….. kata  Sitho pada  engkong Haji Muin temennya …….

Tujuh pemuda ditambah satu ekor anjing = delapan …………. [ satu anjing tujuh pemuda ], ini keadaan nyata bahwa ayat ini harus diterima lapang dada dari segi pandang apa saja , namun Sitho justru berpegang bahwa ayat ini yang membaca situasi dan kondisi satu kaum ketika ayat dibacakan ….nah  demikian juga ketika ayat ini dibaca maka terungkaplah berbagai peristiwa  yang ada … jika angka itu adalah formula mari kita coba berhitung dengannya

Jika seorang pemuda membeli speda motornya seharga  Rp 100 juta maka jika yang membeli itu tujuh pemuda  harga motor sama dengan 1 bh mobil  [ 7 speda motor 1 mobil ]  nah mana anjingnya ……….. simak saja surat pembaca  detik.com 5/08/10  : Mobil Plat Merah ngangkut Anjing. Bukankah kendaraan plat merah adalah kendaraan dinas. Biaya dari pajak. Kok diperbolehkan membawa anjing peliharaan. Ratusan juta rakyat yang membayar pajak saja belum pernah merasakan duduk di dalam kursi kendaraan yang dibiayainya.

Apakah mesti rakyat kembali narik tentara dari barak , untuk mengganti pejabat yang slengehan  menggunakan mobil rakyat untuk Angon Anjing .

Si tho tiba tiba ingat Yogyakarta … seandainya pemimpin negri ini memiliki jiwa kepemimpinan seperti   11 azas pemimpin  yang pernah dikatakan Panglima Besar Jenderal Sudirman   …. alangkah indahnya negri ini , sebelas azas itu seingatnya adalah ;

1.Taqwa,  2.Ing Ngarsa Sung Tulada, 3.Ing Madya Mangun Karsa, 4.Tut Wuri Handayani, 5.Waspada Purba Wisesa , 6.Ambeg Parama Arta, 7.Prasaja, 8.Satya, 9.Gemi Nastiti, 10.Belaka, 11. Legawa.

Delapan Butiran

Dari bermilyar butir tugas kebaikan pondok Pasuryan mengutip adanya 8 butir kewajiban manusia dari tuhannya :

1. Menjalankan Keadilan ( QS. Al-Araaf 29 ).

2. Menjalankan Niaga dan Persahabatan dengan benar .(QS.Ibrahim 31 )

3. Mengedepan kan kesadaran / sadar dirimengingat Allah ( QS.Al ‘Ankabuut 45 ).

4. Bersedekah dan tidak takut miskin karena Ibadah ( QS Mujaadilah 13 )

5. Menolak kejahatan dengan kebaikan, ( QS Ar-Raad 22 )

6. Mengetahui guna Akal ,dapat menerima pelajaran.( QS. Az-Zumar 09 ) .

7. Mengerti beriman , Ruku’ , sujudlah ( QS al Hajj 77 ).

8. Mengerti memBaca apa yang telah diwahyukan kepadamu.( QS.Al ‘Ankabuut 45 ).

Yaaah namanya juga mengutip butir…. maka berserakan ada dimuka bumi ini ….bagaimana posisi kita manusia dalam menyikapi kewajiban itu………terserah anda.

akan ada  lagi……………….

Posted in pitutur | Tinggalkan komentar

Budaya Tauhid Sang Prabu.

Dalam khasanah Ilmu Tauhid  dapat dikenali  adanya 4 azas tauhid  [ dzat , sifat , asma dan af'al ] , merupakan  sebuah kajian tua yang masih dapat dijumpai dalam kitab kuning  Tauhid .

Sambil melepaskan lelah di Plaosan sahabat sitho mendendangkan sebuah syair  Sang Prabu Jaya baya , dalam hati Si tho menterjemahkan tembang indah yang didengarnya :

Sak durunge benihe Ingsoen kuwi ono   ,

[ sebelum dazt itu ada ]

Gusti kang luweh disek nggawe ukom kanggone Ingsoen,

[ Dia lebih dulu menetapkan sesuatu padaku ]

bandjor sukmo kang iseh durong ono isine ing bumi sutji.

[ sebelum ruh itu berada dalam jasad [bumi ]

Ketjobo kang luweh disek teko, asmone,

[ kecuali namaku yang mengawalinya  ada ]

Ingsoen ing bumi sutji, ora ono Gusti ketjobo Ingsoen.

[ Pada alam suci tiada yang Tuhan  selain Aku ]

Lan benihe Ingsoen kang moho sutji,

[ dan ruhku yang Maha Suci ]

kang ditjiptakake Gusti, ndadegake sipate Ingsoen sutji,

[ yang diciptakan-Nya menjadi sifat suciku ]

ono ing asmone Ingsoen.

[ pada nama ku ].

Ingsoen benih kang moho sutji, kang biso nggawe sak widjine kedadian,

[ padaku asal  ruh yang suci , yang dapat membuat segala awal kejadian ]

ugo Ingsoen biso ngentekake opo kang dadi kekarepane Ingsoen.

[ juga hanya aku yang dapat menjadikan kemauanku]

Awet Ingsoen nduweni kasempurnan kang manggon ono ing ragane Ingsoen,

[ Karena aku senyempurnanya  ruh dalam jasad ]

kang diparengake Gusti. Lan iki tondo, kang kasunyatan marang asal – usule Ingsoen.

[Anugerah  yang telah Dia berikan ,  menjadikan  jelas asal usulku ]

Luweh, luweh Ingsoen iki rasane manungso kang ditjiptakake Gusti,

[ kelebihan padaku menjadi rasa hidup manusia yang Dia ciptaankan]

tekane soko: (1. Lemah.) ( 2. Geni.) ( 3. Banyu.) ( 4. Angin.)

[ berawal dari anasir Tanah , Api , Air dan Angin]

Bandjor teko rasane Ingsoen kang lima jo kuwi

[ kemudian dari rahsa itu meliputi adanya  lima hal ]

: ( l. Tjahyo.) ( 2. Roso.) (3. Sukmo.) (4. Angkoro murko.) ( 5. Budi.)

[ cahaya , rasa , sukmo ,nafsu dan perbuatan ]

semono, ugo budi kuwi tali rupane Ingsoen,

[ demikian juga adanya perbuatan itu terwujud oleh-Ku]

kang moho sutji, tan keno, reget kanggo sak lawase.

[ Yang Maha Suci itu senantiasa terjaga kesuciannya selamanya ]

Wejangan yang tertuang dalam syair tembang yang sangat indah , menjadi sebuah budaya yang langka dan nyaris tak tersentuh oleh pengetahuan modern yang justru lebih senang mendedangkan logika yang ada dalam perhitungan dan lembaran prediksi ramalan yang dibarengi data ilmiah.

Wejangan yang berisi rumus cipta membedah anatomi kejadian alam semesta dan mahluk serta manusia  tergantung siapa yang menafsirkannya.

Sitho menyadari ada yang cenderung menafsirkan dengan cara mistisnya [niru ]  Gatoloco  dan ada yang sesuka hatinya saja mendendangkan dan mengelar maknanya….. sumonggo terserah saja pada mereka.

Si tho ..atau si thok  itu  …siji..alias  Ahad atau Setunggal , maka pendekatan bahasa Si tho adalah bahasa Ibu [ bhs. Ngawi ] yang menjadi cikal bakalnya ” Sastro Cetho”   maka hasilnya wejangan sang Prabu Djayabaya adalah berisi Kuliah Tauhid yang Agung dan dalam maknanya.

Si tho jadi ingat sama saudara kembar Coblomo dan Comedit [ akan di blog ] , Coblomo adalah pemuda yang  berahlak sopan santun dan dermawan  yang selalu saja dibayangi oleh adik kesayangannya Comedit  pemuda gagah lugu bahkan slengekan , Coblomo karena loma atau sikap yang royal suka memberi derma  justru dianggap markus oleh adiknya yang kritis dalam memperhitungkan sesuatu sebab akibat dari perbuatan , padahal Coblomo tidak peduli dengan imbalan perbuatan baiknya yg penting dia dapat berbuat itu saja cukup … Coblomo bahkan sempat menggadaikan sepeda untuk ongkos tetangga yang mau magang jadi pegawai negri ……..  oleh adik Comedit justru dicap sebagai penyuapan terhadap calon pejabat …..apa kata Coblomo …. ” [ cahaya , rasa , sukmo ,nafsu dan perbuatan ] itu semua adalah hijab yang harus disingkirkan , Coblomo menasehati adiknya Comedit ,

Cahya : Cahya kito ini hanyalah bias yang sampai  maka   suar nama besar ,kemashuran dan kesohor itu tidak berguna jika Cahyo itu berangkat dari Roso yang tumbuh dalam diri mu , karena rasa yang menjadi  Penguasa dalam dirimu itu akan mempengaruhi sukmo ..ya jiwamu sendiri. Jiwa atau sukmamu akan terpuruk dalam kemegahan dan kelezatan roso kang tuwuh  - tumbuh didalam hidupmu  itu semua adalah cahyanya nafsu yang menjadikan kiblat papat bagi perbuatanmu.

Gusti Yang Maha Suci tidak akan memandang adanya cahya, rasa ,sukma dan perbuatanmu  yang demikian indah mempesona bahkan dijadikan idola para pemburu pahala ….. semua itu kalis muspra sia sia  dan akan menjadikan penghalang untuk mencapai hidupmu yang sebenarnya … adik Comedit.

Terima kasih , puja dan puji sukur kepada Dia Yang Maha Kuasa yang telah memberi karunia yang melimpah ruah ke Bumi Nusantara sehingga tumbuh  Jiwa luhur yang semerbak wangi tak pernah luntur.

Maha Benarlah Allloh swt yang telah mengingatkan bahwa “akan ada utusan [rosul] diantaramu” , dan Allloh telah pula mengutus Prabu Djayabaya untuk menjadi panutan melaksanakan ajaran Manunggal atau Tauhid  bagi bangsa Nusantara .

Karna ke Arifan sang Prabu …… banyak rohaniawan dunia berdatangan ke Nusantara , ada yang datang khusus menjumpai dan belajar  , ada juga yang datang sambil berniaga dan ada juga yang datang untuk menguji kebenaran ajarannya [  pendeta dari Rum ] , perlu kebijakan untuk mengambil kesimpulan terhadap ajaran Sang Prabu.

Posted in pitutur | 1 Komentar

TDL ( Terang Dilereng Lawu )

Tidak sama antara naik dengan turun , dalam perjalanan naik Si tho ditemani mas Yanto Gendut dari mulai Taman Jurug di Solo  sampai di persinggahnya di Karang Pandan , mulai dari Karang Pandan hingga tiba Kalisoro di Tawang Mangu Sitho menempuh perjalanan sendiri  , dalam perjalanan naiknya Si tho hanya sesekali memperhatikan   bekas kerajaan Lawu

Lelabuhan

peninggalan Prabu Brawijaya Pamungkas ,  dingin  Tawangmangu  tak menghalangi  Sitho untuk bermalam dilerang barat Gunung Lawu sampai datang skhabat dari Ngawi datang menjemput untuk melanjutkan perjalanan ke Plaosan.

Sitho memiliki  tiga  skhabat [ sahabat ] dari Ngawi  , pertama dikenalinya bernama Purnama  lulusan STM yang merantau ke Semarang , Sahabat kedua dikenalinya semasa dalam perjalanan dari Ngawi ke Sragen yang setelah sekian lama baru ketahuan bahwa skabat itu tidak lain adalah Ki Belabelu  yang dikenalinya juga ketika berada di Bantul  , sahabat Ngawi yang ketiga atau yang datang menjemput bukan berasal dari Ngawi  tapi dia datang dengan bahasa Ngawi , anda pernah dengar atau dapat memakai bahasa ngawi…?

Cerita gila tidak masuk akal ini bukan akal-akalan Si tho  karena memang itu kegilaan Si tho yang liar ing nalar ,  bukan niatan mau menandingi kenaikan TDL [ tarif dasar listrik ] tapi kebetulan blog ini memiliki persamaan peristiwa yang memang saatnya sampai di Telaga Dilereng Lawu ,  kalau T D Listrik naik turunnya harga dibuat perhitungannya oleh PLN dan diserahkan ke Pemerintah untuk disyahkan [PLN pura-pura tak menaikkan] , maka naik turunnya Sitho di kawasan Telaga Dilereng Lawu adalah alam yang dijalani dan memperjalankan tanpa rintangan  dengan kata lain perjalanan  Si tho adalah atas lilah dari Gusti Yang Maha Wicaksana , cuma waktu menuliskan ini pake juga TDL baru[PLN].

Datangnya sahabat Si tho diiringi oleh ribut petir yang menerangi Tawangmangu , seakan menyibak kabut tebal yang sedang memeluk  Gunung Lawu  dan sekarangpun Si tho juga melihat bahwa kenaikan TDL dari Jakarta akan disambut dengan Tanda Dari Langit  setidaknya  Badai Petir akan turun di Jakarta dan sekitarnya … ini Titen bukan meramal karena apa yang pernah terjadi sudah di cermati [dititeni]  dan kejadian itupun sudah di-iyakan oleh satelit cuaca  BMKG yang jika diperhatikan mirip lukisan Gunung Lawu yang di Titeni Si Tho .

Dalam perjalanan itu Si tho mengenakan kemban atau setagen diperutnya agar tidak terpengaruh oleh udara dingin di Gunung Lawu , apakah dengan adanya TDListrik baru nanti akan banyak orang mules sakit mikirin perut karena tak kenal lagi dengan setagen penyingset perut , atau karena sebab lain yang turun juga dari langit …. yang ini tentu akan jadi kerjaan baru dinas Sosial .

Hanya dalam catatan Bani asal usul  bahasa Ngawi adalah ;

“Gusti pareng dawoh: Siro bongoso Djowo kang tak tresnani, aku maringi pangerten marang siro, supoyo siro kuwi biso mangerteni marang kuwasane Gusti, kang tuhu kuwi.

Pangerten adalah bhs.Jawa-tengahan yang sepadan dengan Pengertian [bhs.Ind] , sedangkan dalam kitab yang hak [ al Qur'an ] disebut dengan Fuada.

Bahwa ternyata yang menjemput Si tho dari Kalisoro ke Plaosan itu adalah Fuada-nya sendiri , perjalanan melalui hutan pinus dan naik turun lembah  puncak Lawu  temannya adalah Pangerten nya sendiri , wujud Pangerten telah menjadi skabat berjalan , nah apakah naik turunnya harga TDListrik  itu juga dengan Pangerten (?) ..ternyata konsumen yang diharapkan mengerti akan kebutuhan Pemerintah cq PLN ….benarkah rakyat mau mengerti ….rakyat tidak bodoh lagi.

Perjalanan Kalisoro ke Plaosan bukan yang perjalanan enak dan mudah  para pendaki gunung tahu sulitnya medan yang dilalui maka dia tak mau mengabaikan pesan dan nasihat dari para pawang pakar cuaca di Gunung Lawu , sekarang apakah perhitungan pakar PLN sudah mendapatkan nasehat atau saran dari Lembaga Pemantau Kesanggupan Konsumen [tidak ada]  yang mengetahui daya beli dan kemampuan masyarakat rata-rata secara nyata , kalau Para Pengusaha Jelas akan berusaha mempertahankan Usahanya hal ini berbeda cara dengan yang mempertahankan kendil wal kompor didapur agar tetep mengepulkan asap  yang terimbas liarnya harga kebutuhan yang ikut tumbuh naik tapi malah membumbung lebih duluan mendahului , di kampung besar  AKLI lebih waspada bahkan   menyayangkan kebijakan yang tidak semestinya  ini.

Terang Dilereng Lawu.

Terang juga disebut Cetho [ bhs jawa ] sementara bagi masyarakat pesisir timur Sumatra  Terang adalah ” Langlas ”  menerangkan satu pandangan mata yang bebas  seperti memandang luas laut dari bibir pantai , demikian juga ketika dari atas Gunung Lawu maka nampaklah hamparan tanah luas dilembah yang oleh bahasa setempat disebut ” Cetho wela -wela “.

Situs Candi Cetho

Terbukanya mata batin para Resi dan Brahmana  ketika mengikuti tapa brata  Ki Ageng Kaca Nagara di Gunung lawu telah mengilhami untuk dibuatnya Sanggar Pamujan bagi pengikutnya , atas kebijaksanaan Ki Ageng maka para seniman telah diizinkan untuk mendirikan  Bangunan Sanggar Pamujan dikaki Gunung Lawu , maka berdirilah disana CANDI CETHO yang sampai  sekarang masih dapat dikunjungi dan disaksikan keindahannya .

Demikian indah peninggalan dari seorang Demokrat , walaupun dirinya sendiri tidak memerlukan tapi Ki Ageng Kaca Nagara [ Prabu Brawijaya V ] tidak mau mengecewakan orang yang masih setia mengikuti perjalannya.

Bagi para abdi  , Resi dan Brahmana yang mengikutinya Ki Ageng tetaplah raja Junjungannya  , apapun keadaannya ia tetep seorang Pemimpin  yang harus diikuti dan dijaga keberadaannya  walau dimanapun dan sampai kapanpun berada , bahkan para prajurit yang setia menggunakan halaman Candi Cetho untuk gladi diri dalam olah kanuragannya , merekalah para Bayangkara [ pasukan inti Ring 1 Pengawal raja Agung Majapahit ] yang tersisa.

Dalam laku tapa brata di Gunung Lawu ini Prabu Brawijaya V  mendapat sertifikasi tanda lulus Ujian diri dalam menemukan ” Sejati ning Urip  ”  , menemukan kesejatian ini di iktibarkan mendapatkan ” Mahkota Agung  Kraton Lawu ” dari Dia Yhang Maha Suci  ….. .  Sitho sempat terperanjat kenapa mesti Lawu  bukan Laweyan   yang sama sama di Solo ,  Solo waktu itu juga masih desa jembrung yang belum berpenghuni  , ” Lawu ”  adalah  ” Laku wuwung – nyuwung ”  yang dalam istilah Bani disederhanakan menjadi  ” Udho Roso ” [ udho-tak mengenakan,Roso - hidup = mematikan diri ].

Nyuwung  adalah Udho [ telanjang ] tanpa sesuatu  selain apa yang sejati ada pada dirinya sebagaimana waktu hadir lahir didunia [ Fitroh ] , begitulah perjuangan agung  [ jihad akbar ] Sang Raja melepas kekuasaan yang menguasai dirinya [ Nafsu ].

Gunung Lawu telah menjadi Padang Arofah bagi  Ki Ageng Kaca Nagara  , Arofah adalah tempat terbuka tanglas – padang jingglang tak ada penghalang kecuali fatamorgana dari dinding langit yang membukit.

Arofah adalah tempat berhenti [wukuf ] dari memandang kiblat duniawi , Arofah menjadi tempat mengenal diri [ arofa nafsa ] dan mengenali kekuasaan Tuhannya [ robbaha ].

Sitho tersenyum akhirnya melihat perjalanan bathiniah Ki Ageng Kaca Negara  yang terang terbaca dilerang Lawu.

Posted in pitutur | Tinggalkan komentar

Avatar vs Mambang

Belakangan ini Avatar menjadi tontonan yang menarik tidak saja bagi  anak – anak tapi sampai atuk-nya juga menyukai kehadiran Sang Avatar yang hidup ratusan tahun lalu dan bankit lagi dari hidupnya …. ha ha ternyata tokoh Avatar hidup kembali dari sebuah kehidupan masa lalu dan ke turun dalam episode hidupnya yang sekarang  ( Movie ) .

Arti dari istilah Avatar

Avatar

Istilah Avatar berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu Avatāra, yang berarti “turun”. Dalam mitologi Hindu, para dewa memanifestasikan dirinya dengan turun menjelma ke dunia untuk mengembalikan keseimbangan di muka bumi setelah mengalami zaman kejahatan, dan mereka disebut Sang Avatar. Aksara Cina yang muncul di atas kata

“Avatar” pada pembukaan cerita berarti “Perantara Tuhan yang turun ke dunia fana”. Serial Avatar banyak meminjam seni dan mitologi dari benua Asia untuk menciptakan sebuah dunia fiksi. Avatar juga mencampur filosofi,bahasa, agama, seni bela diri, pakaian, dan budaya dari negara-negara Asia seperti misalnya Cina , Jepang, Mongolia, Korea, India, danTibet. Penampilan Suku Air kelihatannya dipengaruhi oleh budaya Inuit. Secara terang-terangan dapat ditemukan pengaruh dari seni dan sejarah China, anime Jepang , Hinduisme, Taoisme, Buddhisme, dan Yoga.

The Bender [ sang Pengendali ].

Avatar  of Aang telah masuk mengambil tempat di sebuah dunia fantasi, tempat tinggal manusia , berbagai binatang fantastik, dan roh-roh. Peradaban manusia terbagi-bagi menjadi empat bangsa, Suku Air (Water Tribe) , Kerajaan Bumi (Earth Kingdom) , Pengembara Udara(Air Nomads), dan Negara Api (Fire Nation). Dalam setiap bangsa ada orang-orang yang dipanggil Bender (secara harfiah berarti “Pembengkok”, namun dalam hal ini dianggap “Pengendali”) yang memiliki kemampuan mengendalikan unsur alam sesuai bangsa mereka. Seni mengendalikan unsur alam ini merupakan perpaduan gaya seni beladiri dan sihir unsur alam. Dalam setiap generasi, ada seseorang yang mampu mengendalikan setiap unsur, ialah yang dipanggil sebagai Avatar, roh dari planet yang menitis dalam bentuk manusia.

The Bender [ Sang Pengendali ] sudah lama dikenal di bumi Nusantara ini , sebagian masyarakat hingga kini  bahkan sering mengadakan jamuan  untuk  Sang Pengendali Air  baik itu air yang turun [ Hujan ] maupun air yang akan naik [ lautan ] . demikian juga jamuan diadakan untuk   Sang Pengendali Tanah  baik yang disawah maupun yang diatas gunung , tidak lupa jamuan bersama juga disuguhkan pada pengendali kawah gunung [ Api ] , dan semua budaya tersebut nampaknya akan bertahan sebagai festival budaya …..  sehingga dari acara itu dapat diambil manfaat yang lebih bermanfaat .

Sebagaian masyarakat pesisir bahkan mengenal keberadaan the Bender Nusantara  itu sebagai Mambang , nama  Mambang Laut telah lama dikenal masyarakat sebagai Sang Pengendali Lautan [ Air ]  demikian juga adanya Mambang Darat , Mambang Api dan Mambang Langit [ Angin ] .

Avatar Vs Mambang.

Avatar berusaha sekuat tenaga melalui ritual lahir batin untuk bisa menjumpai the bender  yang pada akhirnya para the bender menyatukan energi dengan dirinya.

Sementara sebagian masyarakat menjumpai the bendernya dengan ritual disertai sesaji sehingga keberadaan the bender tetap berada sebagai pengendali alam.

Nusantara Ibu Avatara :

Turun dalam bahasa sansekerta disebut Avatara , sebagai negri yang pernah sebagai pengguna dan pemilik bahasa sansekerta maka pengetahuan tentang Avatara sudah sejak lama ada di Bumi Nusantara ini.

Bahkan Prabu Jayabaya dari Kerajaan Khadiri telah  menyebut kan dalam kitabnya bahwa ke beradaan empat elemen the Bender itu berada pada setiap diri insan [ ingsun ] atau disebut sedulur papat dengan insan [ingsun] sebagai pancer Avatara.

Pada intinya ke empat elemen itu disebut kan sebagai :

1. Djoborolo. bermahliga      pada    kulite djabang bayi
2. Mokoholo. bermahligai    pada  Tulang – balunge djabang bayi
3. Hosoropolo. bermahligai  pada  nyawa   djabang bayi
4. Hodjorolo. bermahligai     pada  organ-  daging  djabang bayi

Dalam kejadiannya ke empat elemen [ unsur ] itu disebut juga :

1. Elemen –  tanah ……… pada tubuh  ( Tulang Daging , syaraf dan nadi dsb  )

2. Elemen –  Air …………..Pada tubuh ( Darah , keringat , sparma  dsb )

3. Elemen – Angin  ……… Pada tubuh ( nafas – hawa ).

4. Elemen – Api     ……….. Pada tubuh ( di dalam otak – fikiran).

Ilmu anatomi adalah ilmu yang sudah tua di Bumi Nusantara ini namun dalam prakteknya sekarang ternyata bangsa ini justru ketinggalan dalam mengelola kesehatan masyarakat dibandingkan dengan negara jiran sesama putra bumi Nusantara seperti Singapore , Brunai dan Malaysia  tidak aneh jika banyak orang sakit melancong dulu ke luar negeri untuk mencari kesembuhannya , apa sebab ; kemampuan kurang , pelayanan kurang atau kepercayaan kurang …. jawaban tentu oleh para medis [ dukun -tabib - bidan dan dokter ] yang berwenang.

Perseteruan  Sang Pengendali Api dan Pengendali Udara :

elemen api

Secara Anatomis   sebenarnya tak ada perseteruan antara Nafas [paru] dengan Otak- fikiran , hanya saja pengelolaan yang tidak imbang yang mengakibatkan kerusakan pada bumi diri , penggunaan otak yang melebihi kapasitas menimbulkan kerusakan pada elemen Air , sehingga darah jadi tidak normal bahkan kadar gula darahpun tak terkendali , kerusakan sel darah tentu saja mempengaruhi proses pembentukan darah yang berada dalam paru paru sehingga volume paru paru juga tidak terkendali , akhirnya udara ikut terbakar dan jadi mengembang sehingga malas makan dan bergerak , datanglah keluhan mules kembung ulu hati sakit – gas naik menyerang gigi dan kepala ..migraine dan sebagainya , inilah perseteruan antara sang pengendali udara dengan api yang tidak lain adalah perilaku diri sendiri.

Kebangkitan Avatara adalah dalam rangka menyelamatkan bumi dari serbuan bangsawan Negara Api ( Fire Nation )  langkah yang ditempuh adalah dengan menguasai energi Fire Bender  namun sebelum mandapatkan energi Fire Nation  ia harus dapat menghimpun energi yang lainya ( Tanah , Air dan Udara ) , rupanya bangsa Api pun berusaha menguasai  juga , maka terjadilah persaingan usaha …. untuk mendapatkan tujuannya.

Dalam kajian Hidayah jati   Si tho mendapati bahwa Barqun atau Buraq itu memiliki empat kaki yang masing masing terdiri dari anasir tanah , anasir air , anasir gas/udara dan anasir panas/api …… dan ahli antariksa dari NASA telah berhasil menggunakan  empat jenis energi untuk mengarungi antariksa ……. ah lagi lagi negri yang bermandikan hidayah ini justru masih saja rebutan tanah , air dan api , sehingga hampir tiap hari terjadi rebutan tanah bahkan untuk lapak jualan air saja rakyat harus terima degebuki oleh Pamong Prajanya sendiri ,  seharusnya yang namanya Pamong itu momong atau menjaga ketentraman Praja  tanpa adanya kawulo atau rakyat maka tiada yang disebut Praja , nah sekarang malah semakin nyata bahwa Pamong Praja sebentar lagi akan jadi  Fire Bender  karena dia akan memakai senjata api  jika benar maka  para Walikota dan Bupati akan menjadi Fire Nation yang akan memburu  Avatara ( cah cilik yang memakai senjata mainan ) , sementara para wakil rakyat cuma sesekali bersuara  …..  perseteruan Api dan Udara  … jika api besar udara tak berdaya sebaliknya jika udara /angin besar maka Api tidak berdaya …padam .

Isoteres … Bangsa yang berasal dari Api disebut dengan Syetan , sementara yang berasal dari udara ( ruh yg ditiupkan ) adalah manusia  dan Kitab suci al Qur’an dengan tegas mengingatkan bahwa ” Syetan adalah musuh yang nyata ” , karena bangsa Syetan itu tidak mudah diketahui oleh indera awam maka  al Qur’an menyeru kepada orang yang percaya ( beriman ) saja  , seruan atau warning itu adalah sebagai berikut ;

Hai,orang orang yang percaya [ beriman ] masuklah kedalam  keselamatan [ Islam ] secara utuh dan jangan perturutkan perilaku Syetan , karena Syetan itu musuh kamu yang nyata ” ( QS al Baqarah 208 ).

Jika mengikuti langkah saja dilarang bagaimana mungkin SATPOL PP akan diberi senjata api maka jelas dilapangan terbuka akan terjadi pesta kembang api yang akan melahap rakyat sendiri ….. Fire Bender ( Syetan ) Menang . Nah apakah pengguna suara ( Air nomads ) di DPR akan diam saja …. atau setuju dengan usaha Fire Bender ini ….. jika itu terjadi maka besarlah persatuan hawa dan nafsu  dalam tubuh pemerintahan ini.

Posted in pitutur | 2 Komentar

Antara dua Dukuh

Adakah satu kebetulan atau memang itu nama yang dipilihkan ” Dukuh ” , kedua  tempat itu memang sebenarnya tidak dapat dipisahkan  walaupun dalam pemerintahan sekarang kenyataan kedua Dukuh itu berada dalam otonomi daerah yang berbeda .

Dukuh yang pertama adalah berada di Kecamatan Banyubiru -Semarang , Dukuh yang kedua berada di Kecamatan Banyudono – Boyolali.

Desa Dukuh di Banyubiru  tidak sesohor Desa Dukuh di Banyudono , hal ini dikarenakan Desa Dukuh  pernah menjadi Pusat Pemerintahan Kadipaten  Pengging Andayaningrat  sedang Desa Dukuh Banyubiru hanyalah tempat pesanggrahan Prabu Brawijaya V.

Dukuh – Pengging sendiri merupakan perdikan yang di Anugerahkan oleh Prabu Brawijaya V  kepada menantunya  “Joko Sengara ” setelah menikah dengan Ratu Pembayun , anugerah diberikan atas jasa Joko Sengara membebaskan Ratu Pembayun dari tangan penculiknya Menak Daliputih ( putra Menak Jingga ) dari Kerajaan Blambangan.

Dukuh ada yang mengartikan Kudu Kukuh ( Harus Kokoh )  atau tetep semangat . Jelas bahwa Pengging berdiri bukan karena lari dari Kerajaan Majapahit /Majalengka di Trowulan karena dikejar Demak seperti banyak cerita beredar , Demak dan Pengging  adalah sama sama Perdikan ( tanah Anugrah – hadiah raja )  dan keduanya tumbuh bersamaan menjadi negri yang makmur.

Joko Sengara  setelah Pengging makmur dinobatkan sebagai penguasa daerah dan beroleh gelar ” Pangeran Andayaningrat ” atau Ki Ageng Pengging Sepuh .

Korban Invasi Kesultanan.

Ki Ageng Pengging Sepuh wafat ketika terjadi invasi 1 Demak yang ingin melebarkan kekuasaannya ke wilayah Pengging yang makmur , Ki Ageng gugur ditangan senopati perang Demak  bernama Rd. Usman haji ( Sn. Ngudung ) ayah dari Sn.Kudus ( Rd. Jakfar sidig ).

Setelah Ki Ageng wafat , Pengging dipimpin oleh dua putranya yaitu Kebo Kenanga dan Kebo Kanigara , karena Kebo Kanigara lebih suka berkelana maka Pengging selanjutnya dipimpin oleh Ki Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging (2).

Kemakmuran Pengging dibawah Ki Kebo Kenonggo lagi-lagi menyulut kecemburuan Kasultanan Demak  Bintoro maka terjadilah invasi 2 kali ini senopati Demak adalah Sn.Kudus ( Putra Sn. Ngudung ) dan gugurlah Ki Ageng Pengging (2).

Ayah membunuh Ayah , Anak membunuh Anak , gila politik gila-gilaan itu pendapat Si tho , pembaca jangan ikut pendapat Si tho ini  , bagaimana mungkin seorang wali bisa menjadi pembunuh berantai begini…..  apa  nggak memalukan anak cucunya , jadilah catatan ini kaca malu yang tak sepantasnya ditiru-tiru lagi.

Politisasi  Agama.

Antara dua Dukuh , ini sitho mendapati awal adanya politisasi Agama yang dilakukan oleh tokoh Agama ( para Wali ) yang menjabat sebagai penasihat Sultan penguasa Demak yang baru berkembang . Dan memang hanya para tokoh agama yang dapat bermain dengan dalil beragama  dengan fatwa ‘ Sesat dan Menyesatkan ‘ tega membantai keluarga sendiri.

menangis kalo bisa

Tidak akan pernah kering air mata jika ingat tragedi ini , luka itu terlalu dalam menganga bagi orang semacam Si tho.

Luka sit tho adalah luka agama bukan luka hatinya , luka hati gampang diobati tapi luka agama siapa yang sanggup mengobati , bersimpuh Sn. Kalijaga didepan Prabu Brawijaya V tidak akan dapat mengobati luka yang ada dalam Agama.

Agama adalah Ageming aji , ageming diri , ageming angga  O Gusti Yang Maha Suci sembuhkanlah Luka agama ini….

Crah agawe bubrah stop sampe disini ….. jangan ada lagi yang merasa  menjadi hakim mewakili Kekuasaan Yang Maha Kuasa.

Orang sesat itu kalo benar tersesat harus dituntun dan dibimbing  bukan dihukum , kalo orang tersesat dihukum  malah melanggar hukum  apalagi orang yang menghukum masih terhukum oleh hawa nafsu yang tidak diketahui bertindak dalam dirinya sendiri .

Ingat konsepsi Salima yu salimu atau Sluman slumun slamet.

Sorga atau Neraka adalah Rasa yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta yang Maha Tinggi lagi Maha luhur ( Allloh swt jalaa wa alaa ).

Ratu Adil

Si tho mendengar pesan eyang Bani ” Jadilah saksi yang adil bagi dirimu sendiri  jika engkau dapat menjadi saksi yang adil engkau akan mendapatkan dirimu sebagai saksi ahli karna hanya saksi yang ahli yang dapat menyaksikan kehadiran ratu adil “.

Islam adalah agama saksi dengan ikrar syahadah “kalimah loro” asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu ana Muhammad abduhu wa rosuluhu ” ( aku saksi  tiada tuhan yang ada Allloh dan aku saksi Muhammad abdi dan utusanNya ). Inilah ikrar si tho sebagaimana wejangan eyang Bani dan begitu juga ikrar kenabian serta kerosulan Kanjeng nabi Muhammad saw , banyak ujian untuk mendapatkan kelayakan sebagai saksi dan itu sungguh tidak mudah dilalui kecuali dengan ketekunan ketulusan dan kesabaran.

Secara lateral mudah mengucap dan membacakan kata “saksi ” dan kesaksian tapi untuk mewujudkan ucapan sungguh tidak mudah karena pengadilnya adalah kejujuran dan kebenaran diri sendiri  inilah awalan bagi amal sholeh ( perilaku yang bener dan pener ).

Belajar – Mengaji :

Untuk mengetahui kebenaran perlu belajar dengan benar  agar mendapatkan ” tau ” atau “Pengetahuan”  yang selayaknya  , sehubungan dengan belajar atau mengaji ini ada sebuah nasihat yang dicatat dari eyang Bani :

“Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing chukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana ” (( Jika engkau hendak belajar juga , pilihlah manusia yang nyata benarnya , yang baik martabahnya , serta mengerti dalamnya hukum , dan tiada kurang dalam ber-ibadah , syukur mendapati ahli I’tikaf / tapa-semedi , yang sudah menguasai segalanya , dan tiada memikirkan pemberian dari orang lain , itulah orang yang pantas jadi pembimbing , maka akan hal ini perhatikanlah ! )).

Hasil dari menelusur  tragedi dua dukuh ini akhirnya Sitho sepakati kata eyang BaniIslam itu adalah agama saksi bukan agama paham serta aliran , boleh memahami tapi jangan jadikan paham sebagai pedoman agama .

Karna tiada lain pedoman Islam adalah al Qur’anul Haq  serta I’tiba pada sunah rasul nya.

wallohus salam,

Posted in Lelakon | Tinggalkan komentar

Jejak Satrio Pinandito di Banyubiru.

Langkah pertama terayun memasuki kecamatan Banyubiru  sayup- sayup  terdengar sambutan gema Lokananta bertalu  ,melayangkan senandung kegembiraan   Kebogiro , senja haripun tiba kabut tipis menyelimuti hamparan Rowopening  mengalahkan hijaunya daun Enceng gondok yg melapis permukaan airnya, …..sempat juga ada pertanyaan dimana Banyu(air)birunya?

Rowopening

Ternyata Matahari justru menjawab pertanyaan yang tak terucap , ketika gelap mulai mendatangi Rowopening  dari permukaan masih sempat ditangkap bayangan alam sekitar yang membiru .

Warna masih memberikan pesona …hem … Si tho masih terus menapaki  jejak yang lama telah ditinggalkan  , jejak Ki Ageng Kaca Negara  atau Prabu Bre Wijaya V ….  Banyubiru adalah kawasan yang pernah dijadikan persinggahan atau bahkan semacam singasana di perantauan ( pengasingan ) ….. ah kalau Prabu Bra Wijaya V mengungsikan diri…..  mustahil …..apalagi melarikan diri dari Trowulan karena diserbu Demak lebih tidak mungkin lagi, mengingat  Banyubiru adalah masih Kawasan Semarang  yang dekat dengan Demak Bintoro . …… ah bagi sitho sementara lebih pas kalo  Eyang Prabu pergi  mengasingkan diri dari hiruk pikuk Trowulan dan Demak yang lagi ada gesekan paham dan kekuasaan.

Pedukuhan atau dusun Dukuh menjadi pilihan untuk jadi tempat  peristirahatan sementaranya  yang hingga kini kawasan Dukuh dikenal dengan situs Candi Brawijaya V , hal ini karena para Resi dan Brahmana yang ikut dalam pengasingan Sang Prabu telah membangun Candi-candi sebagai tempat menghaturkan Puja dan Puji kepada SING BHAUREKSANING  URIP ( Yang Maha Hidup dan Maha menghidupkan ).

Gerbang Dukuh

Diam diam Si tho mengagumi langkah bijaksana dari  Sang Prabu Brawijaya V  dengan menetap ( walaupun ) sementara  di Banyubiru , karena Banyubiru  adalah tampat strategis untuk memonitor Pemerintahan Demak  dan Pengging yang keduanya lagi dibangun oleh putra putranya.

Sayang Si tho hanya katongbolong bukan  si beruang seandainya jutawan mungkin  kawasan dukuh ini akan dihidupkan kembali sebagai kawasan wisata ruhani , karena dalam telisik Si tho dikawasan ini telah dimulai adanya ” Persatuan umat beragama ” yang umatnya sama sama nurut dan setia kepada  Sang Prabu Brawijaya V raja junjungannya.

Dukuh – Banyubiru telah menjadi saksi bahwasanya sang Raja Agung Majapahit  telah badar menjadi “ Satrio  Pinandito “.

Selayaknya Satrio Pinandito maka beliau mengenakan busana LURIK LAWE dengan mahkota berupa Udeng dikepala.

Udeng sebagai pengiket merupakan penjawaan (  lelaku ) dari hadis yang tertulis dalam kitab suluk jawi ” Tajul Muluk ” dalam paragraf Surban ( iket ) , tersebut dalam Piweling Kanjeng Nabi Muhammad saw  ” Surban itu bermula adalah mahkota bagi bangsa Arab ” , maka tepat sudah sebagai raja  bangsa Jawa Sang Prabu Brawijaya menggunakan mahkota berupa udeng ( kain bersegi empat ) di kepalanya.

Satrio itu juga prajurit dan seorang prajurit tidak akan asal-asalan menggunakan kabaret dikepalanya melainkan harus melalui ujian penempaan jiwa dan raganya hal ini berbeda dengan singasana yang dapat diperoleh melalui warisan dari leluhurnya.

Dalam proses penempaan diri sebagai Satrio Pinandito inilah Si tho menelisik  adanya Sabdo Palon.

Sabdo atau sabda  adalah ucapan , tutur atau kalam , ketika sebagai raja sabda adalah titah yang harus dilaksanakan oleh para punggawanya , hal ini sangat berbeda ketika Sabda itu turun kepada satrio maka ia harus melaksanakan setiap sabda yang telah dituturkan .

Palon adalah dzat diri yang menerima dan melaksanakan turunnya sabdo atau kalam  , dalam makna ada perbedaan sabdo dengan kalam  hal ini dapat diketahui oleh orang ” yang nglakoni” perbedaan itu sendiri , namun sebagai kabar tetenger Si tho memisahkan bahwa Sabdo itu adalah wujud tutur yang sampainya melalui wasilah atau perantara sedang Kalam itu tutur yang datangnya tanpa perantara dalam hal ini dicatatan Si tho disebut dengan ” mendengar tanpa telinga melihat tanpa mata ” nah…disinilah terjadi sebenarnya pembangkangan Sabdo Palon yang kontroversial , bahwa ia mengaku sebagai ratu dahnyang itu cuma “salin basa” yang sesungguhnya hanya mengaku ” aku ini adalah dzat diriku sejati ( ratu dhanyang tanah jawi )”, keberadaan kalam itu ditandai Si tho sebagai yang dinamakan Kalamwadi .

Dari ungkapan dlm serat sabdo palon paragraf 3 : Sabdo palon berkata kepada tuannya Prabu Brawijaya V;

““Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.”

Sitho menangkap pesan bahwa keadaan itu merupakan serat bukti nyata bahwa Satrio Pinandito sedang dalam proses menaklukkan anasir diri sebagaimana ajaran luhur Prabu Djayabaya leluhurnya dan adalah wajar jika perjuangan menaklukkan anasir tanah ( dahnyang diri ) ini menimbulkan banyak cerita atau pengalaman yang beraneka ragam dan bagi orang yang cupet daya nalarnya akan mengkaitkan dengan sesuatu yang menakjubkan bahkan mistis luar biasa….. sehingga orang yang sama sekali tidak ngerti akan dengan mudah berkata tabu dan haram dikerjakan.

Sebagai Ksatrio Prajurit keberadaan dahnyang diri atau sering

Banyubiru/cahyo sejati

disebut dengan nama ” sedulur papat ” itu diperlukan dalam mewujudkan  adanya kesaktian , namun sebagai Ksatrio Pinandito hal tersebut sudah tidak diperlukan atau sudah harus salin busana …. sebagai Prajurit Palon tentu tidak segera menerima dipensiunkan dini maka ia mengajak  untuk tetap bertahan dalam keadaannya.

Rasia ini menjadi terang ( mbanyubiru ) jika dilihat dari Ati wening ( Rowopening ) … sebaliknya tak akan nampak dipandang dengan  batin yang masih kotor njembrung seperti Rowo ketutup Enceng Gondok.

Pada laku Ening Cipta dalam I’tikap – manekungnya Si tho membaca semua peristiwa di atas Dukuh Banyubiru dan inilah wisata ruhaniyah yang dinikmatinya.

Apa yang dibaca sungguh berbeda dengan pengertian yang sudah ada selama ini :

Ungkapan sabdo palon ” Hamba tidak masuk Islam ” kepada prabu Brawijaya V , adalah kejujuran dari Jasad si Badan wadhak , hal itu karena adanya kabar pengertian ” Asal tanah kembali ke tanah -asal panas kembali ke Api ” , ungkapan ini justru menunjukkan bahwa Sang Prabu sedang memberi Pitutur kepada Sn.Kalijogo tentang tauhid diri   sekaligus memberi pesan bahwa agama Islam itu sudah lama ada di Majapahit. Perjalanan mentauhidkan diri memang sulit diterima logika dan memang sepantasnya tak dilogikakan , dialog antara  Prabu Brawijaya V dengan Sn.Kalijogo  yang banyak ditulis dalam berbagai literatur masih perlu dikaji dari dalam tulisan itu sendiri.

Kalamwadi

Munculnya nama tokoh Kalam wadi dalam serat Dharmo Gandul sebenarnya adalah rekaan penulis ketika menangkap sebuah wasiat leluhurnya. Sitho menengarai bahwa Kalamwadi sebenarnya hanya satu elemen sifat diri ( isoteres ) yang menyempal dari kesatuannya.Dalam khasanah “ilmu Pangeran” yang berkembang dari Pengging hingga Mataram terdapat satu sandi tauhid :

” Jisim sifating nyawa “

Jisim dimagsud adalah tubuh yang berada didalam dzat diri yang terdalam ,keberadaan kalam wadi adalah satu elemen dari benang sifat yang harusnya terajut dalam dirinya, sifating nyawa adalah karunia dari YANG MAHA SUCI yang harus dijaga kesucian dan keutuhannya.

Adakah ajaran ini masih berlaku dalam laku tauhid ?

Apakah cukup orang ngaku-ngaku saja bertauhid  dengan asal sebut bahwa AKU BERIMAN , AKU PERCAYA sementara dirinya tidak dapat membuktikan sendiri KEPERCAYAAN yang telah diberikan oleh YANG MAHA KUASA.

Bukankah kitab suci Al Qur’an  telah mengabarkan bahwa hal tersebut adalah hal yang dimurkai ……

Wallohus salam,

tobe cont……..

Posted in Lelakon | 2 Komentar