Antara dua Dukuh

Adakah satu kebetulan atau memang itu nama yang dipilihkan ” Dukuh ” , kedua  tempat itu memang sebenarnya tidak dapat dipisahkan  walaupun dalam pemerintahan sekarang kenyataan kedua Dukuh itu berada dalam otonomi daerah yang berbeda .

Dukuh yang pertama adalah berada di Kecamatan Banyubiru -Semarang , Dukuh yang kedua berada di Kecamatan Banyudono – Boyolali.

Desa Dukuh di Banyubiru  tidak sesohor Desa Dukuh di Banyudono , hal ini dikarenakan Desa Dukuh  pernah menjadi Pusat Pemerintahan Kadipaten  Pengging Andayaningrat  sedang Desa Dukuh Banyubiru hanyalah tempat pesanggrahan Prabu Brawijaya V.

Dukuh – Pengging sendiri merupakan perdikan yang di Anugerahkan oleh Prabu Brawijaya V  kepada menantunya  “Joko Sengara ” setelah menikah dengan Ratu Pembayun , anugerah diberikan atas jasa Joko Sengara membebaskan Ratu Pembayun dari tangan penculiknya Menak Daliputih ( putra Menak Jingga ) dari Kerajaan Blambangan.

Dukuh ada yang mengartikan Kudu Kukuh ( Harus Kokoh )  atau tetep semangat . Jelas bahwa Pengging berdiri bukan karena lari dari Kerajaan Majapahit /Majalengka di Trowulan karena dikejar Demak seperti banyak cerita beredar , Demak dan Pengging  adalah sama sama Perdikan ( tanah Anugrah – hadiah raja )  dan keduanya tumbuh bersamaan menjadi negri yang makmur.

Joko Sengara  setelah Pengging makmur dinobatkan sebagai penguasa daerah dan beroleh gelar ” Pangeran Andayaningrat ” atau Ki Ageng Pengging Sepuh .

Korban Invasi Kesultanan.

Ki Ageng Pengging Sepuh wafat ketika terjadi invasi 1 Demak yang ingin melebarkan kekuasaannya ke wilayah Pengging yang makmur , Ki Ageng gugur ditangan senopati perang Demak  bernama Rd. Usman haji ( Sn. Ngudung ) ayah dari Sn.Kudus ( Rd. Jakfar sidig ).

Setelah Ki Ageng wafat , Pengging dipimpin oleh dua putranya yaitu Kebo Kenanga dan Kebo Kanigara , karena Kebo Kanigara lebih suka berkelana maka Pengging selanjutnya dipimpin oleh Ki Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging (2).

Kemakmuran Pengging dibawah Ki Kebo Kenonggo lagi-lagi menyulut kecemburuan Kasultanan Demak  Bintoro maka terjadilah invasi 2 kali ini senopati Demak adalah Sn.Kudus ( Putra Sn. Ngudung ) dan gugurlah Ki Ageng Pengging (2).

Ayah membunuh Ayah , Anak membunuh Anak , gila politik gila-gilaan itu pendapat Si tho , pembaca jangan ikut pendapat Si tho ini  , bagaimana mungkin seorang wali bisa menjadi pembunuh berantai begini…..  apa  nggak memalukan anak cucunya , jadilah catatan ini kaca malu yang tak sepantasnya ditiru-tiru lagi.

Politisasi  Agama.

Antara dua Dukuh , ini sitho mendapati awal adanya politisasi Agama yang dilakukan oleh tokoh Agama ( para Wali ) yang menjabat sebagai penasihat Sultan penguasa Demak yang baru berkembang . Dan memang hanya para tokoh agama yang dapat bermain dengan dalil beragama  dengan fatwa ‘ Sesat dan Menyesatkan ‘ tega membantai keluarga sendiri.

menangis kalo bisa

Tidak akan pernah kering air mata jika ingat tragedi ini , luka itu terlalu dalam menganga bagi orang semacam Si tho.

Luka sit tho adalah luka agama bukan luka hatinya , luka hati gampang diobati tapi luka agama siapa yang sanggup mengobati , bersimpuh Sn. Kalijaga didepan Prabu Brawijaya V tidak akan dapat mengobati luka yang ada dalam Agama.

Agama adalah Ageming aji , ageming diri , ageming angga  O Gusti Yang Maha Suci sembuhkanlah Luka agama ini….

Crah agawe bubrah stop sampe disini ….. jangan ada lagi yang merasa  menjadi hakim mewakili Kekuasaan Yang Maha Kuasa.

Orang sesat itu kalo benar tersesat harus dituntun dan dibimbing  bukan dihukum , kalo orang tersesat dihukum  malah melanggar hukum  apalagi orang yang menghukum masih terhukum oleh hawa nafsu yang tidak diketahui bertindak dalam dirinya sendiri .

Ingat konsepsi Salima yu salimu atau Sluman slumun slamet.

Sorga atau Neraka adalah Rasa yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta yang Maha Tinggi lagi Maha luhur ( Allloh swt jalaa wa alaa ).

Ratu Adil

Si tho mendengar pesan eyang Bani ” Jadilah saksi yang adil bagi dirimu sendiri  jika engkau dapat menjadi saksi yang adil engkau akan mendapatkan dirimu sebagai saksi ahli karna hanya saksi yang ahli yang dapat menyaksikan kehadiran ratu adil “.

Islam adalah agama saksi dengan ikrar syahadah “kalimah loro” asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu ana Muhammad abduhu wa rosuluhu ” ( aku saksi  tiada tuhan yang ada Allloh dan aku saksi Muhammad abdi dan utusanNya ). Inilah ikrar si tho sebagaimana wejangan eyang Bani dan begitu juga ikrar kenabian serta kerosulan Kanjeng nabi Muhammad saw , banyak ujian untuk mendapatkan kelayakan sebagai saksi dan itu sungguh tidak mudah dilalui kecuali dengan ketekunan ketulusan dan kesabaran.

Secara lateral mudah mengucap dan membacakan kata “saksi ” dan kesaksian tapi untuk mewujudkan ucapan sungguh tidak mudah karena pengadilnya adalah kejujuran dan kebenaran diri sendiri  inilah awalan bagi amal sholeh ( perilaku yang bener dan pener ).

Belajar – Mengaji :

Untuk mengetahui kebenaran perlu belajar dengan benar  agar mendapatkan ” tau ” atau “Pengetahuan”  yang selayaknya  , sehubungan dengan belajar atau mengaji ini ada sebuah nasihat yang dicatat dari eyang Bani :

“Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing chukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana ” (( Jika engkau hendak belajar juga , pilihlah manusia yang nyata benarnya , yang baik martabahnya , serta mengerti dalamnya hukum , dan tiada kurang dalam ber-ibadah , syukur mendapati ahli I’tikaf / tapa-semedi , yang sudah menguasai segalanya , dan tiada memikirkan pemberian dari orang lain , itulah orang yang pantas jadi pembimbing , maka akan hal ini perhatikanlah ! )).

Hasil dari menelusur  tragedi dua dukuh ini akhirnya Sitho sepakati kata eyang BaniIslam itu adalah agama saksi bukan agama paham serta aliran , boleh memahami tapi jangan jadikan paham sebagai pedoman agama .

Karna tiada lain pedoman Islam adalah al Qur’anul Haq  serta I’tiba pada sunah rasul nya.

wallohus salam,

Tulisan ini dipublikasikan di Lelakon. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s