Tidak sama antara naik dengan turun , dalam perjalanan naik Si tho ditemani mas Yanto Gendut dari mulai Taman Jurug di Solo sampai di persinggahnya di Karang Pandan , mulai dari Karang Pandan hingga tiba Kalisoro di Tawang Mangu Sitho menempuh perjalanan sendiri , dalam perjalanan naiknya Si tho hanya sesekali memperhatikan bekas kerajaan Lawu
peninggalan Prabu Brawijaya Pamungkas , dingin Tawangmangu tak menghalangi Sitho untuk bermalam dilerang barat Gunung Lawu sampai datang skhabat dari Ngawi datang menjemput untuk melanjutkan perjalanan ke Plaosan.
Sitho memiliki tiga skhabat [ sahabat ] dari Ngawi , pertama dikenalinya bernama Purnama lulusan STM yang merantau ke Semarang , Sahabat kedua dikenalinya semasa dalam perjalanan dari Ngawi ke Sragen yang setelah sekian lama baru ketahuan bahwa skabat itu tidak lain adalah Ki Belabelu yang dikenalinya juga ketika berada di Bantul , sahabat Ngawi yang ketiga atau yang datang menjemput bukan berasal dari Ngawi tapi dia datang dengan bahasa Ngawi , anda pernah dengar atau dapat memakai bahasa ngawi…?
Cerita gila tidak masuk akal ini bukan akal-akalan Si tho karena memang itu kegilaan Si tho yang liar ing nalar , bukan niatan mau menandingi kenaikan TDL [ tarif dasar listrik ] tapi kebetulan blog ini memiliki persamaan peristiwa yang memang saatnya sampai di Telaga Dilereng Lawu , kalau T D Listrik naik turunnya harga dibuat perhitungannya oleh PLN dan diserahkan ke Pemerintah untuk disyahkan [PLN pura-pura tak menaikkan] , maka naik turunnya Sitho di kawasan Telaga Dilereng Lawu adalah alam yang dijalani dan memperjalankan tanpa rintangan dengan kata lain perjalanan Si tho adalah atas lilah dari Gusti Yang Maha Wicaksana , cuma waktu menuliskan ini pake juga TDL baru[PLN].
Datangnya sahabat Si tho diiringi oleh ribut petir yang menerangi Tawangmangu , seakan menyibak kabut tebal yang sedang memeluk Gunung Lawu dan sekarangpun Si tho juga melihat bahwa kenaikan TDL dari Jakarta akan disambut dengan Tanda
Dari Langit setidaknya Badai Petir akan turun di Jakarta dan sekitarnya … ini Titen bukan meramal karena apa yang pernah terjadi sudah di cermati [dititeni] dan kejadian itupun sudah di-iyakan oleh satelit cuaca BMKG yang jika diperhatikan mirip lukisan Gunung Lawu yang di Titeni Si Tho .
Dalam perjalanan itu Si tho mengenakan kemban atau setagen diperutnya agar tidak terpengaruh oleh udara dingin di Gunung Lawu , apakah dengan adanya TDListrik baru nanti akan banyak orang mules sakit mikirin perut karena tak kenal lagi dengan setagen penyingset perut , atau karena sebab lain yang turun juga dari langit …. yang ini tentu akan jadi kerjaan baru dinas Sosial .
Hanya dalam catatan Bani asal usul bahasa Ngawi adalah ;
“Gusti pareng dawoh: Siro bongoso Djowo kang tak tresnani, aku maringi pangerten marang siro, supoyo siro kuwi biso mangerteni marang kuwasane Gusti, kang tuhu kuwi.
Pangerten adalah bhs.Jawa-tengahan yang sepadan dengan Pengertian [bhs.Ind] , sedangkan dalam kitab yang hak [ al Qur'an ] disebut dengan Fuada.
Bahwa ternyata yang menjemput Si tho dari Kalisoro ke Plaosan itu adalah Fuada-nya sendiri , perjalanan melalui hutan pinus dan naik turun lembah puncak Lawu temannya adalah Pangerten nya sendiri , wujud Pangerten telah menjadi skabat berjalan , nah apakah naik turunnya harga TDListrik itu juga dengan Pangerten (?) ..ternyata konsumen yang diharapkan mengerti akan kebutuhan Pemerintah cq PLN ….benarkah rakyat mau mengerti ….rakyat tidak bodoh lagi.
Perjalanan Kalisoro ke Plaosan bukan yang perjalanan enak dan mudah para pendaki gunung tahu sulitnya medan yang dilalui maka dia tak mau mengabaikan pesan dan nasihat dari para pawang pakar cuaca di Gunung Lawu , sekarang apakah perhitungan pakar PLN sudah mendapatkan nasehat atau saran dari Lembaga Pemantau Kesanggupan Konsumen [tidak ada] yang mengetahui daya beli dan kemampuan masyarakat rata-rata secara nyata , kalau Para Pengusaha Jelas akan berusaha mempertahankan Usahanya hal ini berbeda cara dengan yang mempertahankan kendil wal kompor didapur agar tetep mengepulkan asap yang terimbas liarnya harga kebutuhan yang ikut tumbuh naik tapi malah membumbung lebih duluan mendahului , di kampung besar AKLI lebih waspada bahkan menyayangkan kebijakan yang tidak semestinya ini.
Terang Dilereng Lawu.
Terang juga disebut Cetho [ bhs jawa ] sementara bagi masyarakat pesisir timur Sumatra Terang adalah ” Langlas ” menerangkan satu pandangan mata yang bebas seperti memandang luas laut dari bibir pantai , demikian juga ketika dari atas Gunung Lawu maka nampaklah hamparan tanah luas dilembah yang oleh bahasa setempat disebut ” Cetho wela -wela “.
Terbukanya mata batin para Resi dan Brahmana ketika mengikuti tapa brata Ki Ageng Kaca Nagara di Gunung lawu telah mengilhami untuk dibuatnya Sanggar Pamujan bagi pengikutnya , atas kebijaksanaan Ki Ageng maka para seniman telah diizinkan untuk mendirikan Bangunan Sanggar Pamujan dikaki Gunung Lawu , maka berdirilah disana CANDI CETHO yang sampai sekarang masih dapat dikunjungi dan disaksikan keindahannya .
Demikian indah peninggalan dari seorang Demokrat , walaupun dirinya sendiri tidak memerlukan tapi Ki Ageng Kaca Nagara [ Prabu Brawijaya V ] tidak mau mengecewakan orang yang masih setia mengikuti perjalannya.
Bagi para abdi , Resi dan Brahmana yang mengikutinya Ki Ageng tetaplah raja Junjungannya , apapun keadaannya ia tetep seorang Pemimpin yang harus diikuti dan dijaga keberadaannya walau dimanapun dan sampai kapanpun berada , bahkan para prajurit yang setia menggunakan halaman Candi Cetho untuk gladi diri dalam olah kanuragannya , merekalah para Bayangkara [ pasukan inti Ring 1 Pengawal raja Agung Majapahit ] yang tersisa.
Dalam laku tapa brata di Gunung Lawu ini Prabu Brawijaya V mendapat sertifikasi tanda lulus Ujian diri dalam menemukan ” Sejati ning Urip ” , menemukan kesejatian ini di iktibarkan mendapatkan ” Mahkota Agung Kraton Lawu ” dari Dia Yhang Maha Suci ….. . Sitho sempat terperanjat kenapa mesti Lawu bukan Laweyan yang sama sama di Solo , Solo waktu itu juga masih desa jembrung yang belum berpenghuni , ” Lawu ” adalah ” Laku wuwung – nyuwung ” yang dalam istilah Bani disederhanakan menjadi ” Udho Roso ” [ udho-tak mengenakan,Roso - hidup = mematikan diri ].
Nyuwung adalah Udho [ telanjang ] tanpa sesuatu selain apa yang sejati ada pada dirinya sebagaimana waktu hadir lahir didunia [ Fitroh ] , begitulah perjuangan agung [ jihad akbar ] Sang Raja melepas kekuasaan yang menguasai dirinya [ Nafsu ].
Gunung Lawu telah menjadi Padang Arofah bagi Ki Ageng Kaca Nagara , Arofah adalah tempat terbuka tanglas – padang jingglang tak ada penghalang kecuali fatamorgana dari dinding langit yang membukit.
Arofah adalah tempat berhenti [wukuf ] dari memandang kiblat duniawi , Arofah menjadi tempat mengenal diri [ arofa nafsa ] dan mengenali kekuasaan Tuhannya [ robbaha ].
Sitho tersenyum akhirnya melihat perjalanan bathiniah Ki Ageng Kaca Negara yang terang terbaca dilerang Lawu.






