Relung

Relung ini adalah Renungan sahabat Sriwidada Putu Gede :

JAYA! RAHAYU WIDADA  MULYA :

Mugia kajiwa kasarira Ngarsa Sedaya Kadang Sutresna!

Mari kita senantiasa mengucapkan sujud syukur keharibaan GUSTI yang telah dan sedang memperjalankan kita semua sesuai fitrah, Karsa dan Kuasa – NYA. Sungguh kami tak menduga dengan hadirnya Renungan – Renungan ini telah melahirkan rasa kedekatan dan seolah dipertemukan kembali dengan saudara yang telah lama berkelana bahkan banyak yang dengan tulus ingin dijadikan putra – putrinya.

Untuk memudahkan para kadang mengambil hakekat dan atauhikmah dari renungan yang lalu perkenankan sebagai PENGANTAR yakni membahas soal WADUG yang memiiliki makna weteng, perut dan atau bendungan. Lho mengapa ? Ternyata jebolnya WADUG SITU GINTUNG YANG MEMAKAN KORBAN 100 ORANG dan harta benda yang luar biasa mengandung makna adanya pesan moral – spiritual. Namun karena ini merupakan tambahan yang kita bahas adalah 2 wadug yakni “GAJAH MUNGKUR DAN JATI LUHUR YANG BULAN APRIL/MEI LALU MENUMPAHKAN KELEBIHAN DEBIT AIRNYA YANG MENYENGSARAKAN RAKYAT BANYAK dengan banjir bandanya sehingga Krawang – Bekasi yang disyairkan oleh Chairil Anwar itu berubah menjadi lautan.

Nama, ternyata tidak diametral dengan pendapat yang mengatakan “APALAH ARTI SEBUAH NAMA”! Karena dalam komunitas masyarakat JAWA, ada istilah “KABOTAN JENENG”, karena mungkin tidak sejiwa dengan jiwanya jabang bayi sehingga ada yang sakit – sakitan, bertengkar terus, seret rezekinya dll. terlepas ada anggapan hal itu adalah musyrik dan apapun yang menamakannya. Maka PYM sendiri juga tokoh spiritual kharismatis Bp. M. Subuh yang keduanya nyaris sama usianya, nama kecilnya diganti oleh orang tuanya. Hal ini banyak buktinya sekalipun sulit untuk diilmiahkan! Oleh sebab itu bagi para kadang yang akan memiliki copian apakah laki – laki atau perempuan, jilid i, 2 dan seterusnya, seyogyanya tidak asal memberi nama, termasuk yang di FB ini yang kadang – kadang bikin mrinding pembanyanya! Hal ini bisa jadi akan sedikit terjawab dengan kajian di bawah ini.

1. WADUG GAJAH MUNGKUR, WONOGIRI, JAWA TENGAH.

Wadug ini dibangun saat Pak Harto memerintah. Sekalipun beliau memiliki puluhan penasehat spiritual namun karena kehendak alam ,refleksi kepemimpinannya yang hingga rezim transisional ini, yang bertumpu pada ‘LEADERSHIP TRANSAKSIONAL” bukan ‘LEADERSHIP TRANFORMATIF”, maka pijakannya adalah tentang “UNTUNG – RUGI”, sehingga unsur yang merugikan harus ditiadakan baik nama, atau rezeki dan atau raganya! Karena itu penghalang! Bukankah GAJAH merupakan makna simbolis dari orang besar, seorang pemimpin ? Kata “MUNGKUR” adalah mengesampingkan, membelakangi! Artinya para pemimpin bangsa ini “Membelakangi dan atau mengesampoingakan rakyatnya sang pemilik sah kedaulatan yang telah memberikan mandat kepadanya?.”. Waduknya rakyat banyak yang keroncongan dan bila terisi ada yang hanya dengan nasi aking, thiwul, umbi – umbian dan bahkan ada yang berrhari – hari tergolek lemah karena tak ada yang bisa dimakan. Tengoklah NTT, 1,2 juta jiwa terancam kelapaean. Nasib saudara kita ex Timtim, nyaris tak ada yang mempedulikan bahkan korban gempa di Papua nyaris tak ada uluran tangan sebagaimana peristiwa di tempat lain yang begitu sigap, cepat dan bantuan mengalir. Ataukah para kaum dermawan dan relavan telah kehabisan endurancenya ?. Akibat para pemimpin tak lagi memperhatikan jeritan rakyat – derita rakyat – air mata darah rakyat situasi menjadi gonjang ganjing. Bagaimana kini sekedar cabe saja harganya 40.000/kg yang diikuti merambatnya seluruh harga kebutuhan hidup rakyat, sedangkan puasa masih 2 bulan lagi. Hebatnya Pemereintah tetap akan menaikkan TDL, BBM. GAS dll. Demikian pula DPR tetap ingin membangun gedung baru senilai !,6 triliun dengan alasan gedung yang ada “MIRING”. Dan bagaimana PGOLKAR begitu ngotot dengan “DANA ASPIRASI” yang ehem – ehem – ehem! Ternyata inipun merupakan alegoris miringnya para wakil rakyat yang tak peka terhadap tuntutan rakyat. Quovadis! 2. WADUG JATILUHUR Nampaknya ini merupakan alegoris dari DZAT YANG MAHA LUHUR, MAHA INTI ENERGI yang namanya seluas langit dan bumi karena seluruh ciptan – NYA bertasbih kepada NYA! Maka disebut dengan TUHAN SERU SEKALIAN ALAM, bukan hanya sebagai sesembahan umat Islam saja! Wadug ini yang selamanya mengaliri sawah memakmurkan tanaman pak tani juga sebagai pembangkit listrik untuk menerangi penduduk, lagi – lagi terdapat deviasi justru meluap yang membanjiri warga sekitarnya! ribuan hektar tanaman padi dll mati dibuatnya! Derita rakyat tak terperikan yang selalu dirasakan saban tahun bahkan di Bandung Selatan, Balaiendah nyaris tiap bulan hidup bagai di tengah lautan. Bisa jadi ini merupakan peringatan karena umatnya kini berani mengambil domain TUHAN, seperti begitu mudahnya mengkafirkan orang lain, anti Pancasila, menistakan Pancasila ajaran syaiton, begitu mudahnya menfatwakan : pluralisme, yoga, rokok, golput, rebonding, penata rambut waria itu “HARAM” ?. Nah bagaimana hukumnya bagi yang mencoblos ternyata pilihannya itu menghalalkan “CENTURY GATE” ?. Bagaimana pertanggung jawaban pribadi yang berani mengharamkan itu ?.

Kita diingatkan atas Firman – NYA :

(1). Ref. Injil Kejadian 30 ayat 19 : “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini; kepadamu Kuperhadapkan kehidupan & kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu! Berdirinya NPKRI yang berdasarkan PANCASILA itu, disaksikan oleh Bapa Angkasa dan IBU BUMI! Jangan dianggap tak ada yang tahu!

(2). Korintus 3, Ayat 27 : ”Jika ada orang yang membinasakan Bait Allah (manusia), maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah (itu) adalah kudus & Bait Allah itu adalah kamu!”. Bagi kadang yang risau terhadap peri laku saudara kita yang konon demi amal ma’ruf nahi munkar namun dengan tindak anarkisme, teror bahkan membunuh maka TUHAN sendirilah yang akan membinasakannya! Karena perbuatan itu bukan ajaran Islam yang rahman dan rahim. Islam = tunduk dan berserah diri terhadap Sang Khaliq! Jadi yang mengkhianati fungsi diturunkannya  agama demi terwujudnya rahmatan lil alamin, bisa jadi bukan sedang menghayati ajaran Islam yangsejati! Quality Measurement Tool berbangsa dan bernegara oleh Founding Father telah dibuat yakni silahkan gunakan Sila II PAnCASILA. Apakah Perbuatan kita, peri laku kita telah memenuhi esensi jiwa dan ruh ‘KEMANUSIAAN” , apakah telah memenuhi esensi jiwa dan ruh “KEADILAN” ? yang terakhir apakah telah pula memenuhi esensi jiwa dan ruh ke”BERADAB”an ?

Bila semua terpenuhi artinya pasti jumbuh dengan karsa dan kuasa – NYA! Bila belum artinya tidak sesuai dengan ajaran KETUHAN YANG MAHA ESA itu sendiri!

(3). Dalam Al – Qor’an : Surat Al – ‘Araaf (7), Tempat Yang Tinggi ayat 96 dinyatakan bahwa “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa kepada Allah, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi”. Tetapi oleh karena mereka mendustakan, Kami ambil tindakan terhadap mereka disebabkan salah perbuatan mereka sendiri”.

(4). Nah mengapa anugerah Tuhan Seru Sekalian Alam yang telah dilimpahkan kepada bangsa & Negara ini berkah NYA dari Langit dan dari Bumi, justru menjadi bencana bagi kehidupan berbangsa & bernegara ?.

Dalam QS : Abasa (80) ayat 17 & 23 dinyatakan bahwa : “Keterlaluan amat manusia itu (bangsa Indonesia)! Betapa besar keingkarannya terhadap karunia yang dilimpahkan kepadanya”(Negara Prolamasi dengan dasar Pancasila) serta diturunkannya hujan serta kesuburan buminya – berkah dari langit & bumi?). Belum juga melaksanakan apa yang diperintahkan TUHAN kepadanya”. Nah mengapa anugerah Tuhan Seru Sekalian Alam yang telah dilimpahkan kepada bangsa & Negara ini berkah NYA dari Langit dan dari Bumi, bisa jadi telah dicabu NYA karena kini justru menjadi bencana bagi kehidupan berbangsa & bernegara ?. Ketua MUI Jakarta KH. M. Handan Rasyid pada Muhasabah Muharram 1428 H di Jakarta, menyatakan bahwa : “Rusaknya Pemerintah terjadi akibat rusaknya ulama. Rusaknya ulama disebabkan tergodanya mereka atas harta dan tahta. Menurutnya, saat ini banyak ulama yang hanya berorientasi terhadap kehidupan duniawi dan mengejar jabatan politik tertentu. Akibatnya, mereka tak peka terhadap masalah umatnya & kerusakan yang terjadi. Ulama memiliki peran atas banyaknya bencana & musibah yang terjadi. Bagaimana ulama mau mengkritisi jika dia berada dalam system”, imbuhnya. (Kompas, Rabo 14 Februari 2007 hal.2).

Kesimpulannya bahwa NPKRI yang berdasarkan PANCASILA adalah anugerahNYA yang telah memberkati dan merahmati negeri ini yang telah disucikan oleh jutaan darah para pejuang para syuhada – para pahalawan dan para pendahuku kita yang disaksikan oleh mahkluk – NYA yakni Bunda Persada Nusantara dan Ayahanda Bapa Kuasa (Langit Nusantara) ini. Jadi bila kita sula cita mengkhianti anugerahNYA, amanat Founding Fathers, wasiat Proklamator, Presiden I, Bung Karno , lawannya adalah ALAM setelah saran nasehat dan peringatan yang diterimnya dianggapnya angin lalu saja.! Oleh sebab itu kita berdoa semoga Pemerintah dan para penyelenggara negara dalam mengambil kebijakan seharusnya sejalan dan sejiwa dengan amanat ‘PANCASILA & UUD 1945 PRA AMANDEMEN”! Senyampang masih ada waktu dan jangan keduluan oleh murka alam! Kembali tentang nama, kita diingatkan pula adanya fenomena merahnya seluruh penjuru Nusantara dengan “PRANGGON” (Pos ronda yang tempat duduknya di atas) saat 1999 seiring kemenangan PDIP! Lalu apa yang terjadi ? Ternyata setelah diamati ‘PRANGGON = PERANG SA ENGGON – ENGGON! Bukankah muncul peperangan antar etnis ke dua suku di seluruh penjuru Kalimantan yang segera diikuti dengan Ambon dan Poso yang amat tragis ada kelompok yang menamakan Komando jihat versus Lasykar Kristus dan entah apa namanya. Pela Gandong yang ratusan tahun dihayati seketika lenyap oleh ego! Sedangkan kita semua ini sesaudara, seiman karena semuanya Berketuhanan Yang Maha Esa, mahkluk TUHAN SERU SEKALIAN ALAM!! kemudian Aceh dan Bumi Cendrawasiih yang hingga kini pun masih saja terus berlangsung ? Dan bagaimana nama kota merupakan ajaran ‘”KASAMPURNAN – SANGKAN PARANING DUMADI” ? Dari nama Mesir (Sir), Mekah, Demak. Kadilangu (yang aromanya disukai kaum hawa?) kemudian Pati (karena itu merupakan sari – sarinya tanah?),jember, Purba lingga (dijaga sang burung dan dompetnya) Kediri (tempat ngaji diri) agar Panaraga (paham atas raga sejatinya) dan Jati Raga (plus badan rohaninya) baru Banyuwangi purna perjalanan hidupnya dengan sempurna sebagai (insan kamil) maka mandinya Banyu MAS! Dan seterusnya! Itula yang oleh leluhur disebut juga sebagau ayat – ayat TUHAN! (min aayaatillah). itulah sebagai pengantar tidur, anggap kupasan ini igauan dari orang mabuk saja.

Melaksanakan anjuran Bang Bani,kita teringat “PAWELING” (bukanRamalan!), dalam Jangka Jaya Baya yang menyatakan : “Kawastanan jaman Kala Sinela, tegesipun jaman kaselan awit ing Tanah Jawi, ingguh punika Ratu Sebrang ing Nuswa Srenggi utawi saking sebrang ing Ngatas Angin, wekasan dadosaken susahing tiyang alit, Tanah Jawi umur 2.000 tahun ! Apa maknaya ? Setelah era Pak Harto lengser, Habibie yang menjadi Wapres naik pangkat menjadi RI I.

Pawelinjg ini tepat sekali dengan mengatakan Ratu Sebrang ing Nusa Srenggi yang dimaksud mungkin Jerman ? karena konon beliau menjadi warga negara kehormatan Jerman ? dan atau Ngatas Angin yang identik dengan Negeri Angin Mamiri, yakni Sulawesi Selatan, dimana Habibie lahir ? Era Habibie ini dinamakan jaman (kala) sinela artinya : pengantara saja, dan rakyat menderita akibat TIMTIM lepas dan rakyatnya banyak yang terbunuh dan mengungsi hingga kini masih tersebar di NTT. Umur NKRI 2000 tahun hanya meleset setahun karena ia turun pada 1999 dan digantikan oleh Gus Dur kemudian Megawati. Kesemuanya hanyalah Presiden seselan – pengantara/adhoc saja karena dalam kurun waktu 6 tahun dijabat oleh tiga orang Presiden). Bila dikaitkan dengan mitos “NOTONOGORO”, kita baru memiliki presiden difinitif 3 orang, yakni NO (Bung Karno), TO (Pak Harto) dan NO (Bambang Yudhoyono). GORO ? apakah yang dimaksud = GORO – GORO?. Walahu ‘alam bishawab!

DAUR ULANG SEJARAH:

. Rezim Wikramawardhana atau Damarwulan atau Brawijaya I, (1389 – 1429), Identik Dengan Rezim Prof. Dr. BJ. Habibie (1998 – 1999) Pada akhir pemerintahan Hayamwuruk, suksesi jatuh pada Sang Menantu yakni Wikramawardhana yang mengawini putrinya Kusumawardhani, sehingga putra selirnya Pangeran (Bre) Wirabhumi yang mewarisi dari ke tiga orang tua angkatnya yakni : Bre Daha, Bre Wengker serta Parameswara (Pamannya) di kedaton Pamotan, sebagai raja kedaton wetan (Blambangan) merasa lebih berhak ketimbang sang menantu sehingga meletuslah adanya “perang Paregrek” yang cukup lama, antar keturunannya (1401 – 1406) yakni Bhre Wirabhumi (Rajasawangsa, folklore menyebutnya Minakjinggo yang digambarkan berwajah anjing. Jadi penuntut keadilan & kebenaran sejak dulu kala telah terbiasa diberi stigma miring yang diberikan oleh statusquo) putra selir Hayamwuruk versus Sang menantu Wikramawardhana (foklore menyebutnya dengan Damarwulan/Dandang Gendis/Damar Sasongko).

JASMERAH

Adapun candi Minakjinggo berada di dukuh Unggah – Unggahan, desa Trowulan kecamatan Trowulan. Nah rezim ini nampaknya ada kemiripan sejarah, seperti Prof. BJ. Habibie yang dalam kitab jangka Jayabaya disebutkan sebagai raja dari Nusasrenggi (Jerman ? karena konon ia juga memiliki kewarga negaraan negara tersebut ?) atau dari Negeri Atas Angin (Sulawesi Selatan yang terkenal dengan nyanyian “Angin Mamiri”) sebagai penguasa sinela atau seselan – pengantara), yang identik dengan Wikrama Wardhana, sang menantu yang merupakan putra Bre Pajang yang masih cucu Rajapatni sendiri, yang oleh rakyatnya dianggap bukan berasal dari darah biru sehingga untuk legitimasi perlu

Saksi Indonesia

menjastifikasi diri dengan menyebutnya Brawijaya (Bre/Bra = Diriku masih Keturunan dari R. Wijaya). Sebaliknya Habibiepun sebagai murid kesangan Pak Harto, ingin menjastifikasikan dirinya bahwa iapun masih ada trah dari Majapahit/Jawa sehingga gemar puasa Senin – Kemis dan ziarah dengan mengambil garis Ibu yang konon asli Purwarejo, Jawa Tengah itu. Uniknya saat Brawijaya I versus Wirabhumi jaman BJ. Habibie pun sebagai representasi statusquo versus reformasi – kaum reformis, yang menuntut perbaikan di segala lini peri kehidupan rakyat.

Disamping itu popularitas ke duanya nyaris sama bila Damarwulan satria sakti mahambara,pilih tanding apalagi setelah memperdaya demi sebuah ‘GODO WESI KUNING”, sehingga mampu dengan mudah mengalahkan Bre Wirabhumi (walaupun ada versi yang menewaskan itu adalah Raden Gajah). Sebaliknya Habibie sosok yang ahli tentang kedirgantaraan bahkan konon NASA juga mengadobsi temuannya’ Soal isteri nyaris sama (Pak habibie demikian cintanya begitu mendalam dan selalu setya mendampingi Ibu Ainun Habibie saat dalam duka dan menghadapi sakaratul maut), sementara Brawijaya I karena begitu cintanya terhadap Ratu Kencanawungu (Kusuma Wardhani) dan atas agreementnya dengan Bre Wirabhumi,maka Paska Prabhu Brawijaya I, tampuk kerajaan diserahkan kepada Suhita (Prabhu Stri yakni putri Bre Wirabhumi) dan masih banyak raja namun masih sulit untuk diidentifikasi adanya nama – nama lain disamping sebutan oleh masyarakat yakni Brawijaya II, III, IV, dan V atau Pamungkas karena disamping itu pula masih ada raja – raja yang lain.

Bahkan Solichin Salam dalam bukunya Sekitar Walisongo justru Brawijaya I adalah Prabhu Kartawijaya (1447 – 1451) yang telah tiga rezim setelah Hayamwuruk, bahkan ada pendapat lain yang beredar bahwa Brawijaya I adalah juga R. Wijaya sendiri. Mana yang benar ? mangga saja, karena sesuai tujuan semula renungan ini bukan mencari kebenaran sejarah(nya) melainkan apa yang mampu kita ambil tentang hikmah dan hakekat dari adanya daur ulang atau kemiripannya sajalah! semata – mata guna menangkap suara – suara alam saja dimana masyarakat mengenal tentang Prabhu Brawijaya sampai yang ke lima walau masih menurutnya sampai Brawijaya VII. Dan uniknya dalam kajian ini justru menjadi sinkron

Saksi Majapahit

adanya, yang diharapkan generasi kini dan mendatang mampu menyerap yang baik, dan tidak mengulangi sejarah kelam leluhurnya sendiri yakni sari pati dari “Jasmerah”. Nah akhirnya kita dingatkan sebagai bangsa Nusantara maka tak dapat lepas dari pemahaman holistik ini sebagimana ”jiwa Tantularisme : Tan hanna dharma mangrwa, tiada kebenaran (TUHAN) yang mendua”. Oleh sebab itu Kebijaksanaan filsafati & pengetahuan ilmiah semestinya selalu berjalan bergandengan. Sepanjang mengenai tujuannya, tidak ada perbedaan antaraa ilmu dengan seni sarvashastra prayojanam tatwa darsanam. Tujuan utama dari setiap ilmu tak lebih dari pada pandangan mendalam terhadap kenyataan, pemahaman tentang hakekat dunia dan alam semesta. Itulah tujuan akhir dari semua shastra”.(Radhakrishnan, ”True Knowledge” 1978 :23 & ”Faith Renewed”, 1979 : 21-22).

Dalam ilmu filsafat membedakan tetang etika yang menjadi ukuran atas baik dan buruk, estetika tentang indah atau jelek sebaliknya logika membawa pemahaman tentang benar dan salah. Sedangkan hidup sendiri merupakan keseimbangan dari ke tiganya. Oleh sebab itu sesuatu yang benar belum tentu indah demikian pula yang indah belum tentu baik sebaliknya yang baik belum tentu benar, dan seterusnya.

Daur ulang sejarah

Ada sebagian orang berpendapat bahwa mempelajari sejarah adalah omong kosong. “History is bunk”. Sedangkan Bung Karno menandaskan “Jangan sekali – kali meninggalkan sejarah” atau yang sering disebut dengan “JASMERAH”. Bahkan beliau tandaskan bahwa : “Karena dari mempelajari sejarah orang bisa menemukan hukum, hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah bahwa : “Tidak ada satu bangsa yang besar dan malmur zonder kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa & kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa & kemakmuran selalu ‘kristalisasi’ keringat. Ini adalah hokum, yang kita temukan dari mempelajari sejarah. Bangsa Indonesia, tariklah moral dati hukum ini ” ! Lao Tse, orang suci Cina, menyatakan :”Dengan memahami masa lalu, engkau akan menguasai masa depan” (Nasr.1984). Memang benar bahwa dengan mempelajari dan melihat masa lalu, kita dapat menjalani masa kini dan hasil saat ini dapat menetukan untuk hari esok, walaupun dalam kasanah kearifan budaya local dikenal dengan adanya “Cakra – manggilingan”. Apakah esok akan menjadi kemarin ?. Tidak ! Karena besok adalah kepanjangan hari ini, akan tetapi tanpa mempelajari kemarin dan hari ini maka esok akn sia –sia saja seperti kemarin! Teramat sayang bahwa bangsa ini ingkar atas wasiat tersebut sehingga sejarah Indonesia ini tidak menunjukkan suatu kesinambungan. Satu masa dihapus dan digantikan secara total dengan suatu yang baru. Naifnya yang baru hanya dibuat untuk membedakannya dengan yang lama. Maka tidaklah keliru bila Soebadio Sastrosatomo dalam salah satu bukunya yang brjudul “Era Baru Pemimpin Baru. Soebadio menolak rekayasa rezim Orde Baru” menyatakan bahwa “Seolah – olah sejarah Indonesia itu baru ada semenjak lahirnya rezim Oede Baru”. Seiring peringatan seabad Kebangkitan Nasional, satu dasawarsa kebangkrutan nasional & rezim Reformasi/ Transisional serta 63 tahun Kemerdekaan Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia, kiranya mutlak bagi seluruh unsur bangsa berkenan merenungkan peri kehidupan berbangsa & bernegara yang secara hakekat, secara tersirat sejatinya telah bubar dan bangsa ini amat terpuruk dengan stigma sebagai “bangsa babu, bangsa Indon – bangsa trouble maker, bangsa kuli – kulinya bangsa – bangsa” yang jauh hari sebenarnya telah diperingatkan oleh Bung Karno sebagaimana pidatonya pada 17 Agustus 1963 dengan judul “Genta Suara Revolusi Republik Indonesia” atau GESURI. Bung Karno menyatakan bahwa : “Barang kali kita makin lama makin jauh ‘opdrft’, makin lama – makin klejar – klejer, makin lama makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi ke dalam lumpurnya muara ‘explotation de l’homme’ en ‘ explotation de l’homme par nation’. Dan sejarah akan menulis : disana, antara benua Asia & benua Australia, antara lautan Teduh & lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa yang mula – mula mencoba untuk hidup kembali sebagai bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi ‘een natie van koelies, en een kolies onder de naties”. Bahkan bangsa & Negara ini menempati rangking pertama disusul oleh Thailand di Asia dalah hal korupsi! Quvadis. Bung Karno sebagai anak sejarah, putra kandung revolusi, ikon pemimpin dunia, putra terbaik Bunda Pertiwi yang memiliki segudang stigma antara lain sebagai : Sang Proklamator, Bapak Bangsa, Founding Father, arsitek, seniman/pelukis, budayawan, pengarang, orator, politikus, negarawan, filosuf, futurolog dan lain sebagainya. Sebagai anak bangsa Bung Karno juga menyandang stigma miring yang dilekatkan oleh sebagian masyarakat yang kontra padanya dengan sebutan : diktator, gila hormat dan jabatan, kolaborator, cengeng dan donjuan serta tokoh coup detaat atas kekuasaannya sendiri. Benarkah ? Pro dan kontra adalah suatu kenisbian, sungguhpun demikian kita telah diwarisi begitu banyak filosofi kearifan buadaya local seperti “Becik ketitik ala ketara” dan sesanti “Sura dira jayanikanangrat swuh brastha tekap ing ulah dharmastuti atau Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang maknanya : ”Bahwa betapapun sura (sakti) dan besar kekuasaannya, akan tetapi kalau untuk tujuan yang tidak benar, tidak adil dan angkara murka (adharma), pasti akan sirna oleh budi pekerti luhur dan rahayu serta sikap kasih dan damai”.

Bung Karno

Seiring keadaan berbangsa dan bernegara dimana Pemerintah ingin merajut kembali kenangan, semangat dan jiwa nasionalisme seiring seabad peringatan kebangkitan nasional di tengah – tengah keterpurukan serta runtuhnya konstruiksi Negara Proklamasi yang berdasarkan PANCASILA yang telah diganti dengan esensi PIAGAM JAKARTA yang telah dilembagakan sekurangnya oleh 6 propinsi, 38 kabupaten & 12 kota serta menyusul di ujung timur, Papua tak mau kalah segera memberlakukan perda syareat “Kota Injili”. Disintegrasi bangsa telah meletup dan masyarakat tanpa asa sehingga mereka berduyun – duyun mencari harta karun – harta warisan Bung Karno secara membabi buta, sedangkan yang dimaksud adalah menggali dan menghayati warisan ajaran (idiologi ) Bung Karno. Antara lain tentang : PANCASILA, MARHAENISME, JASMERAH, TRISAKTI (Berdaulat di bidang politik; Berdikari di bidang ekonomi dan Berkepribadian di bidang kebudayaan) dan lain – lain semata – mata guna membangun dunia baru dengan tanpa adanya penghisapan antar manusia sekaligus antar bangsa. Kelemahan Bung Karno sebagai manusia biasa tentu ada namun amatlah tak beradabnya bila anak bangsa yang diperjuangkannya justru sama sekali tidak menghargainya bahkan tega menfitnah dan menjebloskannya ke penjara. Soebadio Sastrosatomo tokoh PSI yang pernah dijebloskan dalam penjara yang menjelang tutup usia begitu produktif menulis buku, ia begitu cinta & hormat serta mengakui berbagai kebenaran dan kelebihan iterhadap diri Bung Karno sehingga salah satu bukunya diberi judul “Soekarno adalah Indonesia – Indonesia adalah Soekarno”. Apa yang diutarakan tersebut benar adanya, Bung Karno ibarat telah bersenyawa – telah menyatu dengan Bunda Pertiwi sehingga kerinduan dan rintihan Nusantara tak sedetikpun beliau lupakan. Bagaimana Ibu Periwi dan susuannya (rakyat) yang rindu kemerdekaan telah beliau nyatakan pada 1933, “Bila perang Pasific meletus maka Indonesia akan merdeka”, sebaliknya sakitnya Ibu Pertiwi juga telah diucapkan pada 1963 sebagaimana tertulis di atas. Marilah Jangan lupakan JASMERAH ! DAUR ULANG SEJARAH ANTARA MAJAPAHIT DENGAN NKRI Guna melengkapi kajian – renungan dan penghayatan atas sejarah untuk merenda hari esok yang lebih baik nampaknya kita dituntut untuk membaca dan mengkaji suara alam (min aayaatillah), terlepas dari kesahihan suatu sejarah yang mendahuluinya. Karena semua kejadian ini secara spiritual tidaklah ada kamus kebetulan, karena semua itu terjadi atas karsa dan kuasa – NYA! Apapun pro kontra isi dari sajian ini jangan sampai memupus amanat BUNG KARNO ‘JASMERAH” bahkan kita justru terbangkitkan untuk lebih inten menguak serpihan kebenaran!@ Bung Karno menyatakan bahwa : “Revolusi adalah perjuangan” Firman TUHAN inilah gitaku :”TUHAN tidak merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa ityu merubah nasibnya sendiri” QS : Ar Ra’d ayat 11. Ref pidato 17 Agustus 19633 : Gesuri. Benarkah ada daur ulang sejarah ? Yang pasti siklus kehidupan di bumi ini mengikuti hukum alam atau alur kehidupan : lahir, tumbuh, berkembang (matang) setelah itu mati. Siklus sejarah kekuasaan raja – raja beserta imperium yang dibanggakannya di dunia ini tak terkecuali Indonesia pun tak dapat lepas dari hukum alam ini. Maka di sinilah terjadi proses daur ulang (cakra manggilingan) sejarah kerajaan dengan ragam dialektika, dinamika dan romantika pergantian kekuasaannya. Nampaknya fragmentasi sejarah kerajaan terdapat tiga babak yakni (1). Zaman Kelahiran. (2). Zaman Kejayaan dan (4). Zaman Kegelapan. Oleh sebab itulah NKRI, Negara Proklamasi yang berdasarkan PANCASILA sebagai kebangkitan Majapahit I seharusnya kita pertahankan dan kita berdayakan agar tujuan mendirikan negara yakni Sila V, keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia yang merupakan amanat penderitaan rakyat sebagaimana tertuang, tersurat dan tersirat dalam Preambule atau Pembukaan UUD 1945 itu. Begitu idial. dan universal yang nyaris sempurna dengan adanya paduan dari nilai hidup & peri kehidupan yakni filosofi dan religi serta iptek telah tersurat dan tersirat di dalam Preambule UUD 1945 yang petunjuk dan pelaksanaannya tertuang di dalam batang tubuh UUD 1945 yang memang sengaja dikemas secara simple dan sederhana oleh founding fathers. Keruntuhan kerajaan Nasional Sriwijaya dan Singhasari serta Majapahit hendaknya jangan lagi terulang pada NKRI ini.

ERA KEKUASAAN

1. Era R. Wijaya (1293 – 1309) & Jaya Negara (1308 – 1328) Identik Dengan Era Presiden I, Dr. Ir. Soekarno (1945 – 1967). Majapahit yang didirikan oleh R. Wijaya, canggah dari Ken Arok dengan Ken Dedes, putra Dyah Lembu Tal. Oleh sebagian sejarawan dinyatakan berpusat di bekas kerajaan Mahibit sebagai kota air semacam Venice, Italia yang dulu ditaklukkan oleh Singhasari, dan sebagian berpendapat sebagai hasil babat alas/hutan “Tarik”, dengan Trowulan sebagai ibukotanya yang didirikan pada 1293. Karena kehebatan R. Wijaya , pasukan Tartar sangat memperhitungkannya dimana untuk menyerang Singhasari yang (ternyata telah dikuasai oleh Jayakatwang) , brigade Kau Hsing, Brigade Ike Messe yang jalan darat sementara brigade Shihpe jalan laut menuju RV Sedayu harus minta nasehat Tuan Pijaya yang dimaksud Wijaya . Paska R. Wijaya diteruskan oleh Putranya yang Indo, Jawa – Melayu, Prabhu Jaya Negara atau Kologemet . Di masa – masa kedua rezim tersebut, kerajaan dirongrong oleh pembrontakan seperti Ranggalawe, Juru Demung, Gajah Biru, Sora, Nambi dan Rangkuti. Dimana Prabhu Jaya Negara wafat akibat pembunuhan oleh tabib Tanca. Bandingkan dengan rezim Bung Karno, selain rongrongan oleh tentara Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherland Indies Civil Administration) yang diboncengi oleh NICA (Netherland Indies Civil Administration) sehingga meletuslah pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, juga di tempat – tempat lain. Timbul kelicikan oleh Belanda seperti terjadinya Agresi Militer I pada 27 Juli 1947 sehingga tercetuslah Perjanjian Renvil pada 8 Desember 1947 yang kemudian masih muncul pemberontakan oleh anak – anak bangsanya sendiri seperti : PKI Muso, yang mendeklarasikan “Negara Republik Soviet Indonesia”, pada 18 September 1947,menyusul kemudian Agresi Militer II Belanda pada 19 Desember 1948, yang membawa KMB pada 23 Agustus 1949, yang membuat Indonesia menjadi RIS yang terdiri dari 16 negara bagian. Yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat. Oleh sebab itu RIS dan RI (sebagai negara bagian dari RIS) sepakat untuk membentuk Negara Kesatuan, pada 17 Agustus 1950 RIS menjelma menjadi NKRI. Dan berturut – turut pemberontakan pecah dimana Karto Suwiryo mendeklarasikan berdirinya NII, pada 7 Agustus 1949, Darul Islam oleh Daud Beureuh, di Aceh dan Kahar Muzakar,di Sulawesi Selatan serta, PRRI, APRA, RMS, Permesta (Piagam Perjuangan Semesta Alam, oleh Letkol Sumual pada 2 Maret 1957 di Sulawesi), Westerling, Dewan Banteng, Andi Azis, yang terakhir G30SPKI. Amerika Serikat ikut membidani aksi – aksi tersebut. Juga adanya upaya pembunuhan berkali – kali secara langsung terhadap diri Bung Karno namun selalu gagal Maka rezim R. Wijaya dan Jaya Negara (selama 35 tahun) adalah identik dengan rezim Bung Karno (24 tahun). Sungguhpun sebagai Negara yang baru merdeka Angkatan lautnya telah mampu menggetarkan Australia dan negara – negara lain. Armada Angkatan Perang baik laut, udara dan darat tercanggih di Asia yang menjadi kekaguman negara – negara sahabat utamanya yang tergabung dalam Konferensi Asia – Afrika. Bahkan Indonesia pernah memiliki pesawan pembon tercanggih di dunia yakni type TU – 16 saat merebut Irian Barat. Dan Indonesia sekaligus mampu menjadi pemimpin dunia, Konferensi Asia Afrika, Ganefo, Conefo adalah bukti nyata. Dan ruh, jiwa dan semangat Preambule UUD 1945 mampu memerdekakan puluhan negara di kawasan tersebut. Bung Karno adalah Proklamator, Founding Fathers, Bapak Bangsa! Secara gen, bila istri R. Wijaya dari Swarnabhumi/Jambi, yakni Dara Petak dan Dara Jingga sedangkan Bung Karno juga mempersunting Ibu Fatmawati dari Bengkulu, Sumatera. Lebih jauh bila dianalogikan bahwa Gajah Mada adalah identik pula dengan Bung Karno yang sama – sama sebagai pemersatu bangsa. Bila Gajah Mada dengan berpuasa mutih selama puluhan tahun sedangkan Bung Karno rela namanya hancur & dipenjarakan nyaris sepanjang hayatnya, tidak saja oleh Belanda namun juga oleh anak bangsanya sendiri asalkan persatuan bangsa itu masih tetap terpelihara & tak ada pertumpahan darah. Gajah Mada demi sumpah Palapanya harus rela menjadi lilin yang menerangi namun sekaligus menghancurkan dirinya sendiri karena peristiwa Bubat dimana junjungannya batal mempersunting Dyah Pitaloka atau Citraresmi putri Prabhuwangi dari Pajajaran. Gajah Mada dianggap bersalah karena dianggap telah mengambil domain sang raja! Sebaliknya Bung Karno karena sumpah Pemuda dan Proklamasi, beliaupun tak hendak membubarkan PKI karena dasar PKI dari Marxisme – Leninisme dengan PANCASILA, Bung Karno pun dihujat dan disalahkan karena menurutnya benar salah yang memutuskan adalah pengadilan! Namuin sejarah ternyata selamanya dikodratkan “bengkok” oleh ego pembuat sejarah itu sendiri yang menganggap kekuasaan adalah segala – galanya, bukannya merupakan jalan sebagai pengabdian “respublika” demi memenuhi tuntutan amanat penderitaan rakyat tapi demi ambisi dan ego kesrakahan anak – anak bangsanya sendiri. Dan ke tiga patriot Majapahit yakni R. Wijaya, founding father Majapahit, Jaya Negara, sebagai raja yang dicitrakan oleh para sejarawan demikian buruk. Bila benar begitu kenyataannya mengapa ia selalu dapat memadamkan pergolakan/ pemberontakan. Dengan fakta tersebut ia adalah raja yang baik & konsepsional, setidaknya logistic & strategi perang melawan pemberontak sepanjang pemerintahannya adalah cermin baiknya tata kelola berkerajaan. Memang semuanya tak terlepas dari peran Sang Bekel dan kemudian didudukkan sebagai Kepala bayangkara (Kapolri) dan mencapai pimpinan puncak sebagai Mahapatih yakni Gajah Mada sebagai pemersatu seluruh Nusantara. Ini pun nampkanya mirip dan luluh ke diri Bung Karno yang amat gandrung terhadap persatuan dan kesatuan bangsanya. Dharma eva hota – hanti ! Bisa jadi bangsa ini harus menyadari atas kekeliruannya dan para pimpinan apapun namanya, kadereisasi dan regenerasi adalah mutlak adnya sehingga setiap ada suksesi akan berjalan mulus, tidak berdarah – darah dan berkesinambungan.

2. PEMERINTAHAN RATU DYAH TRIBUANA TUNGGADEWI (1326 – 1351) & PRABHU HAYAM WURUK (1351 – 1389), IDENTIK DENGAN REZIM HM. SOEHARTO ? (1967 – 1998).

Paska Prabhu Jaya Negara, pemerintahan dipegang oleh Dyah Rajapatni Gayatri (isteri R. Wijaya, putri Sri Kerta Negara) namun karena dia seorang bikuni maka eksekutip diserahkan kepada putrinya yakni Jayawisnu Wardhana Dyah Tribuana Tunggadewi dimana Gajah Mada dinobatkan sebagai Mahapatih (Perdana Mentri) pada 1331, pada sidang cabinet di Balai Manguntur. Dibalik pemerintahan Tribuana Tungga Dewi, tokoh di belakang layar yang amat disegani adalah Ibunda Suri Dyah Rajapatni Gayatri dan eloknya dalam Rezim Pak Harto, tokoh di belakang layar yang sangat disegani tak lain adalah

HM.Suharto

Ibu Tien Hartinah Soeharto yang konon kedunungan wahyu. Maka sepeninggal Bu Tien, Pak Harto ibarat kehilangan pegangan atau ada yang menggambarkan ibarat wayang ilang gapite ? Benarkah ? Di era Prabhu Hayamwuruk mencapai jaman keemasan namun dengan system rexium (Dewan Tujuh Raja) dan Gajah Mada sebagai Sekretaris Jenderal (Pranalakta de Resika Sapta Prabhu), sebenarnya banyak sejarawan yang melihat menjelang akhir pemerintahan Hayamwuruk telah nampak adanya kemunduran Majapahit, utamanya paska perang Bubat terlebih – lebih setelah era Hayamwuruk berakhir, yang menyisakan perang Paregreg yakni perang saudara yang terlama. Saat rezim Tribuana Tunggadewi dengan Prabhu Hayamwuruk ini (selama 61 tahun) , identik dengan kepemimpinan empat windu Pak Harto yang solid dan kokoh, dunia mengagguminya sebagai macan Asia, dan Pak Harto pulalah yang mengembangkan wawasan Nusantara dengan beberapa satelit komuniksi dengan nama “Palapa”. Namun pada 1997 karena direcoki dan kesakrahan putri – putra & para kroninya, tak ketinggalan maraknya privilege dan KKN serta gaya leadership kedatonan yang represif – otoritanian – militeristik mengakibatkan kemunduran/kehancuran. Kehancuran tersebut ditandai dengan kroposnya fundamen ekonomi dimana krisis moneter terjadi pada medio 1997 yang berkembang menjadi ultra krisis dimensional, sehingga memaksanya lengser keprabon pada 21 Mei 1998. Setelah menjabat sebagai Presiden untuk ke enam kalinya dimana yang terakhir hanya seumur jagung. Imperium yang ia bangun selama 32 tahun telah mendera rakyat ini dan lebih 10 tahun keadaan berbangsa & bernegara masih belum mampu bangkit dari keterpurukannya dan justru makin tersuruk – suruk menjadi negara termiskin urutan 68 dari 100 negara di dunia. Bila dilihat leadership Pak Harto tersebut, ada yang berkesimpulan, identik dengan raja Mataram, yang maaf kakinya (konon) kencet yang bertahta di Kartasura, dimana Pamannya pun diburu mau dibunuhnya yang justru akhirnya dinobatkan sebagai Paku Buwono I, dimana sebelumnya puluhan ribu orang termasuk ulama dan kerabat raja yang dianggap makar & mbalela (berseberangan) atau mengganggu privasi sang raja pasti dilibas tanpa ampun. Namun bila dianalogikan dengan situasi dan kondisi ketata pemerintahan ada kemiripan dengan ke dua pemimpin Majapahit tersebut. Uniknya bila King Maker Rajapatni Dyah Gayatri menghilangkan apa yang diwariskan oleh R. Wijaya tentang gen (wangsa/clen), leluhur dimana ia mengagungkan Ken Arok sebagai moyangnya, sehingga gelarnya dipakai olehnya dengan sebutan “Rajasa” demikian juga dengan nama kakek Rajapatni sendiri yakni i “Jayawisnuwardhana (Ranggawuni/Seminingrat)” dijadikan gelar gabungan oleh R. Wijaya menjadi ” Prabhu Srikertarajasa Jayawardhana Dyah Sang Rama Wijaya”. Hayamwuku pun memakianya demikian pula keturunan – keturunannya.(Jadi tak mungkin Ken Arok pemilik gelar itu super bejat bukan ?) Sayangnya Oleh Rajapatni garis Ken Arok (Rajasa) sengaja diputus dengan menempatkan garis keturunan kakeknya saja yang diutamakan menjadi penerus dinasti selanjutnya, yang kelak menuai konflik. (Lihat Wikramawardhana atau Damarwulan versus Bre Wirabhumi). Bukankah ini identik pula dengan rezim Pak Harto yang juga dengan sengaja menghilangkan atau memutus jasa besar Bung Karno (Desoekarnoisasi), sebagai pendahulunya yang memerdekakan bangsa ini ? Bahkan (Alm.) Soebadyo Sastrosatomo dalam bukunya “Era Baru Pemimpin Baru – Badio Menolak Rekayasa Rezim Orde Baru” menyebutkan bahwa : ” Sekarang ini seolah – olah sejarah Indonesia itu dimulai dari lahirnya Orde Baru”. Ia menambahkan “yang membedakan antara Bung Karon dengan Pak Harto adalah bila Bung Karno mengorbankan nama baiknya demi rakyat sebaliknya Pak Harto mengorbankan negara demi pribadinya”. Uniknya lagi juga mirip dengan fungsi Tribuana Tunggadewi yang sebagai pelaksana eksekutif berhubung Ibundanya sebagai seorang Bikuni. Sementara Pak Harto dengan “SUPERSEMAR”, awalnya juga hanya sebagai Pjs. Presiden NKRI sebagaimana TAP MPRS No. XXXIII/1967, yang berlaku surut mulai 22 Februari 1967. Anehnya pula pada akhir kekuasaannya juga direcoki oleh putra – putrinya persis pula dengan Prabhu Hayamwuruk ? Adapun soal asmara bila Prabhu Hayamwuruk gagal mempersunting Dyah Pitaloka atau Citraresmi (adik Pamanah Rasa/Prabhu Niskala Wastukencana/Siliwangi) putri dari Prabhu Anggalarang dengan Retna Nastularang atau Dewi Lancang Kamurang, karena terjadinya Perang Bubat dimana seluruh rombongan Temanten termasuk sang raja terbunuh demi mempertahankan harkat dan martabat seorang raja yang berdaulat. Dyah Pitaloka pun tak urung suduk salira alias ikut bunuh diri. Yang mengakibatkan Gajah Mada mendapat sangsi karena dianggap melangkai domain Sang Prabhu Hayamwuruk, sedangkan Gajah Mada semata – mata hanya ingin meluhurkannya sebagai raja Nusantara yang tunggal, oleh sebab itu Pajajaran dianggap sebagai kerajaan bawahan. Sedangkan Pak Harto hanyalah berseliweran rumor dengan seorang artis yang sulit dipertanggung jawabkan . Dari kisah ini apakah tidak ada baiknya bila para elit penyelengara negara ini berfikir secara frontal attack demi nusa dan bangsa seharusnya mendorong munculnya seorang pemimpin baru yang visioner, credibel, relayable, cerdas, teguh, jujur, konsisten dan berani menegakkan sebuah kebenaran dan keadilan semata – mata demi terwujudnya kesejahteraan rakyat sebagai “Solus populi est suprema lex”, kesejahteraan rakyat adalah hukum tetinggi, tidak saling mematikan//. Ada khabar baik bahwa selama ini masyarakat tatar Pasundan menabukan Majapahit dan sebagai refleksi dendam berkepanjangan maka tak ada satu jalanpun di sana yang menggunakan nama Majapahit maupun para raja dan punggawanya//Keprihatinan Pemulung terjawab lewat kasepuhan Kuth Pangrango yang telah membuat suatu “TAMAN GAJAHMADA DIMANA TERDAPAT PATUNGNYA yang SEDANG MENYERAHKAN TONGKAT ESTAFET KEPADA BUNG KARNO” yang berada di Kawasan Cibeas, pantai Selatan Sukabumi//bravo bung kuth//Dan keiinginan Cagub Jabar ? yang ingin membuat film tentang persaudaraan antara Pajajaran dan Majapahit perlu disambut dengan baik dan semoga para sineas dan sejarawan mampu merevitalisasi sehingga tidak justru menonjolkan sifat konfrontatif demi terjalinnya “REKONSILISASI SEJARAH”.

Guna mendapatkan hikmahnya, sekali lagi kami mohon maaf dan hendaknya dijauhkan dari anggapan bahwa ilustrasi yang disuguhkan ini adalah suatu kebenaran, apa lagi stigmaisasi “BRAWIJAYA I – V, karena belum ada sejarawan yang secara keilmuan menetapkan beliau – beliau itu nama sebenarnya siapa saja dan tahun memerintahnya dari tahun berapa sampai kapan ?. Sungguh sesuatu yang muskil karena sulitnya mencari sumber kepustakaan dan jeda waktu yang lebih separoh millennia. Sementara sejarah yang ditorehkan rezim yang menamakan diri sebagai “Orde Baru” pun (yang saksi hidup masih banyak) hingga kini begitu pekat dan ironisnya justru institusi yang bersangkutan, (maaf TNI AD) nampaknya begitu gamang untuk meluruskan sejarah bangsanya. Seyogyanya sebagai “Dipanya Negara” berkenan melaksanakan wasiat leadership Gajah Mada “ Katakanlah yang benar dengan sebenarnya dan katakanlah pula yang salah dengan sebenarnya”. Bila itu dilaksanakan (secara benar, tepat dan bersih) maka akan sangat luar biasa dan biarkanlah nantinya rakyat Indonesia yang menilainya. Tidak membiarkan kenanaran sejarah yang justru menimbulkan polemic yang tidak berkesudahan. Seperti buku ajar gara – gara tidak mencantumkan dibelakang “G 30 S” dengan kata PKI, maka spontan Jaksa Agung melarangnya. Tentu menjadi sangat bijak bila Pemerintah mau membuat suatu team pelurusan sejarah bangsa sehingga penilaian terhadap actor sejarah tidak timpang dan sejarah hendaknya tidak diterjemahkan dengan masa kekinian! Telah tiga presiden R. I. Yang wafat dan ke tiganya sama – sama dipuja disanjung dan sekaligus dihujatmya! Oleh siapa ? Anak – anak bangsanya sendiri. Sungguh kasihan mereka. Dan kita pun dituntut bijak & tidak alergi dengan sejarah karena itu bukan kebenaran mutlak sebagaimana diwasiatkan MPU TANTULAR “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”, yang konotasinya k.l “Sungguhpun (sebutan – NYA itu berbeda – beda namun satu jua adanya dan tiada kebenaran TUHAN itu yang mendua”. Yang telah dijadikan sesanti di dalam lambang “Garuda Pancasila dan Lemhanas”! Maka anjuran Bung Karno “JASMERAH”, seharusnya mutlak dihayati oleh setiap anak – anak bangsanya sendiri.

MITOLOGI LERADERSHIP GUS DUR

Satria Lelana tapa ngrame – wuta ngideri jagad, adalah Presiden IV, Abdurrahman wahid (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001). Gus Dur yang memiliki handicap penglihatan ini justru tercatat paling sering dan paling banyak mengadakan lawatan ke berbagai negara termasuk ke Timur Tengah, AS dll. untuk meyakinkan negara – negara di dunia dalam rangka pemberdayaan NKRI. Sekalipun penglihatannya terganggu justru ia paling piawai memikat lawan bicaranya sehingga protokeler sering terabaikan karena waktu hanya 30 menit bisa sampai 1 jam dengan kekayaan joke – jokenya yang begitu segar dan uptodate. Tapa ngrame disini mimiliki makna bahwa ia selalu membela & berbuat kebajikan kepada siapa saja khususnya kepada kaum minoritas dan kaum tertindas oleh siapa saja. Gayanya yang ceplas – ceplos, pemberani yang cenderung memberikan pernyataan yang saling kontradiktif serta membingungkan bagi orang awam ,dianggapnya dia adalah sosok seorang wali bahkan diyakini oleh sebagian kaum nadliyin memiliki ilmu Laduninya Nabi Khidir a.s. Ribuan nomer telepon yang ia miliki, ia hafal di luar kepala, sekalipun ia nampak tertidur namun mata hatinya selalu terjaga. Dan konon berbagai kelebihan lain ia miliki pula. Itulah sosok Gus Dur sang kyai, yang juga sebagai budayawan, humoris, filosuf tokoh prodem itu.

DRAMA PEMERINTAHAN REFORMASI DI BAWAH GUS DUR

Sebagaimana tuntutan reformasi, dengan adanya Pemilu dipercepat dengan hasil 33,7% yang dimenangkan MEGA/PDIP, toh tidak serta merta mengantarkan Mega sebagai i RI I Bursa Capres pun semakin panas karena Ketua Partai Bulan Bintang (PBB) Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra ikut mencalonkan diri di samping Gus Dur dan Mega. Selang beberapa saat Yusril mengundurkan diri sehingga bursa tinggal dua orang. Sidang MPR pada 20 Oktober 1999 mengadakan pemilihan presiden dari hasil pemungutan suara tercatat yakni :

1. Gus Dur (373)

2. Mega (313)

3. 13 suara dinyatakan abstain dan rusak dan akhirnya Gus Dur resmi menjadi Presiden RI.

Akibat konspirasi elit Senayan tersebut maka rakyat, Sang pemilik sah kedaulatan marah, maka : Bali, Medan dan Solo sebagai basis Mega, rusuh & terjadi pembakaran. Situasi panas semakin membara karena manuver politik, cawapres pun bermunculan dari Akbar Tanjung (Golkar); Wiranto (Daulat Umat, dll); Hamzah Haz (P3) dan Mega yang justru diusung oleh PKB bukan oleh partainya PDIP. Akhirnya Akbar Tanjung & Wiranto legowo untuk mundur dari pencalonan dan tinggal Mega dengan Hamzah Haz. Persaingan semakin alot dan dari 675 anggota MPR yang hadir 396 memilih Mega dan 284 memilih Hamzah Haz, 5 abstain. Maka Mega sebagai Wakil Presiden menggenapinya sebagai ban serep, dalam pemerintahan Gus Dur dengan “Kabinet Persatuan Nasional baik I maupun II”, yang dipenuhi dengan bongkar pasang para menteri baik yang mengundurkan diri maupun yang dipecatnya. Keberanian Gus Dur merampingkan jajaran departemen dengan menghapus Departemen Penerangan dan Departemen Sosial telah membuat kontroversi dan menyebabkan para karyawan di kedua institusi tersebut resah. Dengan melihat adanya penyimpangan perekrutan eselon satu oleh orang – orang yang dekat Gus Dur yang kebetulan menjadi anggota “Kabinet Persatuan Nasional”, dengan memasukkan orang – orang parpol ke dalam departemennya, sehingga memaksa Megawati sebagai Wapres memberikan surat teguran setidaknya kepada tiga menteri yakni Menkeu Bambang Sudibyo (PAN, 1 orang), Menteri Kehutanan & Perkebunan Nur Mahmudi Ismail (Partai Keadilan, 2 orang) dan Meneg Penanaman Modal & Pembinaan BUMN Laksama Sukardi (PDIP, 5 orang). (Panji Masyarakat No. 45 Tahun III, 1 Maret 2000 hal. 74). Apa lagi kebiasaan Gus Dur yang cenderung ceplas – ceplos, sehingga pernyataannya sering dianggap oleh banyak pihak tidak konsisten, membingungkan, bias dan provokatif sehingga membikin gerah Poros Tengah. Oleh sebab itu Gus Dur, secara resmi mengangkat Juru Bicara Kepresidenan yang pertama kali dengan Kepres No. 225/M tahun 2000 kepada Wirmar Witular, kemudian M. Yahya C. Staquf juga M. Massardi. Karena mereka tidak memiliki latar belakang public relation sama sekali maka apa yang dimaui Gus Dur agar rakyat tidak bingung justru sebaliknya. Seperti, Wimar Witular menterjemahkan instruksi Gus Dur agar Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk segera menangkap tiga pejabat penting yang terlibat KKN, hingga batas Maret 2001, jika batas waktu itu tidak terpenuhi maka Jaksa Agung Marzuki Darusman akan diberhentikan dari jabatannya, yang telah mengundang banyak kritik. (Suara Pembaharuan 20/3/01). Walau akhirnya Jaksa Agung Marzuki Darusman diberhentikannya pada 1 Juni 2001. Apa lagi para anggota DPR dianggapnya masih sebagai “Taman Kanak – Kanak” (TK). Ternyata apa yang didambakan oleh Poros Tengah tidak menjadi kenyataan, kecele! Karena, Gus Dur orang yang keras & teguh serta pemberani. Setidaknya Menteri Koordinator Politik & Keamanan Jenderal Wiranto ia berhentikan saat Gus Dur sedang mengadakan lawatannya ke luar negeri.! Untung Wiranto menerima dengan legowo bahkan ia justru menjadi ikon dengan kegiatan talk show bernuansa kasual & santai baik di radio M97 maupun di RCTI lengkap dengan selingan ilustrasi kronologi peristiwa jajak pendapat di Timor – Timur itu. Dalam situasi genting ada upaya pertemuan kwartet reformis yakni Gus Dur, Megawati, Amin Rais dan Sri Sultan HB X pada 1 Agustus 2000, namun toh gagal merajut kembali visi – misi & sinergisme bersama karena komitmen tak lagi mengikat. Akibatnya berbagai parpol pendukung Gus Dur yang kemudian tidak lagi seiring – sejalan itu, maka otomatis timbullah friksi, apa lagi pada 18 November 2000 di hadapan sidang pleno DPR Gus Dur seiring akan diadakannya interpelasi tentang kasus Buloggate & Bruneigate, menyatakan bahwa “DPR bagai Taman Kanak – Kanak”, yang membuat gerah mereka. Bahkan isu makin berhembus kencang di samping tukang pijit Suwondo dan WIL bagi Gus Dur yang nampaknya masih belum mampu dijadikan senjata untuk inpeachment maka seiring adanya issue Bulog Gate yakni pencairan dan penggunaan dana Yanatera Bulog sebesar 35 miliar rupiah dan Brunai Gate yakni sumbangan Sultan Brunei Darussalam, Bulkiah sebesar US$ 2 juta, dianggap cukuplah sebagai suatu kartu truf, maka pansus DPR pun dibentuk, tak kurang 50 orang sebagai anggota yang diketuai oleh Bahtiar Chamshah dengan Tap No. 05/DPR RI/2000 – 2001 tertanggal 5 September 2000. Anehnya sungguhpun Gus Dur mendapat “Memorandum I dan II” dari DPR masih saja begitu pede. Ia selalu menyatakan tidak akan turun dari kursi kepresidenan, kalaupun diimpeachment dia pun tidak takut sama sekali. Begitu bergemingnya Gus Dur bagai batu karang menghadapi tekanan demi tekanan itu. Oleh sebab itu DPR dan elit parpol semakin inten menggalang opini untuk segera diadakan sidang istimewa MPR. Maka upaya pelengseran semakin mulus dengan usulannya ke MPR agar segera mengadakan Sidang Istimewa MPR, guna melakukan impeachment kepada Presiden Gus Dur. Kejagung 2 hari menjelang sidang pari purna DPR mengumumkan bahwa : “Gus Dur tidak terbukti terlibat dalam kasus Buloggate (35 miliar) dan Brunaigate (US$ 2 juta) “. Melihat situasi semakin panas Gus Dur memaklumatkan kepada Menkopolsoskam Susilo Bambang Yudhoyono guna segera mengambil tindakan khusus yang diperlukan. Nampaknya SBY tidak mau, tidak loyal sebagai pembantu Presiden, sehingga akhirnya toh iapun kemudian diberhentikannya, dan mengangkat Agum Gumelar. Sementara Komjen Chaeruddin Ismail dipromosikan menjadi Wakapolri (walau pun jabatan ini tadinya telah ia hapuskan) dan kemudian ditetapkan menjadi Kapolri yang dilantik pada 20 Juli 2001 menggantikan Surojo Bimantoro yang dianggap membandel, toh ia tidak mau turun jabatan karena begitu banyak pendukungnya. Situasi demikian mencekam, Jawa Timur, Pasuruan, Surabaya : kantor – kantor PDIP; Golkar; P3 dan gedung – gedung pendidikan Muhammadiyah menjadi karang abang dan kantor DPRD disegelnya. Pohon – pohon ditebanginya & ditaruh di jalan – jalan. Perang urat syaraf semakin memuncak. Akhirnya DPR pada 30 Mei 2001 mengirim surat kepada MPR, agar segera mengadakan sidang istimewa. Tak ayal maka Sidang Paripurna MPR pun digelar pada 21 Juli 2003 guna menetapkan “sidang istimewa”. Dan Megawati sebagai Wapres yang sekaligus ketua umum PDIP mengundang para elit partai politik ke kediamannya di Kebagusan dan Amin Rais sebagai jubir menyebutkan bahwa tak lama lagi akan ada pemerintahan baru. Maka Gus Dur pun berang, dengan menuduh sebagai MPR Jalanan. Naifnya pada saat Sidang Istimewa, yang dijadwalkan ia memberi penjelasan pada 23 Juli 2001, ia bersikeras tetap tidak akan datang karena menilai bahwa sidang tersebut inkonstitusional. Dan bila perlu akan dinyatakan negara dalam keadaan bahaya serta perlunya Pemilu dipercepat. Benar adanya, Gus Dur pun mengeluarkan Dekrit Presiden yang dibacakan oleh Yahya C Staquf pada 22 Juli 2000, yang antara lain berisi : 1. Pembekuan MPR & MPR 2. Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat & mengambil tindakan serta menyusun badan yang diperlukan untuk Pemilu dalam waktu satu tahun. 3. Menyelamatkan gerakan reformasi total & untuk sementara membekukan Golkar sambil menunggu keputusan dari MA. Konfrontasi semakin memuncak karena MA memberikan fatwa bahwa Dekrit Presiden Gus

Gus Dur

Dur tersebut tidaklah sah, karena Presiden tidak berwenang membubarkan DPR dan MPR. Karena MPR menilai Gus Dur gagal melaksanakan GBHN, maka ia dicopot dari singgasana kepresidenan dan terpaksa ia pun meninggalkan istana pada 26 Juli 2001. Akan tetapi hebatnya fenomena Gus Dur tersebut selang sembilan tahun, kini ternyata diikuti pula oleh Amerika Serikat karena Mr. David Paterson yang juga buta itu berhasil menjadi Gubernur Negara Bagian New York yang dilantik pada 17 Maret 2008. Fenomena Gus Dur adalah merupakan fenomena sejarah yang tak mungkin menjadi mungkin, “probability hystorical”. Gus Dur menjabat sebagai Presiden hanya selama 21 bulan, 27 hari.Dan pada 26 Juli 2001 ia secara resmi meninggalkan Istana Presiden. Dalam waktu 10 bulan pemerintahannya setidaknya telah 40 negara di dunia ia kunjungi. Sebagaimana Jangka Jayabaya, ia pun termasuk dalam era “Kala Sinela sebagai Presiden seselan – pengantara – adhock”. Yang secara mitologis dinyatakan sebagai “Satria Lelana Tapa Ngrame – Wuta Hangideri jagad”. Sungguh benar bocoran berita – NYA yang dihimpun oleh Sang Pujangga maka keberatan Bung Bani yang tinggal di Sumut, tentang ramalan Jangka Jayabaya agar diganti “paweling” dapat dibenarkannya. DAUR ULANG : Rajasawarddhana Sang Sinagara, Bre Pamotan, Kling & Kahuripan atau Brawijaya III (1451 – 1453), Adalah Identik Dengan Rezim Gus Dur (1999 – 2001). Sama – sama memerintah hanya 2 tahun! Sedangkan Presiden KH. Dr. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ibaratnya identik Brawiwijaya III. Yang uniknya pemerintahannya sama – sama didera oleh persoalan internal yang akut dan pemerintahan keduanya nya pun begitu singkat hanya dua tahun. Rezim Gusdur justru direcoki oleh DPR/MPR dengan inpeachmentnya (pemakzulan), inilah politik!. Sekalipun tak terbukti terlibat kasus Bulog Gate dan Brunei Gate, yang dinyatakan oleh institusi Kejagung tak terbukti, toh beliau dilengserkannya. Ini mirip dengan pendahulunya BUNG KARNO, sekalipun telah menyampaikan “Nawaksara” dan “Addendumnya”, MPR bentukan Pak Harto tetap saja melengserkannya dan naifnya TAP MPR No. XXX/1967 dibiarkan saja tetap abadi dimana MPR hingga kini tak mau mencabutnya! Quovadis MPRku! sosok Keduanya tak akan pernah habis untuk ditulis. Kembali tentang “GEN”, memang secara biologis menurut pengakuan Gus Dur konon ia masih teraliri darah moyangnya dari trah Majapahit, garis Raden Patah ?. Gus Dur merupakan pertemuan muara – muara darah orang besar (gen) pada jamannya. Maka tidaklah aneh bila beliau sebagai sosok presiden yang unik, sebagai ulama, budayawan, fisuf, homoris, pendiri Prodem, bahkan sebagian besar kaum nadliyin mempercayainya bahwa ia adalah sebagai wali yang memiliki ilmu Laduni. Sedangkan pengertian wali, merupakan kata jadian dari walaa – yalii yang artinya mencintai. Maka, sebagai isim maf’ul (kata sifat bentuk pasif), wali berarti “yang dicintai” alias kekasih. Bisa kekasih Allah seperti QS 10 : 62 “Wahai, sungguh para wali (kekasih) Allah itu,tidak ada takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih”. QS : 7 : 196 “Dan dia melindungi (yatwallaa) orang – orang saleh”. Sementara kaum modernis mengartikan bahwa wali hanyalah sifat yang dicapai oleh siapapun yang sudah demikian tinggi ketaqwaannya, jadi bukan merupakan gelar khusus seperti nabi & rasul. Mereka tidak takut ketika semua orang diliputi kecemasan. Mereka tidak sedih ketika semua manusia dilanda kegundahan. Ada fenomena yang menarik paska wafatnya Gus Dur, toh dari makamnya saja nyatanya masih memberkahi masyarakat Jombang karena bludaknya para peziarah bahkan ada kelompok ziarah wisata yang menjadikan makamnya menjadi tujuan utama setelah para wali. Sebaliknya para pengecamnya, dapatkah makamnya kelak masih pula memberikan berkah bagi orang lain yang masih hidup ?. Setidanya secara ekonomi saja ?. Tak dapat disangkal bahwa berliau adalah seorang yang genius, keras dan pemberani. Gus Dur memandang semua persoalan itu dengan begitu simple, sederhananya, sesulit dan segenting apapun sehingga “GITU AJA KOK REPOT” menjadi trademarksnya. Bisa jadi itu karena penghayatan “keberserah dirian ke haribaan – NYA telah dapat dihayatinya secara total”. Sayang saat jengkar dari istana, para wartawan usil menjelang lengsernya Gus Dur walaupun hanya berpakaian celana pendek pun masih dishooting, yang seharusnya tidaklah vulgar seperti itu, yang semestinya tidak layak tayang karena apapun dia adalah Presiden kita. Kita wajib menghormatinya. Sugguhpun demikian banyak yang menyayangkan bahwa ketika seiring tibanya pilpres pada 2009 pertentangan antara Paman dengan sang kemenakan meruncing. PKB yang didirikannya adalah merupakan satu – satunya kendaraan sehingga siapapun yang berani melawan kebijakannya pasti tersingkir. Tak kurang Sang Ketua Umum PKB dari Matori Abduljalil & Alwi Sihab . Yang terakhir Muhaimin Iskandar yang gigih mempertahankan kedudukannya sehingga terjadilah “pengurus kembar” yang semua mengklaim paling legitimate. Namun realitasnya MA justru memenangkan gugatan PKB Muhaimin sehingga Sang Ketua Umum PKB MLB Ancol ini mengancam agar KPU tunduk dan hanya mengakui kader yang ikut Pilkada hanyalah yang tergabung dalam jajarannya. Sedangkan Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro yang membidani lahirnya PKB justru dinafikannya. Quovadis! Pertarungan telah dimulai pra Pemilu 2009 lalu dan islah hanya mungkin dapat dilakukan manakala masih ada kebesaran jiwa dari kubu (yang diuntungkan) tersebut. Kasihan para nadliyin! Dengan wafatnya Gus Dur seharusnya kader muda yang diuntungkan oleh Gus Dur, sang ketua dan pentholan PKB yang menjabat menjadi menteri seyogyanya melaksanakan idialisme, ajaran dan wasiat Gus Dur. Akuilah bahwa demi kekuasaan, pertikaian pun dimunculkan dan sayangnya PKB sebagai koalisator Partai Pemerintah bertekuk lutut dalam menyuarakan kebenaran. Bahwa antara yang Haq dengan yang batil itu teramat jelas batasannya apa lagi tentang “CENTURY GATE”! Bila Gus Dur mewariskan PKB dan demokrasi, HAM serta pluralisme bahkan sebagai pengayom warga minoritas adalah dharma yang harus diteruskan oleh kaum nadliyin dan utamanya para elit PKB sesuai dengan nama partainya “Kebangkitan Bangsa”! Bila ini dilalaikan maka bila ada Pemilu 2014 lagi tak ayal akan ditinggalkan oleh para konstituennya. Sementara Prabhu Brawijaya III, mewariskan kerajaan yang beberapa dasa warsa memang telah kropos, sekalipun upaya mati – matian pendahulunya Brawijaya II telah maksimal untuk menangkap para pembangkang. Geliat meruyaknya Islamisasi telah mulai terasa sekalipun masih berada pada kawasan pesisiran.

MEGAWATI SEBAGAI IKON SEJARAH, MULAI KIPRAHNYA PADA PEMILU V REZIM ORBA (1992)

Tak dapat dimungkiri bahwa Pemilu Juni, 1992 sudah barang tentu Golkar tetap keluar sebagai pemenang. Sekalipun perolehan suaranya turun menjadi 68,1% (turun 5,1%), sedangkan PPP naik menjadi total 17% dan PDI memperoleh kenaikan yang paling besar yakni 4% menjadi 14,9%. Karena Ketua Umum Suryadi sukses menggandeng putra – putri Bung Karno. Kini ABRI dihadapkan dengan dua pilihan, satu pihak tidak boleh lalai atas isu demokratisasi yang disuarakan oleh PDI dengan clen Bung Karnonya, disisi lain juga harus mewaspadai tindakan Soeharto yang ingin menarik dukungan Islam, munculnya Habibie & pengaruh ICMI nya. Sidang MPR pada Maret 1993 kembali menetapkan BP. Soeharto menjadi Presiden untuk ke lima kalinya,dan Pak Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden, masa bakti 1993 – 1998. Sebelum Pak Harto menetapkan wakilnya, ABRI telah terlebih dulu mendahului mengumumkan bahwa Try Sutrisno, yang merupakan mantan Panglima ABRI adalah sebagai Wakil Presiden, karena Sudharmono SH sebenarnya tidak disukai di kalangan ABRI. Oleh karenanya Pak Harto merasa di “fait accomply” dan, tampaknya ia mulai tidak percaya penuh lagi kepada ABRI. Ketika Pak Harto membentuk Kabinet barunya yang didominasi oleh (yang sebagaian memberikan stigma sebagai) musuh ABRI, yaitu Habibie dan para pendukung visi industri negara & tehnologi tinggi bagi masa depan Indonesia. Banyak yang beramsumsi bahwa Jenderal Beny Murdani diberhentikan dari Menteri Pertahanan & Keamanan dan Soeharto mempromosikan saudara iparnya, Wismoyo Aris Munandar menjadi Kepala Staff ABRI, yang beberapa tahun kemudian memilih pensiun. Jendral Faisal Tanjung, seorang muslim yang taat dan loyal terhadap Pak Harto, diangkat sebagai Panglima ABRI. Soeharto berupaya mengendalikan Golkar dengan lebih kuat dengan menunjuk seorang sipil yang setia/loyal kepadanya, bernama Harmoko sebagai Ketua Umum Golkar pada 1993.(tetapi pada 1998 ibarat menusuk dari belakang?). Sebaliknya di tubuh PDI di bawah Suryadi, Pemerintah menilai tidak lagi aman dengan memasukkan anak – anak Bung Karno. Suryadi tidak menjadi anak yang manis lagi bagi Pemerintah. Maka Pemerintah mulai aktif ikut mengendalikan PDI. Pada saat PDI menggelar konggres IV di Wisma Haji, Medan pada 21 – 25 Juli 1993, terdapat enam calon ketua umum & pemerintah menciptakan konflik internal (managemen konflik) sehingga konggres dari hari ke hari tanpa menghasilkan apa – apa. Maka pada 23 Juli 1993, Jacob Nuwawea dengan tokoh PDI Medan Edy Suparman menabrakkan jib & kijangnya ke pintu gerbang dan menguasai mimbar dengan menyatakan bahwa “konggres telah gagal”. Sehingga dalam kevacuman itu 60 DPC mendesak Mega untuk menjadi Ketua Umum namun karena kehati – hatiannya, ia memilih bersikap pasif saja. Maka jalan tengahnya dibentuklah “carateker yang diketuai oleh Budi Harjono dan Latif Pujasakti selaku Sekretaris”. Usai Konggres Medan yang gagal, maka kemudian banyak DPC datang ke tempat kediaman Mega di Kebagusan untuk meminta kesediaannya agar menjadi Ketua Umum. Taufik Kiemas mencoba menjadi tuan rumah yang baik hanya sekedar melayani para simpatisannya saja. Dengan ketulusan dan keramahannya maka bak gelombang datang silih berganti & pada September 1993, setidaknya 71 cabang memberikan dukungan penuh kepada Mega. Maka barulah Taufik Kiemas ikut memprakarsai kemenangan Mega dengan membentuk team sukses yang dimotori oleh Panda Nababan cs. Maka menjelang digelarnya Konggres Luar Biasa (KLB) di Asrama Haji Sukolila, Surabaya, team sukses ini melakukan konsolidasi dengan cara bergerilya sehingga untuk menyebut para pentholan PDI pro Mega menggunakan sandi Rajawali untuk Mega, Garuda untuk Taufik dan Elang I, II dan seterusnya untuk Nababan dan teamnya. Karena begitu risistensinya Pemerintah terhadap Mega sehingga banyak hotel dan penyedia tempat keberatan untuk mengegelar acara temu Mega. Tapi ketua DPD Jatim, Sutjipto & teamnya tidak kekurangan akal baik melalui gang sempit, pintu belakang sampai mengatasnamakan sebuah perusahaan swasta, semata – mata agar konsolidasi dengan Mega tercipta dengan baik. Tekanan terhadap pengurus DPD/DPC yang pro Mega semakin masif, sehingga Ketua DPC Surakarta, Pak Makya yang mendukung pertama kali terhadap Mega terpaksa membuat pernyataan begitu kecewa memilih Mega yang ditujukan kepada berbagai pejabat sipil & militer di Jawa Tengah, karena begitu hebat tekanan yang dilakukan Pemerintah. Pada 2 Desember 1993, KLB pun dimulai di Surabaya dan Mega pun hampir tak dapat mengikutinya sebagaimana utusan daerah – daerah yang lain yang Pro Mega. Pertentangan kembali muncul saat menentukan system pemilihan Ketua Umum, karena Ketua Carateker menghendaki system formatur yang diketuai oleh Budi Hardjono yang didukung oleh Pemerintah dan ABRI sehingga dengan demikian dapat dipastikan ia otomatis akan menjadi Ketua Umum PDI. Sebaliknya yang pro Mega meminta dengan system pemilihan langsung atau voting. Karena deadlock maka diserahkan kepada Komisi Organisasi, lagi – lagi terjadi baku hantam karena nama – nama yang pro Mega diganti sesukanya atas restu Pemerintah yang sengaja membikin markas pemantau di salah satu ruangan Gedung Komite Olah Raga Nasional Indonesia yang hanya berjarak 200 meter dari tempat KLB. Pejabat sipil & militer dengan berbagai penyamaran ikut memantau dan menghadiri sidang, yang secara inten mempersolid berbagai faksi yang ada, karena disamping kelompok Budi Hardjono ada kelompok 17 (sempalan PDI) yang dimotori oleh Yusuf Merukh & Marsusi, Dudy Singadilaga dll.) serta kelompok Pro Mega. Team sukses Mega terpaksa kucing – kucingan bahkan Yosep, harus bersembunyi di bawah tempat tidur Mega. Pada hari terakhir, 6 Desember 1993 anggota carateker tak ada yang hadir sehingga ke 27 DPD atas sepengetahuan DPC mengadakan pertemuan yang menetapkan Mega sebagai Ketua Umum, dan baru ketahuan bahwa absennya mereka karena harus memenuhi pertemuan yang digelar oleh team pemantau Pemerintah. Dalam situasi yang tidak menentu seperti itulah Mega mengambil inisiatif dengan mengumumkan bahwa secara defacto, dirinya secara sah menjadi Ketua Umum PDIP karena setidaknya ia didukung oleh 305 DPC dan 256 Cabang atau 84% suara. Pemilihan yang ricuh tersebut alhirnya disepakati oleh kubu Mega, carateker, kelompok 17 dan DPP Peralihan, menyetujui untuk diadakan munas pada 22 – 23 Desember 1993. Lagi – lagi Pemerintah & Markas Besar ABRI ikut campur terlampau dalam dengan menghendaki Munas hendaknya diadakan di Wisma Kopo, namun akhirnya munas diadakan di Hotel Garden, Kemang Jakarta dari 22 hingga 23 Desember 1993. Untungnya Mabes ABRI menugaskan Agum Gumelar sebagai Direktur A Bais ABRI yang merangkap menjadi Komandan Kopasus menerjemahkan penugasannya Oleh Ari Sadewo untuk mengamankan jalannya Munas ia laksanakan dengan lugas dan tegas yakni apa yang dikehendaki Munas tersebut. Maka pada jam 2200, tanggal 22 Desember 1993, hanya dalam waktu 5 menit Mega berhasil secara resmi terpilih sebagai Ketua Umum PDIP, karena sebanyak 52 fungsionaris (Ketua & Sekjen) DPD dari 27 provinsi secara aklamasi memilihnya. Angin baru dari petinggi muda ABRI nampaknya memihak padannya. Namun karena banyaknya faksi akhirnya Mega terpaksa harus mengakomodir kepentingan mereka dengan memasukkan Gerry Mbatemoy dari kelompok Persatuan & Kesatuan (gabungan kelompok anti Mega) menjadi jajaran pengurus PDI. Akhirnya terbukti dia bikin ulah dengan dukungan Yayasan Solidaritas dan Generasi Muda PDI memprovokasi bahwa jajaran PDI harus bersih dari bau – bau komunisme sehingga tak kurang 300 orang pengurus ia laporkan ke Panglima ABRI untuk ditindak lanjuti, termasuk nama Taufik Kiemas dan ketua DPD Jawa Barat dll. (Yang setahun kemudian oleh Direktur Bais B, Hendro Priyono, nama Taufik Kiemas, dan lain – lain dinyatakan bersih diri). Disamping itu Gerry terus bermanuver membentuk DPP PDI Resuffle di bawah kepengurusan Yusuf Merukh. Dan terjadilah penculikan Alex sang sekjen PDI serta pengkhianatan Fatimah Ahmad atas backup Kasospol ABRI dll. yang mengantarkan digelarnya Konggres IV di Medan pada 20 hingga 24 Juni 1996 yang akhirnya Pemerintah menjilat air ludahnya sendiri dengan merestui terpilihnya kembali Suryadi yang tadinya tak disukai dengan selalu menyatakan bahwa Suryadi adalah cacat hukum (karena kasus penculikan & penganiayaan dua orang anak buah Yusuf Merukh) menjadi Ketua Umum PDI dengan Butu Hutapea sebagai Sekjen dan Fatimah Ahmad sebagai bendahara. Pada 19 Juni 1996 di Jakarta digelarlah longmars PDI Mega, sebagai protes akan digelarnya Konggres tersebut. Dan pada saat dimulai sidang, di Jakarta kembali terjadi unjuk rasa yang dikawal oleh aparat keamanan namun setibanya di Gambir mulailah tersendat karena melewati Garnisun sehingga meletuslah apa yang disebut dengan “Peristiwa Gambir” itu. Akibatnya menyulut timbulnya mimbar bebas di depan kantor secretariat PDI Mega yang sebelumnya telah diizinkan oleh Pandam Jaya, Sutiyoso. Akan tetapi Pemerintah semakin gerah & upaya penyingkiran Megawati semakin nyata sehingga kantor secretariat PDI diserang masa yang disinyalir dilakukan oleh orang – orang suruhan Suryadi dan aparat keamanan itu sendiri. Yang terkenal dengan “Peristiwa Kudatuli” atau “Sabtu Kelabu”, 27 Juli 1996. Koban nyawa kembali bergelimpangan dan Komnas HAM yang diketuai oleh Baharuddin Lopa, memberikan laporan dengan adil. Penyebab Kudatuli sendiri, konon sebenarnya adalah berkaitan dengan rencana Menlu AS, Christhoper Warren ingin berkunjung ke Indonesia dan menemui Megawati pada 28 Juli 1996.Maka sebelumnya harus didului guna melakukan sock terapy. Para mahasiswa yang kritis terutama yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dikomandani oleh Budiman Sujatmiko, jebolan mahasiswa UGM dianggap sebagai biang keladi terjadinya Kudatuli, sehingga menjadi target aparat keamanan, ia dan teman – temannya diburu dengan stigma sebagai klendestein atau penjelmaan neo komunisme Indonesia, sehingga umat Islam atas ingatan kolektifnya begitu mudah terpancing ikut mengutuk dan memburunya. Karena PDI Mega didzolimi oleh Pemerintah yang sebenarnya giat mengkampanyekan “Sadarkum”, untuk pembelajaran sebagai negara hukum maka Mega memilih jalur hukum untuk mengadukan pelanggaran Pemerintah & ABRI yang menginjak – injak kedaulatan rakyat dengan digelarnya Konggres Medan tersebut. Mendagri Yogie S Memet, Kasospol ABRI Sarwan Hamid dan Panglima ABRI Faisal Tanjung serta Pengurus puncak PDI Konggres Medan, melalui Ketua Team Pembela Demokrasi Indonesia R. O Tambunan (yang tokoh Golkar ini) mengadukan mereka ke Pengadilan. Taufik Kiemas beranggapan bahwa satu – satunya itulah cara perlawanan yang tepat bagi PDI Mega. Eskalase kerusuhan social pada era 90 – an telah mulai nampak, banyak gereja yang diserang dan dibakarnya, korban jiwa berjatuhan. ABRI ikut terlibat beberapa insiden termasuk terhadap aktivis buruh Marsinah yang diculik, diperkosa dan dibunuh, di Jawa Timur. Medan pun pada April, 1994 rusuh, demontrasi yang digerakkan oleh SBSI, Dr. Mohtar Pakpahan yang akhirnya ia pun dijebloskan dalam penjara. Nampaknya memang sudah menjadi kehendak alam, geliat dan gelombang raksasa demokrasi menerjang – terjang Nusantara sementara krisis moneter terjadi pada Juli 1997 yang menyebabkan timbulnya ultra krisis dimensional. Skandal mobil Timor terjadi pada 1996 dengan mengimpor mobil tak kurang dari 45.000 unit CBU dari Korsel, yang mendapat protes keras dari Jepang & Amerika Serikat. WTO memenangkan gugatan mereka dan Indonesia dinyatakan kalah dengan membayar klaim. Dosen UI yang amat vocal yang sekaligus sebagai pentolan Partai PUDI Sri Bintang Pamungkas mengirim kartu lebaran ke berbagai pihak dengan menuliskan penolakannya terhadap pencalonan kembali Soeharto. Sementara Pak Harto begitu yakinnya menaikkan harga BBM dan TDL listrik, seiring panen raya, pada 4 Mei 1997, tapi tak disadarinya bahwa ini pulalah sebagai salah satu pemicu kehancuran ekonomi Indonesia & jatuhnya Pak Harto. Sementara Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. Amin Rais, menyuarakan syarat & kriteria peresiden mendatang dan secara intensif mengadakan seminar – seminar tentang kepemimpinan masa datang. Kaset – kaset pidatonya diburu banyak penggemar. Ia vokalis yang datang dari kota Pelajar, Kota Budaya atau Kota Gudeg guna melaksanakan peran kesejarahannya. Krisis Asia menjalar dari Thailand ke Indonesia. Bila kurs pra krisis Rp 2.500/US$1 saat itu melonjak , pada Januari 1998 telah mencapai Rp 17.000/US$1 atau kehilangan 85% nilainya.

Perjanjian dengan IMF pada bulan Oktober 1997 mengakibatkan ditutupnya 16 bank, akan tetapi 2 bank yang dimiliki keluarga Soeharto dibuka kembali. Dengan demikian IMF menilai bahwa KKN telah benar – benar terbukti merajalela. BLBI yang lebih dari 634 triliun dikucurkan tapi sayangnya telah disalah gunakan oleh para debitor para konglomerat hitam yang kasusnya berlarut – larut hingga kini yang semakin kusut masai sehingga menjerat mantan gubernur BI, Burhanuddin Abdulah dkk. serta keterlibatan beberapa anggota DPR. Dan pada akhir Januari 1998 ia menyampaikan niatnya kepada IMF untuk mencalonkan diri sebagai presiden untuk ketujuh kalinya dengan Habibie sebagai Wapres, maka rupiah kemudian mencapai kurs yang paling jelek sepanjang sejarah NKRI berdiri.

PEMILU VI DI ERA PAK HARTO, 1997

Pada kampanye Pemilu Mei 1997, merupakan refleksi ke tidak – puasan masyarakat atas keadaan social politik bangsa. Kampanye saat itu merupakan kampanye terbrutal dalam sejarah pemerintahan Pak Harto. Megawati yang didzolimi oleh rezim Seharto, terpaksa mengumumkan bahwa dirinya tidak akan menggunakan hak pilihnya dan menyerahkan sepenuhnya kepada para pendukungnya untuk menggunakan hati nuraninya. Mega berani mendeklarasikan dirinya “Golput”. Dan berkad safarinya Mbak Tutut yang selalu didampingi oleh Gus Dur, Golkar meneguk rejeki nomplok, Golkar memperoleh 74,5%, dan PDI hanya memperoleh 11,9% (karena penggembosan Megawati, turun 3%) dan PPP mendapat 22,5%, yang ironisnya perolehan suara terwahid bagi Golkar ini seiring terjadinya masa – masa kerutuhan rezim Soeharto. Di Madura, pendukung PPP yang tidak puas membakar gedung – gedung Pemerintah & Golkar serta menghancurkan kotak – kotak suara sehingga pemungutan ulang pun harus diadakan kembali di sana. MPR kembali menetapkan HM. Soeharto sebagai presiden dan Prof. BJ. Habibe sebagai Wakil Presiden, masa bakti 1998 – 2003. Saat pelantikan Pak Harto , tanggal 11 Maret 1998, kejadian misterius terjadi yakni saat Ketua MPR, H. Harmoko mengetukkan palunya, kepala palunya terbang melesat. Yang ternyata itu pertanda alam juga atau semio buwana loka. Perjuangan Pak Harto, sisi baik Pak Harto semua seolah terkubur, yang tersisa hanyalah sisi buruknya semata. Andai saja Pak Harto itu berkenan menuruti saran dari berbagai pihak dan tuntutan hati kecilnya (TOPP) sendiri untuk tidak mau menjabat lagi presiden pada 93, tentu tidaklah menyedihkanya.

YANG MENJADI CATATAN : TERNYATA HARI WAFAT ORANG TUA, KAKEK – NENEK YANG DITABUKAN UNTUK MENGGELAR HAJAT BESAR, TERBUKTI DENGAN PENGANGKATAN PAK HARTO = HARI WAFATNYA BUNG KARNO!MINGGU KLIWON MAKA HASILNYA PALU PUN LONCAT DAN TURUN TAHTA DENGAN BEGITU TRAGIS! SUKSESI MEGAWATI MENGGANTIAKN PRESIDEN GUS DUR.

Bagi MPR, ibarat suwe mijet wohing ranti, Gus Dur dengan begitu mudah dilengserkannya setelah sebelumnya meminang Megawati untuk menjadi suksesor sebagai RI I., yang kemudian dilantiknya pada 23 Juli 2001. Ironis, stigma haram pun lenyap seiring angin sepoi – sepoi basah yang menyelusup pada diri para penyelenggara negara kala itu. Politisasi agama semakin vulgar adanya. Tragis, sungsang bawana balik telah mulai terjadi, peri keadaban mulai ditanggalkan, sebuah komitmen, tak layak menjadi ikatan moral karena kapan saja tidak suka maka komitmen pun merana. Nilai moralitas – riligiusitas & spiritualitas telah tergadaikan & sebenarnya ini merupakan panen raya dari apa yang selama 32 tahun dikembangkan oleh rezim Orde Baru dengan managemen konfliknya. Fragmentasi politik dengan anarkisme telah menjadi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sunggu ironis, bangsaku !.

SERUNYA PEREBUTAN KURSI WAKIL PRESIDEN

Era reformasi setidaknya membuncahkan harapan demokrasi karena untuk pemilihan wakil presiden demikian serunya. Empat cawapres yakni Akbar Tanjung, Susilo Bambang Yudhoyono, Siswono Yudhohusodo dan Agum Gumelar. Karena alasan tidak ada yang menang mutlak maka begitu alot sehingga memerlukan tiga kali putaran. a. Dalam sidang istimewa hari ke lima, pemungutan suwara cawapres – adalah sebagai berikut : Hamzah Haz (238); Akbar Tanjung (177); Susilo Bambang Yudhoyono (122); Agum Gumelar (4) dan Siswono Yidhohusodo (31) dari 609 anggota MPR yang hadir. b. Putaran kedua : Hamzah Haz (254); Akbar Tanjung (203) dan Susilo Bambang Yudhoyono (147), 3 abstain dan 2 rusak. c. Putaran ke tiga : Hamhaz Haz (240), Akbar Tanjung (237) 29 abstain dan 4 tidak sah dari 610 orang anggota MPR. Akhirnya Hamzah Haz berhasil menjadi wakil presiden R. I. dan dilantik pada 26 Juli 2001. Karena tokoh – tokoh reformis terpesona saling mempertontonkan kecanggihannya berakrobatik demi sebuah kekuasaan, menjadikannya mereka lupa bahwa sebenarnya “semuanya mengemban amanat rakyat atas tuntutan reformasi paripurna”. Akibatnya yang terjadi adalah gelap mata sehingga tanpa mandat rakyat, anggota MPR 1999 – 2004 memandang bahwa kekisruhan berbangsa & bernegara ini akibat jeleknya UUD 1945 maka tidak ada jalan lain kecuali UUD 1945 tersebut harus dipermak, direstorasi dan diganti total sehingga memerlukan empat kali amandemen. Mereka lupa bahwa “The man is behind the gun”. Undang – Undang apalagi itu UUD yang seharusnya dilaksanakan dengan baik dan benar , tepat & bersih (suci) (bener tur pener serta suci). Ini tidak (dapat) melaksanakannya namun justru mempermaknya sekehendak hatinya. Akibatnya terjadilah “kecelakaan/tragedi/bencana konstitusi”, itu ! Sebagai pemegang mandat rakyat, yang apa lagi terdiri dari insan – insan religius konon dalam mengamandemen UUD 1945 nampaknya tidak mendasarkan kepada Sila I, Ketuhanan Yang Maha Esa. Rakyat Sang pemilik sah kedaulatan bertanya – tanya apakah sebelum melakukan amandemen bagi yang beragama Islam telah terlebih dahulu melakukan pendekatan diri kepada Sang Khaliq guna mendapatkan “enlightening – pencerahan – NYA” ? apakah dengan laku shalat hajat, istikarah, tawasul, tahanut atau bagi yang lain dengan samadi – meditasi atau bahkan dengan berpuasa, sebagaimana dicontohkan oleh Mahapatih Gajah Mada dan raja – raja masyhur lainnya ? Sedangkan saat saban hari menggelar sidang MPR pun konon tidak didahului dan atau ditutup dengan doa. Kalau benar demikian adanya, kemanakah penghayatan spiritualitas – religiusitas mereka ? Otomatis secara spiritual Sila I Pancasila tidak lagi terjiwai ! Oleh sebab itu keputusan apapun yang diambil tidak pernah mencerminkan terpenuhinya amanat penderitaan rakyat yang sekaligus tentunya amanat Tuhan Seru Sekalian Alam. Fox Dei – Fox populi. Kebijaksanaan hanya tertuang dalam kalimat, gumpalan ribuan ton kertas yang jauh dari penghayatan dan realitas. Klaim Ketua MPR, Amin Rais bahwa amandemen UUD 1945 adalah merupakan sumbangsih & maha karya yang bijak bestari oleh anggota MPR (1999 – 2004), sejatinya pemutar balikan suatu fakta, adanya. Semua peri kehidupan berbangsa & bernegara harus diatur dengan belasan ribu undang – undang. Kita lupa bahwa sebaik apapun undang – undang di tangan orang – orang yang tak berbudi maka tidak akan ada artinya apa – apa. Maka pernyataan Taverne yang menyatakan : “Berikan kepadaku hakim dan jaksa yang baik, maka undang – undang yang burukpun saya dapat membuat putusan yang baik. Dan Gerry Spence, advokat senior AS menyakan : “Sebelum menjadi ahli hukum profesional jadilah manusia yang berbudi luhur (evalued person) terlebih dulu, kalau tidak, para ahli hukum hanya akan lebih menjadi monster dari pada malaekat penolong orang susah”. Adalah benar & mutlak adanya. Dari berbagai peristiwa tersebut bahwa “budaya tiruan – bangsa imitasi” serta “ambisi kekuasaan” ternyata justru dapat menghancurkan bangsa dan negara. Sehebat apapun yang namanya tiruan adalah tetap tiruan. Maka hipotesis Ibnu Khaldun (1332 – 1406M) yang menyatakan bahwa : “Bangsa pecundang gemar meniru bangsa yang lebih kuat, baik dalam slogan, cara berpakaian, cara beragama, gaya hidup serta adat istiadat”, adalah benar adanya.

SATRIA PININGIT HAMUNG TUWUH

(Presiden V Megawati Soekarnoputri (23 Juli – 20 Oktober 2004).

Ia acap kali didzolimi oleh rezim Pak Harto bahkan sering dilecehkan sebagai ibu rumah tangga hingga masa reformasi. Nampaknya makna piningit disitulah sehingga mereka tak tau bahwa Mega pada saatnya akan memimpin negeri ini.

Megawati Sukarno

Makna hamung tuwuh (hanya tumbuh) karena ia putri Proklamator & mantan Presiden I, Dr. Ir. H. Soekarno, yang akan mengikuti jejak langkah ayahandanya. Sayang sebagai pemenang Pemilu 1999, ia tidak serta merta terpilih sebagai presiden ia diganjal oleh Poros Tengah dengan isu jender yang menyakitkan. Mega adalah ikon demokrasi dan atas kepeloporannya menempuh jalur hukum terhadap pejabat negara seperti Panglima ABRI, Faisal Tanjung; Kasospol ABRI Syarwan Hamid dan Mendagri Yogi S Memet, yang sebelumnya adalah hal yang amat sangat tabu dan tak seorang pun berani melakukannya. Ia juga sebagai ikon sadarkum sehingga mulai saat itulah bahwa rakyat tak lagi merasa takut terhadap para pejabat yang sewenang – wenang. Sadarkum yang digalakkan oleh rezim Pak Harto via menteri penerangan Harmoko, ibaratnya senjata makan tuan atau senjata bumerang yang mengenai dirinya sendiri. Sayangnya ia ditakdirkan hanya bertumbuh (hamung tuwuh) yang belum sampai berbuah.

DAUR ULANG SEJARAH :

Rezim Singhawikramawarddhana Dyah Suprabhawa, Bre Tumapel – Bre Pandan (s) alas atau Brawijaya IV (1466 – 1474), Identik Dengan Rezim Megawati Soekarnoputri (2001 – 2004) Sebenarnya oleh ayahandanya BUNG KARNO, Mega dan atau kakak dan adik – adiknya dilarang untuk menjadi presiden atau terjun di dunia politik. Karena tidaklah mudah dan enak menjadi seorang Presiden yang sejati karena seluruh hidupnya harus diabdikan kepada kepentingan rakyat. Tapi alam berkehendak lain, sementara Ibu Megawati Soekarnoputri ibaratnya Brawijaya IV (walau secara supranatural ada yang menyamakan beliau dengan keberadaan Kencana Wungu ?). Bila menengok masa Majapahit, apa yang diperjuangkan oleh Pangeran Bre Wirabhumi ternyata tidak sia – sia karena putrinya Suhita (yang oleh foklore dikenal dengan Waita Puyengan) berhasil menjadi ratu paska Damarwulan tersebut. (Ada sejarawan yang menyatakan bahwa Pangeran Bre Wirabhumi ada yang menyatakan tewas di tangan Raden Gajah di tengah laut sementra sejarawan lain menyatakan bahwa antara Bre Wirabhumi dengan Brawijaya I (Damarwulan) telah mengadakan agreement atau consensus agar putrinya kelak dijadikan ratu Majapahit. Hal ini menurutnya ditandai dengan adanya candhi Minak Jinggo dan Damarwulan berada di dalam satu khomplek ?). Mungkin itu yang lebih mirip dengan rezim Megawati yang merupakan hasil kompromistis dari poros Tengah setelah Gus Dur dilengserkannya. Bila Megawati adalah putri Presiden I Republik Indonesia yang nota bene sebagai ibu rumah tangga demikian pula Suhita, dia adalah putri Adipati Blambangan, Pangeran Wirabhumi yang juga sebagai istri Wikramawardhana. Namun karena alur bahasan sequensikal (berurutan) tidaklah perlu menjadi polemik adanya semata – mata guna menangkap tanda – tanda alam yang bias kit abaca. GODO WESI KUNING, nampaknya berpindah kepemilikannya dari Damarwulan (Brawijaya I) hingga Brawijaya V ? yang bisa dialegorikan dengan PANCASILA oleh NPKRI.

Rabu pukul 8:40

SEKELUMIT PENGGALAN SEJARAH MAJAPAHIT

Jaya! Rahayu – widada – mulya!

Kehadapan para kadang sutresna yang kami muliakan/

Perkenankanlah kami menlanjutkan renungan daur ulang sejarah yang saat ini banyak kemiripannya dengan situasi dan kondisi kerajaan nasional Majapahit era Prabhu Alit Angka Wijaya atau yang bergelar Prabhu Brawijaya Pamungkas (V).

Beliau adalah putra dari Bre Pamotan (Sang Sinagara namun dalam serat Pramono Sidi Brawijaya V adalah putra Prabhu Bratanjung atau Brawijaya IV dengan Dewi Tampen, dar iLumajang ) yang memerintah dari 1451 hingga 1453 yang memiliki 4 putra yakni : Bhre Kauripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan (unior) dan Bhre Kerta Bhumi yang menjadi raja terakhir Majapahit (sekalipun masih ada rezim namun di bawah pengawasan kerajaan Demak/.

Sang Raja wafat pada 1453 karena putra – putranya masih kecil maka kerajaan vacum selama 3 tahun sehingga diangkatlah Bre Wengker atau Abhiseka Hyang Purwawisesa Girisa Wardhana yang memerintah dari 1456 – 1466.

Kemudian tahta diteruskan oleh Bhre Pandan(s)alas I ( R. Sumirat) . Memerintah dari 1466 – 1468.Yang bergelar Sang Sinatria Pinadita. Sayang beliau lebih suka mengikuti nuraninya sehingga memilih jengkar kedaton setelah ke Gunung Lawu kemudian bebadra di Gunung Kidul, DIJ. dan dinyatakan moksa di NGOBARAN, pantai selatan Gunung Kidul.

Tampuk kerajaan dilanjutkan oleh Pandansalas II (1468 – 1474).

Kemudian, Bhre Kertabhumi yakni R. Alit Angkawijaya memerintah dari 1474 – 1478. Beliau memiliki istri dari Champa (Cempo atau ada sejarawana yang mengatakan Jeumpa, Samodera Pasai (NAD) bernama ANDARAWATI (CITRAWULAN) yang masih bersaudara dengan Pangeran Makhudum yang kemudian dikenal dengan SUNAN AMPEL (adik kandung Ratu Champa tersebut). Sehingga ia diberi keleluasaan dan otonomi di desa yang dipihnya yakni Desa Ampel Gading di pinggir Sungai Mas, Surabaya yang kemudian menjadi wali?.

Dari perkawinannya lahirlah seorang pria rupawan bernama KASAN atau Hasan Li Chi Anbhun atau Pangeran Jimbhun atau Al Fatah atau R. Patah. R. Patah ( kecil) diasuh oleh Pamannya Adipati Arya Damar ( ada yang menyatakan bahwa dia adalah Swan Liong dan dalam buku babad justru dia anaknya sendiri dengan istri bernama Dewi Dillah sehingga anaknya disebutnya dengan Arya Dillah) di Palembang dan setelah dewasa berlayar ke Majapahit untuk mencari ayahandanya. Andarawati (pendapat lain Andarawati adalah seorang Ratu bukan dari Champa yang melahirkan seorang putri bernama Retna Pembayun, sedangkan yang dari Champa lazim disebutnya Putri Champa atai China saja?) ) kemudian diterimakan kepada Arya Damar dan melahirkan KUSEN (R. Arya Senapati kemudian menjadi Pecat Tanda sebagai adipati di Terung yang didapuk menjadi panglima perang Majapahit pada pertempuran Wirasaba/Sungai Sidayu yang berhasil menewaskan Sunan Ngudung). Kemudian oleh saudara seibu (R. Patah) ia ditarik dan ditugaskan di Semarang). Kusen adalah sosok yang sekti, bahkan saking sektinya oleh Posmo diwartakan bahwa ibunya dari seorang ratu cantik jelita jelmaan raseksi//

Perlu ditambahkan bahwa Jaka Tingkir adalah udeg – udeg (turun VI dari Pandansalas I dan garis Ibu (R. A. TAJUG IiNTEN (NYI AGENG PENGGING I), turun dari Brawijaya V). Sehingga dia memiliki muara dari dua orang raja Majapahit (Pandansalas I dan Brawijaya V). Prabhu Brawijaya Pamungkas memiliki putra – putri sebanyak 117 orang.

SITUASAI MAJAPAHIT DI BAWAH BRAWIJAYA V (1474 – 1478),

Tak mengurangi rasa hormat kita kepada Sinuwun Bhre Kertabhumi (Brawijaya V), bahwa konon keadaan Majapahit yang telah didera oleh berbagai peperangan seperti perang Bubat, perang Paregreg dan invitrasi musuh serta semakin meluasnya para pendatang sebagai pedagang dan penyebar agama baru dr Arab yakni Islam yang tadinya membentuk komunitas di daerah pesisir maka kini menyeruak ke pusat kerajaan seiring kehadiran R. Patah yang masih bersaudara dengan Sunan atau wali sehingga dalam syiar agama menjadi solid karena keberadaan R. Patah yang didukung oleh Wali Sangha (Dewan Wali) atau justru populer dengan Wali Sanga.

Sekalipun pahit demi JASMERAH, perkenankanlah kita membuka lembaran sejarah masa lalu bahwa R. Patah karena perjanjian ayahandanya dengan Ibundanya Andarawati, bila lahir laki – laki maka kelak dijadikan putra mahkota. Maka tak ayal setelah kedatangan R. Patah, dia dimulyakan dengan diangkat sebagai adi pati di Glagah Wangi, Bintara (Demak)
.
(Konon) Islamisasi menjadi target utama yang harus berhasil mengislamkan elit kerajaan sehingga terjadilah suatu “power forses)” dengan berbagai tehnik dan strategi yang berbau kekerasan – penyerangan sehingga elit keluarga raja yang tidak setuju dan tetap meyakini agam “Syiwa Buddha tatwa” memilih melarikan diri ke berbagai penjuru Majapahit.

Singkat cerita, Brawijaya Pamungkas pun ingin meloloskan diri ke Bali, sehingga pengejaran pun dilakukan dan Sunan kali Jaga sendiri mengambil alih misi tersebut dengan berbagai pertimbangan bahwa beliau tetap masih sebagai raja majapahit sehingga kedaulatan dan martabatnya tetap harus dilindunginya, apa lagi masih ada pertalian darah. Maka sebelum menyeberang ke pulau Dewata, perjalannanya tersusul saat masih di Blambangan oleh Sunan Kali Jaga sehingga secara persuasif dan kekeluargaan, karena apapun juga R. Patah adalah putra kandungnya sendiri. Sehingga Sang Prabhu berkenan untuk kembali ke Majapahit. Untuk meyakinkan kebenaran agama baru tersebut Sunan Kali menunjukkan kesaktiannya dengan memasukkan air ke dalam bumbung yang berubah menjadi fregrence atau minyak wangi nan harum semeberbak dengan batas waktu 3 hari. Maka sejak itulah Blambangan berubah menjadi Banyuwangi. Ke barat setelah 3 hari ternyata air tersebut berubah baunya menjadi bacin atau banger (tak sedap) sehingga dinamakan Jember dan seterusnya.

Brawijaya V sendiri hanya mau masuk Islam bila Sunan Kali sendiri yang menuntun membacakan dua kalimah syahadat karena sebagaimana konsekwensi seorang patriot Jawa dia berjanji bahwa dia akan mengembalikan lajer Ratu Tanah Jawa yang asli, maka setelah Sinuwun berkenan dipotong rambutnya ternyata tidak putus sehelai rambutnya pun, maka Jeng Sunan memintanya dengan segala ketulusan hati Junjungannya, maka barulah dapat terpotong.
Namun dalam babat dan jangka, pekathik atau abdi kinasihnya Sabdo Palon Noyo Genggong, sangat menyesalkan keputusan junjungannya, karena itu suatu pilihan maka sang pekathik tersebut lebih suka memisahkan diri dengan supatanya yang kurang lebihnya nahwa : “Manakala 500 tahun agama (baru) Islam tidak berhasil mewujudkan rahmatan lil alamin bagi negeri Nusantara maka hegomoni Islam akan dicabut kembali dan akan disiarkannya ‘AGAMA BUDHI” atau Islam Sejati. (periksa jangka Sabdo Palon Noyo Genggong).

Sudah menjadi kehendak alam bahwa Kerjaaan Majapahit akhirnya runtuh pada 1478 M dengan candra sengkala :”Sirna Ilang Kertaning Bhumi” (1400 S) menjadi tahun Masehi plus 78! Dalam serat Kanda dikiaskan dengan “Janora Yuganingwong”, sama tahunnya.

Demak Bintara akhirnya menjadi kerajaan Islam I di tanah Jawa (sebelumnya di Samudera Pasai yang diberi kemerdekaan penuh memeluk agama Islam tidak diharuskan sama dengan pusat kotaraja Majapahit, toleransi antar umat Berketuhanan telah ada dan sangat dijunjung tinggi) dan R. patah bergelar Sultan Sah Ngalam Akbar Sirrollah Chalifattulrasul Amiril Mukminien Tadjuddin Nagabdulkamidchak atau Sultan Ngadil Suryangalam.

RENUNGAN :

1. Keruntuhan Majapahit disebabkan :

a. PM. Gajah Mada yang super hebat nan sakti , loyal, ahli perang dan dlipomat ulung serta
menguasai ketataprajaan dsb.nya, sebagai manusia tetap saja masih ada kelemahannya.
Setidaknya menurut sebagian sejarawan, dengan pesatnya pembukaan gapura niaga di Tuban dan Surabaya kedatangan para penyusup juga para pendakwah bebas keluar masuk bandar sehingga dalam jangka panjang mampu mengakhiri era kerajaan yang bercorakkan Hindu – Buddha di Nusantara ini.

b. Gajah Mada yang loyalis ingin mewujudkan raja Jawa yang tunggal yakni Majapahit sehingga kedatangan rombongan Dyah Pitaloka, diainggap sebagai tanda pengakuan kerajaan yang tunggal namun Prabhu Wangi dari Pajajaran merasa bukan sebagai kerajaan taklukkan melainkan sama sederajat dengan cara besanan.

Akibat salah pengertian tersebut akhirnya semua ditumpasnya dan Calon pinanganten sendiri memilih suduk salira (bunuh diri). Prabhu Hayamwuruk murka karena PM satu ini dianggapnya telah melampaui domain sang raja. Dendam sejarah telah mulai memudar karena di Jawa Barat telah dibangun “Taman Gajah Mada” yakni di pesisir samudera Kidul tepatnya di Cibeas, Sukabumi yang diprakarsai oleh seorang spirutualis : Kuth Pangrango”.

Skabat Darma Eka

c. PM. Gajah Mada, sedikit alpa tentang “KADERISASI”, seorang pemimpin walaupun memang Sekolah Tingghi Ilmu Pemerintahan sudah ada juga AKABRI jaman itu pun telah ada yang dipusatkan di daerah Lereng Gunung lawu sebelah barat/sekitar Candhi Cetha sebagaimana reportase kadang Dharma Eka CS, yang baru pulang saja itu/

d. Disamping Perang Bubat yang ditandai dengan candra sengkala “Sanga Turangga Paksa wani” (1279 S) atau 1357 M. juga meletusnya perang saudara yang terkenal dengan sebutan Perang Paregreg (1401 – 1406M), sehingga intrik dan curiga – mencurigai menjadi berkepanjangan.

e. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para Sunan – Waliullah yang diberi kemerdekaan dan atau otonomi justru melakukan penyerangan dan pemaksaan sedangkan begitu jelas bahwa “Tiada paksaan dalam beragama Islam”. Bila itu benar adanya, maka bibit kekerasan itu sudah tumbuh sejak dulu kala. Apa lagi pasca Majapahit, peran Sunan Kudus (Syech Jaffar Shodiq) yang konglomerat itu begitu menonjol sehingga ada sejarawan yang menyatakan bahwa kerajaan Demak Bintoro sampai kekurangan penerus raja sebab politik adu domba. Bahkan dl foklore begitu antagonis persaingan antara Adipati Jipang ARIA PENANGSANG yang dijagokan oleh Sunan Kudus versus JAKA TINGKIR yang dijagokan oleh Sunan Kali Jaga, sehingga Aria Penagsang gugur ditangan Suta Wijaya (Anak H. Wijaya?). Dan bahkan Syech Siti Jenar yang menganut paham wajibul wujud sebagaimana pendahulunya Al Halajj bernasib sama “dibunuh”!

f. Bagi sebagian orang bahwa Majapahit (Brawijaya Pamungkas) adalah mewarisi anugerah GUSTI SANGHYANG WIDHI WASA dengan kekayaan yang melimpah ruah termasuk dari warisan Salomon atau Nabi Sulaeman, yang telah direvitalisasikan ke dalam NPKRI tercinta ini. Nah apakah deklarasi Bung Karno bahwa ‘INDONESIA AKAN MENJADI MERCU SUARDUNIA”, ada kaitannya dengan itu, tidak tahu! Walahu’aalam bhishowab.Yang jelas siapapun rezimnya akan dituntut pertanggung jawabannya bukankah diwasiatkan ‘KUTITIPKAN BANGSA DAN NEGARA INI KEPADAMU”!!

2. Kembali kepada jangka Sabdo palon Noyo Nggengong, 500 tahun sejak keruntuhan Majapahit adalah 1478 – 1978, dimana Kaum Penghayat Terhadap Ketuhanan Yang maha Esa, secara resmi diakomodir oleh Pemerintahan Pak Harto. Dalam Pupuh Dandhang Gula, 20 pada (bait) HA hingga NGA banyak yang telah menjadi suatu kenyataan seperti kehidupan saat ini.

3. Beliau menyebut a, l. tentang : Islam Sejati, Syahadat Sejati, Agama budhi dll. Maka ada baiknya bila kita mau mengaji tentang : GURU SEJATI; RASA SEJATI, URIP SEJATI – SEJATINING GURU, RASA URIP.

4. bagi masyarakat Jawa tempo dulu bahwa Sabdo palon Noyo Genggong adalah merupakan personifikasi dari pamomong Tanah Jawa yang dalam pewayangan dikenal dengan nama : SEMAR, SANGHAYNG ISMAYA, JANGGAN ASMARASANTO, DHUDHOMANANG – MUNUNG, BADRANAYA, YANA BADRA TEJOMOYO,ISMORO, SEMARO, NOYONTOKO, JAGAD WUNGKU, JATI WASESA, SURYA KANTHO.

5. Tentang Ratu Champa, bisa jadi ada benarnya berasal dari Kamboja sebab raja Noroodom Sihanouck pernah menyatakan bahwa atas jasa Majapahit, Jayawarman – rakyat Cambodia berhasil gemilang menghadapi musuh (China ?).

6. Dalam masyarakat utamanya yang bergelut dalam bidang spiritual dengan keagungan Brawijaya Pamungkas kemudian timbullah berbagai mitos dan bahkan muncul berbagai penamaan yang membingungkan khususnya bagi yang belum paham atau bertemu langsung seperti nama :
SUNAN LAWU, SINUWUN LAWU, EYANG LAWU, SUHUNAN LAWU ARGAPURA, KANJENG SUNAN LAWU DSB.NYA, Juga banyaknya jalan moksa dengan Pati Obong sehingga penerus kerajaan diyakini sebagai reinkarnasi dari beliau seperti Sultan Hadi Wijaya, Senopati, Sultan Agung, BK dll.
Tentang ini jangan tanyakan kepada Pemulung karena bodo 27!

Nah akhirnya kita serahlan kepada para kadang hikmah apa yang dapat dipetik dan mohon maaf bahwa tulisan di atas sekali lagi bukanlah suatu kebenaran (hakiki) melainkan bagaimana kita harus memaknai JASMERAH! Sehingga bila berbeda dengan apa yang dipahami para kadang selama ini tidaklah perlu untuk diperdebatkannya kecuali menambahkannya dan atau memperkaya khasanah jasmerah.

DAUR ULANG DAN KEMIRIPAN DENGAN REZIM SBY,  BERIKUTNYA :

SECARA MITOLOGIS PRESIDEN SBY = SATRIA BOYONG PAMBUKANING GAPURO (CENTURY GATE OPENER).

Penyaji teringat pada tulisan pemulung sebelum Pemilu 2004 dengan judul SBY = SINTEN BOTEN YAKIN ?
Yang ternyata benar memenangi Pemilu 2004 bahkan 2009. Sebagai hasil pilpres secara langsung maka betapa tepat paweling sang pujangga bahwa satria ini diboyong dan diusung oleh rakyatnya untuk dimulyakan diluhurkan didudukkan sebagai sang satria boyong pambukaning gapura sebagai century gate. Lalu bagaimana melaksanakan mandate rakyat tsb?.

Pemerintahan SBY telah berusaha sekuat tenaga dengan berbagai kiat termasuk menciptakan ”economi kreatif dan industri kreatif”. Serta kebijakan ”Pro poor, Pro job & pro growh; juga PNPM Mandiri”, dan berbagai kebijakan lainnya telah diambil. Sekalipun belum dapat direalisir dengan baik toh tak dapat dimungkiri bahwa bayak sudah prestasi yang telah dicapainya, seperti klaim penurunan , pengurangan angka garis kemiskinan, pertumbuhan ekonomi yang signifikan di tengah resesi global yang mengakibatkan banyak negara Eropa pertumbuhan ekonominya minus hingga maksimum minus 13,1% seperti di Latvia. Kecuali Albania dan Cyprus yang masing – masing mampu bertumbuh sekalipun hanya 1,2% dan 0,3% pada kwartal I/2009 demikian pula Amerika Serikat bahkan Jepang dalam kwartal IX/2008 GDPnya turun hingga minus 3,3% tak ketinggalan Singapura yang biasanya paling top di Asia pun bahkan minus 10,1% yang sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya.

Kecenderungan stabilitas nilai kurs rupiah dan Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dan Bulog berhasil menyerap 8,4% produk beras nasional dan mampu menyediakan stok hingga 1,4 juta ton dan lain sebagainya. Terbukti SBY terpilih kembali menjadi Presiden Republik Indonesia yang berpasangan dengan Budiono untuk yang kedua kalinya yang telah dilantik pada 20 Oktober 2009.

Disamping itu rakyat begitu mencintainya terbukti pula saat open house hari ke dua Lebaran, antrian masyarakat konon hingga 3 kilo meter panjangnya. Suatu rekor yang belum pernah terjadi. Di bidang politik, basis politik SBY bertambah kuat. Partai Demokrat mengalami kenaikan dukungan rakyat hampir 3 kali lipat, dan sekarang mengontrol dukungan 26 persen kursi di DPR bahkan termasuk pendukung koalisatornya kini amat fantastis = 432 kursi (76,53%) .

Ada apa dengan pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II, yang dinilai banyak pengamat merupakan bagi – bagi jatah atau balas budi kepada para parpol koalisator. Nampaknya ujian 100 harinya telah dihadang pula oleh kasus Bank Century yang menyeret nama Wakil Presiden Budiono (yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia dan Menkeu, Sri Mulyani serta adanya kriminalisasi terhadap pejabat wakil ketua KPK (non aktif) Bibit Samad Riyanto dan Candra M Hamzah yang sebelumnya telah terjadi pada Ketua KPK Antasari Ahzar. Nampaknya beliau sedang menghadapi ujian yang maha berat dan amat sulit ibarat makan buah simalakama. Melaksanakan rekomendasi Team 8. Bila dilaksakan ibaratnya akan mati emak pun pula sebaliknya tidak melaksanakan justru akan mati bapak, sungguh suatu pilihan yang sulit, pelik dan begitu riskan. Oleh sebab itu Head Line Kompas, Kamis, 19 November 2009 berjudul : “Presiden : Jangan Paksa Saya” amatlah wajar dan mudah dimengerti, demikian pula penekanan pidato Presiden SBY yang dinilai ambiguitas itu.

Dengan maraknya isu negative telah mengusik nurani SBY sehingga terpaksa mengeluarkan sumpah di hadapan para pendidik saat HUT PGRI LXIV menyusul banyak pejabat yang bersumpah atas gojang – ganjing “Cicak melawan Buaya”. SBY seharusnya bijak dan bajik karena sumpahnya cukup sekali saat dilantik menjadi presiden untuk yang ke dua kalinya sehingga tidak menimbulkan dampak phycologis dan ranah hukum tidaklah harus dibawa ke nuansa agamis. Namun itulah yang terjadi.

Sasmita Suro 1942 SJ tahun yang lalu adanya “9 R” yakni : ruwet; rendet; reseh; rusuh; rusak; rugi; rawan, rentan dan riskan benar – benar begitu sulit untuk dielakkannya bahkan telah menjadi suatu kenyataan.

Dapat disimpulkan bila 100 hari dalam rezim KIB Jilid I terjadi prahara alam yang maha dahsyat dengan adanya “tsunami di NAD”, pada rezim KIB jilid II terjadi “tsunami hukum & keadilan” dngan maraknya “ seribu satu permafiaan”, yang melibatkan berbagai para elit penyelenggara Negara. Ini semua adalah sebagai ekses dari kejumawaan bangsa ini yang telah dengan sengaja menggantikan (esensi) dasar Negara dan atau nuraninya bangsa yakni “PANCASILA” dengan yang lain.

JANJI – JANJI SBY ADALAH HUTANG BAGI RAKYAT ?

Setelah banyak janji pada pemerintahan jilid I, yang belum terpenuhi sebagaimana buku S. Lontoh, kemudian janji – janji baru pun marak setidaknya seiring dengan penutupan kampanye Pilpres putaran terakhir pada 4 Juli 2009 oleh SBY – Budiono di Gelora Bung Karno itu ? SBY mencanangkan lima programnya yakni : Peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat; Penguatan demokrasi dan menghargai HAM; Penegakan hukum & Pemberantasan korupsi serta pembangunan yang adil dan merata dengan 15 macam skala preoritasnya itu.

Setelah sukses besar meraup simpati pemilih, singgasana untuk yang kedua kalinya telah menantinya maka dalam program 100 harinya seiring dengan membahananya kasus Bibit & Chandra tentang adanya kriminalisasi KPK dan cicak versus buaya maka SBY disamping membentuk team delapan, mencanangkan pula 15 skala preoritas tersebut yakni selain Pemberantasan Mafia Hukum adalah :
1. Penanggulangan Terorisme
2. Revitatalisasi Industri Pertahanan
3. Listrik
4. Produksi dan Ketahanan Pangan
5. Revitaliasi Pabrik Pupuk
6. Membenahi Keruwetan Tanah dan Tata Ruang
7. Infrasturuktur
8. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
9. Investasi dan Pembiayaan
10. Perubahan Iklim dan Lingkungan
11. Reformasi Kesehatan
12. Pendidikan
13. Penanggulangan Bencana
14. Sinergi Pusat dan Daerah
Guna melaksanakan skala prioritas elit Partai Demokrat dan SBY harus piawai merangkul & sekaligus mengendalikannya para koalisatornya agar tidak ada yang balelo. Apa lagi kini muncul stigma bagi SBY sebagai ”super hero” (Kompas, 11 November 2009, hal.5). namun dengan adanya ’SEKBER atau SEKGAB” merupakan berkah atau sebaliknya hanya sejarahlah yang akan mencatatnya.

HILANGNYA RESPUBLICA

Res adalah pemerintahan dan publica adalah rakyat, maksudnya pemerintahan yang dijalankan oleh dan untuk kepentingan rakyat. Dengan restorasi UUD 1945 secara besar – besaran dimana lembaga sang pemilik sah kedaulatan rakyat telah dibonsaikan atau dikerdilkan maka esensi respublika itu telah kehilangan roh. Kini hakekatnya pemerintahan itu hanya dijalankan oleh dan untuk elit partai politik semata sehingga bisa jadi yang mendekati sistem ketata negaraan Indonesia adalah ”resparpolitaria”.
Memang sejak Proklamasi, Perkembangan perpolitian di Nusantara telah direnda oleh sikap pro dan kontra bila Bung Karno menggagas adanya mono partai yakni ”Satu Partai Pelopor” atau setidaknya menyederhanakan jumlah partai politik dan meningkatkan isi – jiwanya dengan ”respublica”, sebaliknya oleh Bung Hatta dikeluarkanlah maklumat Wakil Presiden paska Proklamasi dengan liberalisasi partai politik. Sehingga Pemilu I pada 1955 diikuti oleh 29 parpol dan di era transisional ini diikuti oleh 44 parpol baik nasional maupun lokal. Sayangnya perkembangan partai politik terjerembab pada syahwat meraih kekuasaan semata bukan lagi bagaimana memberdayakan tenaga rakyat guna merealisir amanat penderitaan rakyat.

Golkar yang telah sangat berpengalaman selama hampir enam windu toh tumbang dan PDIP hanya mampu menjadi superstar selama lima tahun dan kini Partai Demokrat berjaya namun dapat dipastikan setelah SBY meninggalkan singgasana nampaknya Partai Demokrat akan bernasip sama, setali tiga uang. Parpol kini miskin platform, papa idiologi dan aplikasinya dalam masyarakat yang menonjol justru hanya sebuah ”pencitraan diri” atau seduksi demi sebuah kekuasaan. Berapa pun ongkos politik untuk itu parpol yang berduit tak segan – segan menghambur – hamburkan uang hanya untuk bercitra diri lewat layar – layar kaca dan media efektif lainnya. Bila itu yang terus berlangsung ibarat menyemai ”pepesan kosong belaka”. Dan kelak rakyat pemilih akan kecewa dan menyesal sehingga akhirnya akan semakin selektip dan meningkatkan resistensinya.
Dan bila itu yang terjadi maka ”kecelakaan & tragedi demokrasi” akan menjadi suatu kenyataan dengan ditinggalkan warga dan para simapatisannya.

Kenyataan tersebut di atas diakui sendiri oleh Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Sutrisno Bachir, yang tak bersedia untuk dicalonkan lagi dalam bursa ketua umum PAN dengan menyatakan bahwa : ”Parpol itu berkerumun orang pragmatis, hedonis & machiavellis yang menghalalkan segala cara” (Kompas, Kamis 5 November 2009 hal. 3).

Maka bisa jadi gunanya kelahiran partai dan adanya partai sudah tidak diketahui dan tidak dipahami lagi oleh pemimpin – pemimpinnya. Kalau partai dalam keadaan ”terjepit” maka ia berteriak atas nama rakyat, tetapi bila ia sudah ”menang” partai itu lupa akan kewajibannya dan kembali rakyatlah yang ditindasnya. Demikianlah pernyataan Bung Karno dalam pidatonya ”Tentang Gunanya Ada Partai”.

Nah Partai politik untuk tetap berada teratas dan memperoleh simpati rakyat tak ada jalan lain harus merevitalisasi diri dengan jiwa baru dan cara baru seperti adanya fusi suka rela berdasarkan prinsip idiologi dan perjuangan. Partai yang bernafaskan Islam, Nasionalis dan atau Sosialis alangkah bijak, bajik dan arif demi amanat rakyat berkenan meleburkan diri (menfusikan diri) tidak perlu harus diatur oleh Pemerintah dan pendirian parpol baru harusnya ditolak oleh Pemerintah. Karena kalau hanya sekedar takut dikatakan tidak demokratis sungguh membingungkannya dan hanya akan menciderai ”amanat penderitaan rakyat”.

Partai yang kemauannya cocok dengan kemauan rakyat jelata, partai yang segala – galanya cocok dengan kemauan natuur, partai yang memikul natuur dan terpikul oleh natuur maka akan tetap eksis untuk selama – lamanya. Maka Hanya dengan respublica & pengabdian kepada rayatlah parpol itu beroleh simpati rakyat. Jangan pula dibiarkan raibnya prinsip respublika itu.

KABINET INDONESIA BERSATU JILID II

Menjelang pengumuman susunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II, pasar modal sempat terkoreksi karena isu mundurnya jadwal pengumuman kabinet oleh SBY. Tak dapat dimungkiri bahwa SBY adalah sosok yang bijak dan cerdas sehingga dia berusaha mengakomodir berbagai keinginan para koalisatornya untuk duduk di dalam kabinet. Tak ketinggalan para pentholan parpol seperti PKS; PKB dan P3 diberikan jatah sebagai menteri. Sungguh pun demikian suara sumbang tetap saja muncul seperti anggapan susunan KIB II adalah sekedar bagi – bagi kursi, Sukardi Rinakit bahkan menyebutnya ”Kabinet Perkoncoan” dan Fuad Bawazir menyebutnya ”Kabinet Neolib”.Memang Presiden SBY memiliki hak prerogatif namun sulit baginya untuk mengelak atas balas jasa, karena bagaimana Patrialis Akbar dari PAN yang gagal menjadi anggota DPD ditunjuk sebagai Menkumham, demikian pula H.R. Agung Laksono yang tak lagi dipercaya rakyat sehingga gagal menjadi anggota DPR justru didudukkan sebagai Menkokesra dalam rangka menjalankan amanat rakyat ? Fuad bukan tanpa alasan memberi julukan kepada skuad menteri SBY periode 2009-2014 itu. Menurut dia, komposisi KIB II sangat didominasi wajah-wajah yang memiliki rekam jejak lebih memprioritaskan kepentingan asing di Indonesia ketimbang rakyatnya sendiri. Seperti Sri mulyani, Mari Elka Pangestu, Boediono, Endang Rahayu Sedyaningsih, dan Purnomo Yusgiantoro.
“Kabinet ini mencerminkan neoliberalisasi dalam semua bidang,” ujarnya dalam talkshow bertema “Pemerintah Baru Bencana Baru Bagi Indonesia?”, di auditorium Adhyana Wisma Antara, Jakarta, Kamis (22/10/2009). Masih menurut Fuad Bawazir bahwa KIB jilid I, sudah kental nuansa neoliberalismenya. Hanya saja, masih terbatas pada bidang politik dan ekonomi. Pada KIB II neoliberalisasi tampak akan diperluas dalam berbagai bidang seperti : pertahanan, keamanan, serta kesehatan. “Indikasinya Pak Purnomo diangkat jadi Menteri Pertahanan dan Endang jadi Menteri Kesehatan. Tapi prediksi saya mudah-mudahan tidak terjadi,” harapnya. Sementara itu, Ichsanuddin Noorsy menyatakan KIB II merupakan kabinet tukang bohong. Argumentasinya banyak figur yang tidak ditempatkan pada posisi yang tepat. Noorsy pun menyoroti dipilihnya Endang sebagai Menkes dan Hatta Radjasa sebagai Menko Perekonomian. Padahal, sambung dia, sedang berlangsung peperangan ekonomi. Noorsy mencontohkan pertemuan G20 menunjukkan peperangan ekonomi antara AS dan sekutunya (Uni Eropa dan Jepang) melawan RRC dan sekutunya (Brasil, Rusia, India, Cina).
“Apa Hatta mampu menghadapi peperangan ini,” tanyanya. Memang pengangkatan DR. Endang Rahayu Sedyaningsih yang tanpa propertest yang menggantikan camen DR. Nila Djuwita Moeloek yang kontroversial itu mendapat tanggapan beragam dari masyarakat apa lagi tersiar berita bahwa ia diduga terlibat penjualan virus Flu Burung dan juga sebagai anggota team dari Namru sebagaimana dinyatakan oleh mantan Menkes yang Soekarnois, dr. Fadilah Sapari itu.
Elit P/Demokrat tentu sulit untuk membantah adanya anggapan pratek neolib karena : Penduduknya digusur tapi investor asing diundang untuk menguasai tanah selama 95 tahun & diperbolehkan memiliki saham sebesar 99%, sebagaimana UU No.25/2007. Apakah itu sudah direvisi ? Disamping itu justru investor asing pun diundang untuk menyewa hutan lindung & hutan produksi dengan sewa Rp 120 – Rp 300 per meter persegi per tahun hanya demi menaikkan Penerimaaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebagaimana PP 2/2008.

Belum genap seminggu Pemerintahan SBY – Budiono telah menyeruak beberapa persoalan pelik diantaranya mencuatnya kasus Bank Century, tentang B/O sebesar 6,7 triliun yang menyebabkan digelarnya Hak Angket (penyelidikan). Dimana obsi“Century Gate” yang menghadirkan efek domino, satu sisi terjadinya perpecahan koalisastor pendukung Partai Demokrat, di sisi yang lain Fraksi Partai Demokrat dan koalisator setyanya ingin menciptakan formula baru yakni opsi B (ada tiga opsi A, B & C), dimana C merupakan : “oplosan antara madu dengan racun atau yang haq dengan yang batil” untuk dijadikan alternative solusi menjelang penutupan sidang paripurna DPR, 3 Maret 2010, yang sebelumnya tidak pernah ada. Hebatnya lagi disponsori pula oleh partai yang membawa panji –panji Islam yakni PPP. Seolah apa yang difirmankan – NYA dalam QS : Al – Baqarah (2) ayat 42 : “Janganlah kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil dan jangan kamu sembunyikan yang hak sedangkan kamu tahu”.

Dalam politik sungguh benar adanya bahwa tidak ada musuh yang abadi kecuali kepentingan itu sendiri yang abadi maka bagaimana GOLKAR yang all out mencecar Pemerintah (Menkeu Sri Mulyani), toh setelah beliau mengundurkan diri, mulai terkuak bahwa seolah bukan kasus century gatenya melainkan SMInya. Karena sehari paska pengunduran SMI, rakyat kembali terperangah dengan adanya Sekber atau Sekgab dimana Ketua Hariannya, Bang Ical pentholan P/Golkar.

“KOALISI KHIANATI RAKYAT”, Ical tak berniat Hak Pendapat (judul Kompas, 22 Mei 2010). Pernyataannya setelah membuka Munas IX Sentral Org. Karyawan Swadiri, 20 Mei 2010, dia menyatakan bahwa : “Sekarang P/Golkar tidak lagi mengadakan kegiatan hak menyatakan pendapat”. Dalam sajian tersebut dinyatakan bahwa : “Pengkhianatan I, terjadi parpol anggota koalisi pemerintah menutup kasus Bank Century seperti dengan menghentikan proses menyatakan pendapat (DPR). Pengkhianatan II, DPR tidak beraksi atas pidato SBY yang menyatakan bahwa : “Tidak ada masalah dalam kebijakan pemberian dana talangan 6,7 triliun yang bertentangan dengan pendapat DPR dimana ada dugaan penyalah gunaan wewenang dan penyelewengan dalam kebijakan tersebut yang dinyatakan pada 3 Maret 2010. (TENGARA APA DENGAN NOMER CANTIK 3 – 3 – 3 ?).
Pernyataan keras pun datang dari Reform Institue, Yudi Latif menyatakan bahwa : “Putusan partai koalisi, khusunya P/Golkar menghentikan hak menyatakan pendapat merupakan bentuk pemufakatan jahat untuk menistakan lembaga DPR”. Alasannya sebagaimana telah disngung diatas.

Nah keterkejutan masyarakay belum usai masih muncul issue yang mencengangkan yakni adanya usulan dana aspirasi bagi anggota DPR sebesar 15 m/orang, hal itu masih hangat, kembali dikejutkan adanya isu reshuffle Kabinet seiring dikeluarkannya rapor merah bagi 3 kementerian (PU, Menkoinfo dan Menkumham) dan 3 bagi menko (Kesra, menko polhukam dan menko ekonimi), sekalipun dibantah oleh para petinggi Golkar sendiri.

Nah lagi- lagi janji SBY pada putaran terakhir kampannyenya khususnya Peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dan setelah paska 100 hari pemerintahannya khususnya (1).Listrik dan (2). Produksi dan Ketahanan Pangan yang ternyata menambah derita nistapa rakyat, bayangkan sekedar cabe, bumbu dapur naik antara 200% hingga 1.000% (seperti cabe dan tomat dll.). Kenaikan TDL yang dijanjikan kenaikan per 1 Juli 2010 1- 15% ternyata prakteknya antara 35,04% – 47,84%. Bayangkan industry foodstaf terkena dampak beruntun ya harga bakunya ya listriknya. Bayangkan dunia usaha dengan dibukanya globalisasi regional dengan China saja telah mengalami deficit Neraca Perdagangan sejak Januari – Mei 2010 telah mencapai US$ 2,11 milyar sementara tahun lalu hanya US$ 2,5 miliar. Maka sudah jatuh ketimpa tangga maka pengangguran dan kemiskinan akan melesat naik karena banyak pabrik yang mengurangi karyawan dan atau bahkan tutup. Maka Metro TV pada 17 Juli` menyajikan suguhan “Menggugat “Ketahanan Pangan dan energy”. Pemerintah ditelanjangi secara nudis.

KESIMPULAN
Semakin kita menjauh dari dasar Negara PANCASILA dan UUD 1945 maka kesengsaraan rakyat akan semakin terjadi massif.
Para elit penyelenggara Negara sudah waktunya berfikir secara komprehensif yang lahir yang batin yang tersurat dan yang tersirat karena dari awal kita sudah mufakat menjadikannya Pancasila sebagai dasar Negara yang juga merupakan nuraninya rakyat dan rahim kebudayaan Nusantara.
Untuk kesempurnaan stigma “SATRIA BOYONG PAMBUKANING GAPURA”, Bp Yudhoyono masih memiliki 4 tahun lebih. Nah untuk menggenapinya, seyogyanya berkenan tanpa harus berlama –lama untuk mengeluarkan Dekrit guna kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 pra amandemen. Dan untuk mensejahterakan rakyatnya dapat berlaku tegas setiap penyimpangan dengan dasar Negara dan UUD 1945 harus dinyatakan batal demi hukum. Sehingga cicilan hutang kepada IMF & Bank Dunia tidak harus dibayar! Mengapa ?, karena diakui sendiri oleh penasehat Pemerintah Kang Mas John Perkins bahwa ada maksud terselubung dimana agar Indonesia runtuh dengan tetap begantung pada IMF. Masihkah pantas kita diperdaya dikibulin dihancurkan tapi teap setya membayar hutangnya ? Kembali daur ulang sejarah tentang hutang pun ternyata terjadi pula, bila paska kemerdekaan NPKRI ini dinyatakab berhutang US$ 3 M kepada Belanda dimana 800 jutanya adalah untuk menghancurkan republic ! Tapi Kabinet Sastro Amijoyo menganulirnya. Nah apakah SBY mau meniru Pak Sastro itu ?.

Kontrak karya dengan perusahaan trans nasional seperti Free Port dsbnya. yang jelas – jelas menyimpang dari pasal 33 UUD 1945 hendaknya dinasionalisasikan karena dasar hukum kita jelas, mengapa tidak berani menegakkan kedaulatan negerinya sendiri ? Negara kecil Bolevia dan Venezuela begitu heroic menasionalisasikan perusahaan transnasional tanpa harus berunding, toh menang kareana itu demi rakyat, maka seluruh rakyat Indonesia pun pasti akan mendukungnya! Bila perusahaan tambang itu bisa dikelola sendiri maka mudah untuk memulangkan TKW dan memberikan pancing pada mereka. Jangan teruskan mengorbankan bangsanya menjadi gedibal 27 di abat jahiliah modern ini, di telapak orang – orang asing/
Uang politik Pemilusung yang selama 5 tahun lalu (k.l. 1.925 tiliun) diperkirakan telah mampu untuk menutup seluruh hutang Negara, tentu bisa dialihkan untuk pemberdayaan ekonomi
rakyat. Janganlah agar terkesan sebagai Negara demokratis justru tujuan utama mendirikan Negara agar rakyatnya dapat hidup sejahtera, adil makmur, berdaulat dan merdeka justru menjadi bangsa yang kufur dan menjunjung kemudlaratan! Demokrasi seperti yang diwasiatkan oleh Bung Karno haruslah yang dapat dipertangung jawabkan kepada rakyat dan kepada TUHAN – nya.

Sementara kesamaan dengan nasib rezim Brawijaya Pamungkas V, dimana bahkan SBY yang terancam jiwanya oleh kaum teroris, dan pernyataannya menjelang kenjungan ke negaraan ke Singapura dan Malaysia pada Senin 17 Mei 2010 yang menyatakan bahwa : “Aksi teroris dalam 10 tahun terakhir sebagai upaya mendirikan Negara Islam Indonesia”. Konotasi “terorisme” bukanlah hanya kelompok Nordin M Top, tapi terorisme yang lain baik dalam bentuk intimidasi, pemaksaan kehendak, anarkisme, sampai pengharaman Pancasila serta terorisme ekonomi dsbnya. Maka seyogyanya tidaklah hanya cukup hanya diwacanakannya saja melainkan haruslah dibabat seakar – akarnya, siapapun mereka yang ingin mengganti PANCASILA dengan gerakan pengharam dan penistaan dasar Negara! Maka bila BP Yudhoyono dan para penyelenggara Negara tetap saja telah merasa cukup dengan kebijakan normatifnya, maka janganlah sedikitpun alpa bahwa “DPR jalanan” dan show of force “Alam Agung” yang telah menjadi saksi berdirinya NPKRI dan sekaligus mencukupi segala kebutuhannya, kapan saja akan dapat beraksi//

Akhirnya marilah kita berdoa bersama semoga para pemimpin negeri ini mendapatkan anugerah NYA apapun bentuknya untuk sekuat tenaga berjuang demi rakyat, kawula alit yang telah mempercayakan mereka semua.
Perjuangan yang disinari oleh apinya Islam, Pancasila senantiasa berpijak pada “Benar (bener), tepat (pener) dan bersih (suci)! Oleh karnanya bangsa dan negara ini hanya dapat dimanage dengan tiga bangsal yakni “Piloshopie, religie dan wetenschap (iptek)”. Semoga//

Kepada handai taulan mohon dibukakan pintu maaf mana kala banyak kesalahan dan menyinggung hati sanubarainya karena tak mungkin kami anjang sana ke tempat para pembaca untuk permohonan ini//KARMANE FA DIKARSATE MAPALESYU KADYATJANA!
Sungkem dan salam serta doa kami//pemulung BERSAMBUNG

sapu gepyok

Sriwidada Putu Gede

http://www.facebook.com/profile.php?id=1307165863&v=app_2347471856

7 Balasan ke Relung

  1. Bastinus berkata:

    Sebuh karya tulis yg mempunyai nilai akdemis luar biasa dan sangat menguras energi. Hanya ANAK KANDUNG IBU PERTIWI yang berhati tulus dan berwawasan luas yg mampu menulis seperti hal tsb.
    Kalau ada pembaca yg bingung berarti berarti ia tidak pernah tahu fakat sejarah perjalan sejarah NKRI. Bila ada tokoh yg tersinggung berarti ia bukan seorang negarawan dan bukan pula anak kandung IBU PERTIWI. Kalau ia bukan anak kandung IBU PERTIWI, BERARTI IA ANAK TIRI, KALAU IA ANAK TIRI PANTAS PERKATAAN DAN TINDAKKANNYA MEMBUAT IBU PERTIWI MENANGIS DAN MERINTIH.

    • keboireng berkata:

      Trimakasih Bang Bastinus sudi mampir ke blog Bani-Senggotho ini , smoga tidak jemu berkunjung untuk mengarungi tulisan yang ada disini.

      Salam

  2. Bastinus berkata:

    Saya engga bosan karena nilai tulisan yg ada di dalam manfaatnya sangat banyak

  3. pemulung berkata:

    BUNG BANI, rahayu. Sungkem kami. Sungguh kami sangat amat terharu sehingga mata ini berkaca – kaca karena ada kadang yang tidak saja nunggal rasa akan tetapi mau dan mampu menyempurnakan sajian renungan ini sehingga menjadi begitu indah dengan gambar – gambar nan cantik//Kita bermohon semua ini agar dapat dijadikan ibadah keharibaan – NYA dan direstui oleh SI BUNG dan para founding fathers, para pejuang, para pahalawan dan para syuhada – pendahuku – pendahulu kita semua//betapa bulu kudhuk ini berdiri melihat karya Bung Bani seolah kita sedang dalam belaian mereka sekalipun mereka tak henti – hentinya juga menangis sesenggukan karena masih ada anak – anak cucu yang masih mau menghargai dan meluhurkan mereka, tangis semakin kencang karena masih melihat anak anak cucunya yang tidak bisa makan, tidak bisa sekolah, tidak bisa berobat, tidak bisa berteduh yang justru dijajah oleh aparat pemerintahannya sendiri di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini//

    Bung Bani salah ketik memang ada tapi apa tidak merepotkan Bung Bani ?//salam dan pangestumu Raka yang adhik minta dan mangga tansah kersa samya dayan dinayan//sembah nuwun//

  4. pemulung berkata:

    Rahayu, ada tambahan ref. oleh kadang taruna kami//
    QUOTE :
    Nuwun sewu Ki, Bu Mega dibawa Suryadi ke PDI pada Pemilu th 1987. Kebetula rmh Sy di Bdg msh 1 komplek dgn rumah Bu Mega. Sebelum Pemilu 92 Sy sering ke rmh beliau yang saat itu sdh duduk sbg Legislator. Tks
    July 13 at 1:48pm
    UNQUOTE ·

    sembah nuwun tambahannnya. Ya memang benar mulai pemilu 87 hanya kami meloncat ke pemilu 92 karena konstelasi politik pada 93 mulai gonjang – ganjing dengan semakin membahayakan adanya fenomena Mega dan atau putra – putri Bung Karno. Maka bila clen Soekarno untuk bangkit perlu waktu lama sedangkan clen Pak Harto bisa jadi lebih cepat sekalipun Mbak… See More

  5. pemulung berkata:

    2 hours ago via Facebook Mobile · LikeUnlike · 2 peopleLoading… ·
    Herralito Amarez
    Tengarai nomor/angka cantik -3, sejak dari Agama Besar yg pertama yaitu Hindu ada TRIMURTI lalu Christian ada TRINITAS dan Agama Terakhir Islam ada 3 Kegelapan waktu Lahir, yaitu 1. Kegelapan sebelum ada diRAHIM 2.Kegelapan selama didalam RAHIM 3. Kegelapan waktu diLahirkan (masih Buta).

    Hanafi Armiy
    Betul ayah.,ideologi Pancasila sekarang sudah mulai dikikis,sebagai contoh dasar.,dulu waktu di Sekolah Dasar ada mata Pelajaran Pendidikian Moral Pancasila “PMP” tapi sekarang sudah tidak lagi..!Semuanya sudah mementingkan diri dan kelompok sendiri,baik itu pejabat di Pemerintahan,Partai yang mengatas namakan rakyat dan bangsa,tapi malah … See Moremenghancurkan rakyat dan bangsa itu sendiri..Bahkan para Ulama pun tidak lagi berpikir dua kali untuk mengeluarkan suatu Fatwa yg jelas – jelas jauh menyimpang dari ajaran yg murni..,semua itu demi Uang,Pangkat dan Nama..,salah satu contoh ayah,dulu waktu kita masih belajar mengaji disurau memakai kitab yang bernama Juz Amma,yang sangat simple dan mudah untuk dipelajari,tapi sekarang ada buku Iqra’ yang mana didalamnya tidak terdapat lagi huruf Hijaiyah yang Tiga Puluh,sudah banyak huruf – huruf Hijaiyah yang telah disunat dan urutannya pun sudah tidak beraturan lagi salah satu contoh huruf Lam Alif.,kesemuanya itu dapat dirobah hanya dengan satu kata “UANG”..!Apakah mereka tidak tahu ? atau pura – pura tidak tahu,bahwa apa yang telah dilakukannya akan dipertanggung jawabkan di Yaumil Akhir kelak ? entahlah ayah…mungkin benar kata bang Iwan,Garuda sudah jadi burung perkutut.,Sang Saka hanya sendang pembalut.,dan PANCASILA mungkin telah berubah jadi rumus Togel Buntut….!salam kasih dan sungkem nanda ayah.,Hanafi.!
    about an hour ago · LikeUnlike ·

    Sriwidada Putu Gedhe Wijaya
    Rahayu – widada – mulya.

    Kang Alus, Bung Djoni, Bung Bastinus, Nanda : SIWA, Hanafi dan Robby serta saudaraq yang sedang nun jauh dirantau orang (HerralitoAmarez).

    Terimakasih atas sharingnya//Bung Bastinus dan Bung Amarez, tq telah kurindukan karena sudah agak lama tak ada info…. See More
    Tentang pilihan adalah domain dan hak prerogatif individu yang sangat kami hormati. Hanya setelah sebagain rakyat sekedar membeli bumbu dapur saja tak lagi mampu, bagaimana rasa dan perasaan saudara – saudara kita yang dipercaya sebagai beteng akhir terhadap moralitas dan religiusitas umat Islam yakni MUI yang mengharamkan “GOLPUT” ?

    Maka kami most highly appreciated atas bahasan Bung Amarez yang membidik dari berbagai kajian ilmu yang begitu dalam maknanya//

    1. Simbulisme “ANDINI SAKTI, AL – BAQARAH (DAN NUSANTARA LEBIH POWERFUL) DENGAN NAMA KEBO DAN ATAU BANTENG, sering dimaknai minor, sampai – sampai Kerbau Si Bu Ya menjadikan masgul SBY. Sedangkan selain ajaran “PENCERNAAN”, Juga betapa bergunanya mereka bagi Pak Tani juga bagaimana susunya bisa menyehatkan anak- anak bangsa, kencing dan kotorannya bisa dijadikan sumber energi, kulitnya bisa untuk memanggil umat Islam untuk bersembahyang dll.//

    Kembali kepada yang 3, TRINITAS, TRIMURTI sering dima’nai oleh SWT -L secara sempit se dangkan semuanya adalah alegoris “ANAK ALLAH” dimaknai anak biologis sedangkan kata majemuk pun banyak seperti anak tangga, anak panah, anak kunci, !

    Dalam kajian kearifan budaya lokal, pun disiratkan dalam “SURO” dari huruf S = 8 dan N = 4. 8 + 4 = 12 = 3 yang dapat juga melambangkan tri tunggal jaya sampurna; Manusia utuh (mind, seoul & body), Trimurti; Trisakti atau juga Tripurasa yaitu : Purasa : Iswara – Allah; Sukma Kawekas atau Sukma Sejati atau Rasul dan adanya Roh Suci atau Nur Muhammad – Johar Awal.
    Iman Ghozali, tokoh sufistik dunia dalam bukunya Hudahyatul Islam menjelaskan dengan terinci yakni :
    • Dzat I yang disebut Nurul Illahi (Cahaya Tuhan).
    • Dzat II yang disebut Nurul Muhammad (Cahaya Terpuji)
    • Dzat III yang disebut Nuruk Insani atau Suksma.

    Ajaran Hindu mengenal adanya Trimurti yakni : Brahma (Sifat Tuhan Sang Maha Pencipta) dalam Islam identik dengan Sang Khaliq (Al – Khaaliqu); Wisnu (Sifat Tuhan Sebagai Maha Pemelihara Hidup) atau identik dengan Al Muhaiminu dan Syiwa (Sifat Tuhan sebagai Yang Maha Mematikan atau Pendaur ulang ciptaan – NYA) yang identik dengan Al – Mummiru.

    Sedangkan kaum Kristiani mengenal pula adanya Trinitas yakni Sang Bapa, Sang Putra dan Rohul Kudus. Sebutan Bapa disini bukanlah arti biologis akan tetapi dalam arti spiritual.

    Dalam Tao juga mengenal adanya ke tiga dzat yakni Dzat I, Dzat II dan Dzat III.

    Dalam budaya Jawa di kenal adanya Tri loka yakni : (1). Guru Loka, (2), Indra Loka dan (3). Jana Loka. Tentang Bait Allah yang ada dalam tubuh yakni adanya : (1). Baitul Makmur; (2). Baitul Muharram dan (3). Baitul Mukadas (Ma’dis).

    Pengertian Nur Cahyo (Nur itu cahyo dan Cahyo itu juga Nur). Dalam Al – Qor’an dinyatakan “Nuurun alaa Nuurin” dan “Alloohu Nuurussamaawaati wal ardli”. Dalam kisah pewayangan Nur Cahyo menurunkan Nur Rasa yang hakikinya ini adalah merupakan sifat. Rasa/Sir itu adalah rasa. Yang kemudian menurunkan Sang Hyang Wening. Wening itu Aththoir atau aththoyyib yang maknanya adalah Alloh, terus menurunkan Sang Hyang Wenang. Wenang itu maknanya azis. Aziz itu menang, lha wenang murba misesa, yang mesti menang terus karena itu penggambaran – NYA.

    Kemudian Sang Hyang Tunggal, tunggal itu satu. Nah dalam bahasa spiritual bila tidak dipahami dengan seksama akan menjerumuskan maka hendaknya janganlah digambarkan Nur Rasa itu berdiri sendiri, Nur Cahyo itu berdiri sendiri demikian pula Sang Hyang Tunggal. Karena semuanya tadi hanyalah “SATU” jua adanya. Semua tadi hanyalah sebutan Af”al – NYA (pakarti) saja yang sendiri – sendiri itu.
    Contohnya : Mas Nur yang daguya bertailalat itu adalah Bapak, Mas Nur itu adik dan Mas Nur itu kakak dan juga Mas Nur itu sepupu, tergantung keluarga Mas Nur dari pihak yang mana ? Apakah lantas Mas Nur yang tadi itu banyak ? Ternyata Mas Nur yang gagah bertahi lalat di dagu itu ya itu – itu juga tergantung sebutannya dan dari sudut mana yang menyebutnya, bukan ?Sekalipun nama Mas Nur itu ada ribuan jumlahnya toh yang satu dengan yang lain pasti berbeda, setidaknya sidik jari, perilaku dan lain sebagainya, karena itulah adi kodrati dari pengaruh hari dan pasaran, jam, menit dan detik sebagai Keagungan Sang Maha Pencipta.

    Nah PR tentang UU Pornografi hanya akan menambah kekufuran karena dengan serba dilembagakan akan semakin jauh dari esensi yang sebenarnya sehingga hanyalah menjadi valueless terpasung dalam ribuan ton kertas semata// Mestinya bila semua pikiran, perkataan dan perbuatan kita semata – mata ditujukan pada Sila I, asesoris yang harus segala sesuatunya diundangkan tak perlu lagi karena tak mungkin lepas dari SANG MAHA itu sendiri//
    US consits of 3 educations, matur nuwun//Bung Amarez dengan keberadaan di negeri orang jutru mampu mengemas secara ilmiah//salut dan doaq//pemulung

  6. arifin s berkata:

    tulisan yang sangat baik dan harus segera banyak yg baca terutama generasi muda.semua manusia harus faham tentang agama masing2 dan harus segera tahu dibalik agama itu sendiri sehingga tidak mengarca atau mematungkan tuhan masing2 dalam benak sehingga sulit ketemu akan kebenaran sebenarnya..sejarah bangsa yang panjang jangan pernah terhenti satu atau dua masa saja dalam mempelajarinya…kita wajib mengetahui kebenaran sebelum semua ini ada…..untuk yang sudah baca tulisan ini segera cari pencerahan terhadap yang faham jangan pernah tanya pada salah satu pemuka agama tetapi bertanyalah kepada yang faham akan PANCASILA agar mendapatkan pencerahan umum dan tidak segolongan…Bravo penulis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s