Misteri Gogok ( Baru Klinting ).

Malam makin kelam sitho tidak menyadari jika kenyataan jarak antara Dukuh Gunturan dengan Mangiran hampir 3 ( tiga ) kilometer lagi…

Dalam perjalanan ki Sancoko menuturkan kisah tentang Mangiran :

Selain ki Belabelu putra Prabu Brawijaya V yang merantau sampai pesisir selatan ini ada yang bernama Radyan Alembhumisani , beliau meninggalkan  Majapahit bersama isterinya  hingga ke Wanasari di Gunung Kidul …Radyan Alembhumisani  memiliki seorang putra yang bernama Radyan Wanabaya.

Nah Radyan Wanabaya inilah yang kemudian membangun pedukuhan Mangiran ini menjadi sebuah kadipaten yang makmur sehingga beliau disebut Ki Ageng Mangir Sepuh atau Ki Ageng Mangir Wanabaya.

pakai istilah sepuh …hal ini tidak lain karena kekuasaan atas kadipaten itu selanjutnya diwariskan kepada putranya yang juga bergelar Ki Ageng Mangir (2)…..

Ki Ageng Mangir Wanabaya sepuh memiliki istri putri seorang Demang  dan dari selir ini Ki Ageng mendapatkan seorang putra yang bernama  Baru Klinting.

Baru Klinting tumbuh menjadi pemuda yang sakti madraguna walaupun hidup terpisah  di kademangan bersama ibunya nyi Jalenggong.

Kesaktian Baru klinting diperoleh secara genetik a karean dia adalah anak cucu pertapa yang mumpuni ……… ilmu rogo sukmo dikuasai dalam usia muda dengan sempurna sehingga Baru klinting dapat merubah ujud dirinya menjadi apa saja…. wujud yang paling digemari adalah wujud Ular Naga..

Satu saat Bagus Baru  Klinting permisi sama ibunya untuk menemui ayahndanya di Kadipaten Mangiran…. sang Ibupun hanya berpesan hati hati dalam perjalan menjumpai Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Setelah mendapat restu ibunya maka Bagus Baru Klinting dengan gembira menuju kadipaten tempat ayahandanya berada.

Sampai di Kadipaten ternyata Bagus Baru Klinting tak dapat bertemu dengan Ki Ageng Mangir  Wanabaya  karena kebetulan ayahnya sedang semedi di Slarong……. kekecewaannya dilampiaskan di Kali  Progo ..dalam keadaan ini tanpa sadar dirinya telah berubah wujud menjadi se-ekor naga raksaksa …..celakanya penampilan naga diketahui oleh para penduduk yang sedang berhajat .

Maka Gemparlah seluruh kadipaten dengan kehadiran naga raksaksa …ciblon mandi ria di kali Progo….kegemparan sampai kepada Ki Ageng yang berada di Pertapaannya ….maka turunlah Ki Ageng dari pertapaan menemui naga yang lagi berendam di sungai …. mengetahui dirinya diperthatikan oleh Ki Ageng Maka Baru Klinting segera menghaturkan sembah baktinya kepada Ki Ageng Mangir  sembari mengatakan bahwa dia adalah puteranya sendiri yang bernama Baru Klinting dari Kademangan. ….Ki Ageng Mangir  tidak serta merta mempercayainya begitu saja …walaupun Ki Ageng Mangir tahu bahwa puteranya yang bernama Baru Klinting adalah pemuda yang sakti.

Ki Ageng Mangir menguji Baru Klinting ….maka disuruhlah dia bertapa di Merapi hingga  dapat memeluk melingkari gunung dengan dirinya……dan jika berhasil maka baru benar diakui sebagai puteranya….

Maka bertapalah Naga Baru Klinting sambil melingkari  Merapi  dengan tubuhnya ……. hari berlalu namun usaha itu belum membuahkan hasil maka dengan cerdik Baru klinting menjulurkan lidahnya yang panjang untuk mempertemukan ekor dengan kepalanya.

Mengetahui hal tersebut Ki Ageng Mangir menjadi gerah maka dihantamlah Merapi sehingga ada sebagian lidah Baru Klinting yang putus tergigit gigi sendiri…… mengetahui kejadian itu Ki Ageng jadi terkesima diambillah potongan lidah Baru Klinting dan dirawatnya…….. potongan lidah inilah akhirnya yang kemudian dikenali sebagai tombak pusaka kyai Baru Klinting……

Kyai Baru Klinting menjadi pusaka agung kadipaten Mangiran dan menjadikan Ki Ageng Mangir semakin tersohor hingga berpengaruh ke Kerajaan Mataram .

Kyai Baru Klinting akan memberikan sinyal tanda bahaya jika ada bahaya yang mengancam keselamatan Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Sinyal itu bersuara seperti gogok ayam ( gok..gok…gokk )  akan hal tersebut maka sitho dan yang sepaham menyebutnya sebagai Kyai Gogok.

Pos ini dipublikasikan di Lelakon. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Misteri Gogok ( Baru Klinting ).

  1. antonius suparjo berkata:

    Maaf ya ikut berkomentar;
    Mangir bukan sebuah kadipaten tetapi tempat perguruan/padepokan, tetapi karena begitu
    luas pengaruhnya ( seluas kadipaten ) maka sangat wajar jika da yang menyebut kadipaten.
    Kalau memang kadipaten, maka Mangir pasti memiliki struktur pemerintahah ( adipati, patih,
    senapati perang, dan prajurit ) kadipaten. Hal itu tidak dimiliki oleh Mangir. Yang ada para
    rekan kerjanya ( para demang dan warga masyarakatnya ), maka beliau disebut Ki (Kiai)
    Ageng. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s