Logika bertanya ..lurik-lawe

Bayangan atau wayang akan terlihat dengan jelas ketika ada cahaya  dan bayangan hanya ada satu warna yaitu warna bayangan  apapun warna kulit orangnya  bayangan tetep sama saja warnanya. Sebelum meninggalkan Karang Gumulan wo Sutodikromo berpesan untuk singgah ke rumah mas Rejasa  di  Pal Bapang . ” Bareng sama mas Harto ..kebetulan mas Harto  mau pulang balik ke Glagah sari  ” sitho mengangguk sambil permisi. Sitho segera meninggalkan Karang Gumulan menuju Pal Bapang bersama putra wo Sutodikromo yang mbarep ……… dan tidak sampai satu jam dengan bronpit  Si tho dan Harto sudah sampe Pal Bapang. Mas Rejasa rupanya  lagi sibuk ketika si tho datang menjumpainya…. ” Nah kebeneran tho …aku lagi butuh kawan … ” kata Rejasa sambil menyalami si tho . ” Lha mas Rejasa  ini mau kemana lagi…… ? ” Jangan banyak tanya tho….  kamu sama saya kan sama suka jalan skarang aku mau ke Salatiga ..yuk mumpung masih pagi  jalannya agak muter muter lho …mBantul mampir  Yogya langsung Klaten – Boyolali baru Salatiga….numpak iki..”  mas Rejasa meletakkan ransel diatas CB 125 merah kesayangannya…” kita sarapan di Yogya sambil pamit Eyang dan bude  ..ya.” Jam 10 .00 pagi Sitho dan Rejasa sudah selesai sarapan sega gudek yogya …setelah matur sama eyang di Pakualaman  ke duanya mbablas menuju Klaten. Tiga puluh kilometer ditempuh dalam waktu 2 jam , pas beduk  sitho dan Rejasa sudah sampai di Tegalyasa …. istirahatnya   di Rumah Sakit…..wah dasar  mau enak …. setelah lohor keduanya melanjutkan perjalanan …..” kita nanti mampir di Jatinom  sbentar ya tho , kata Rejasa sambil memacu Honda cb-nya.

Lurik dan  Pasir

Sungai Wedi .. atau sungai pasir  ini kesan unik yang tersimpan dari Kabupaten Klaten ,  sungai wedi adalah sungai yang mengalirkan butiran-butiran  pasir , di Kabupaten Klaten terdapat satu Desa atau kecamatan yang merupakan prasasti hidup   yaitu Desa Pedan. Pedan dikenal sebagai Desa produsen Kain Lurik  , Kain yang dibuat atau ditenun oleh masyarakat Pedan    turun menurun semenjak berakirnya Kerjaan Majapahit….Kain lurik adalah bukti peninggalan sejarah berdirinya Kadipaten atau Kerajaan Pengging.

Lurik & Udeng

Keberadaan Lurik berawal dari sebuah kesadaran diri akan adanya sebuah garis kehidupan garis yang lurus ( jalan lurus ) dan pasti benar dalam kelanggengan.

Lurus dan langgeng tidak sertamerta dapat dijumpai di dunia ini ketika seseorang itu masih bergelimang kemegahan duniawinya sendiri.

Dari Kesadaran yang demikian itu maka Prabu Brawijaya V memrintahkan kepada seluruh ponggawa Majapahit untuk menanggalkan pakaian kebesaran masing masing dan mengganti dengan pakaian  yang terbuat dari tenun Pedan ( lurik ) dan mengenakan udeng di kepalanya , Prabu Brawijaya V lebih dahulu memberi contoh kepada seluruh balanya dengan mengenakan baju lurik dan udeng ( iket kepala )  tidak cukup hanya merubah penampilan tapi namapun juga diubah maka dengan penampilan yang baru beliaupun mengenalkan nama barunya sebagai Ki Ageng Kaca Nagara  .

Kaca Negara bermakna Cermin Negeri …. seolah beliau berpesan pada Si tho bahwa kalau mau melihat Majapahit lihatlah dirinya ( Ki Ageng ) sebuah pesan yang mengandung arti ” Majapahit adalah langgeng tak pernah Mati ” walaupun gula dan klapa  berkibar mengalahkan Pahitnya Buah Maja …tapi berkibarnya sang Dwiwarna justru menyimpan ke Agungan Majapahit yang Abadi ”

Logika yang bermula bermain mungkinkah akan dapat kulihat lagi Majapahit setelah sumua tinggal menyisakan potongan bebatuan ?

Jatinom telah menjadi saksi ketika si tho bermalam dirumah mbah Troso si tho berkenan bertemu ki Ageng Kaca Nagara dalam sebuah pertemuan rahasia ( unmaterial ) ini terjadi setelah dalam I’tikabnya mbah Troso membuka hijab dimensi waktu yang berada di memmori  si tho.

Benarkah itu… maka untuk mencapai pembenaran sitho segera meninggalkan logika yang berada dalam khasanah otak yang nyata wujudnya …..keadaan non materi akan nyata  jika dipandang dengan penglihatan yang sama (un material ) bukan dengan mata yang diatas hidung ini , dalam hal ini sitho semakin mendalami pesan mbah Troso ..lihatlah apa yang ada dalam Pandulu jangan lihat yang ada dalam mripatmu  ketahuilah apa yang ada dalam pangrungu dan jangan dengarkan apa yang sampai ke dalam telingamu.

Semua suara akan masuk ditampung oleh telinga karena telinga adalah saksi bisu yang hanya menerima semua yang  masuk kedalamnya dan ini akan berbeda dengan ketika kamu mengerti apa yang sampai kedalam Panggrungu ……….

Inilah bagian seni olah diri yang di siarkan dari Pengging  yang di Ajarkan oleh Ki Ageng Kaca Nagara bersama Ki Kebo Kenonggo.

Dan sitho sekarang kembali ke Jatinom bersama dengan Rejoso  sekedar melepas rindu dan penat perjalanannya.

Jatinom ( Jatianom ) ,Delanggu , Ceper dan Klaten adalah daerah lumbung padi sebagaimana Boyolali yang semula menjadi kawasan Kerajaan Pengging ,  satu peninggalan atau warisan leluhur yang ada di daerah ini disamping selain adanya ribuan situs candi bebatuan  adalah  “Rajalele”.

ijo royo-royo

Kesuburan tanah dan melimpahnya hasil pertanian ternyata juga menarik minat pedagang  penjajah dari negri LONDO ( Belanda ) sehingga mereka merasa perlu membangun pabrik Karung Goni di Delanggu untuk mencukupi kebutuhan alat pembungkus hasil pertanian di kawasan tersebut.

Kemakmuran yang dibina Ki Ageng Pengging dan ayahndanya Ki Ageng Kaca Nagara  sampai hari ini masih dapat disaksikan dilihat dan dirasakan  sayangnya kebijakasanaan leluhur tersebut tidak diikuti jejak keteladanannya dalam memakmurkan rakyat.

Mensejahterakan dan Memakmurkan negeri yang mayoritas penduduknya adalah petani  sebenarnya tidaklah terlalu sulit jika tidak neko-neko .

Wolak walik atau berbaliknya zaman pada akhirnya akan menunjukkan bahwa pola pikir yang nggladrah menuruti kekarep kemauan orang justru akan menjadikan negri terjajah  dan negri terjajah tidak akan sejahtera penduduknya …  namun alam tidak mau terjajah ia akan mengeliat jka ada kaki yang tidak benar meminjaknya  , maka jangan katakan bencana jika kaki salah berpijak lalu jatuh kedalam lumpur.

Pos ini dipublikasikan di Lelakon. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Logika bertanya ..lurik-lawe

  1. Ping balik: Jejak Satrio Pinandito di Banyubiru. | S E N G G O T H O

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s