Ular berkepala ( tujuh ).

Sebuah catatan kecil  si tho bertuliskan  : ” Punapa ing alam peralihan punika yektos bade dipun samber ing sawer ingkang sarihipun pitu ” ( Apakah ketika berada di alam peralihan itu benar akan dihadang oleh ular besar berkepala tujuh ).

Sang Naga 7 kepala

Ah rasanya seperti  film Krisna dari  India  yang lagi disukai anak anak saja layaknya , ya ..kenapa ada catatan lain mengatakan bahwa  di Alam Kubur/ Peralihan itulah adanya sang naga berkepala 7 tersebut ….benarkah.

Pertama  dimana adanya Alam Peralihan  , jika itu adalah kubur maka kubur yang bagaimana yang didalamnya terdapat ular sampai berkepala tujuh , apa tidak kerepotan itu sang ular , bagaimana ia menggigit dan apa dia bisa membagi racunnya dengan adil kedalam tujuh kepalanya….. dan masih panjang pertanyaan tentang sang ular ajaib itu.

Di pinggir Rawapening sitho teringat akan nasehat Ki Sancoko :

Sawer niku rak Nggilani lan Medeni , maksutnya Ular itu binatang yang menjijikkan  dan juga menakutkan  , jelasnya jijik dan takut itu ada pada Rasa ( ngemu roso )   jadi adanya ular itu adalah iktibar dari penguasaan rasa pada diri seseorang , ada orang yang mampu menguasai rasanya  dan ada juga orang yang dikuasai rasa , nah si ular itu ibarat  seseorang yang dikuasai rasa .

Baru Klinting adalah contoh seseorang yang mampu mengusai rasa dirinya, maka ketika Baru Klinting mantek sukmo rogo dia bisa dengan sadar diri berubah wujud  menjadi naga raksaka , hal ini berbeda dengan orang yang dikuasai oleh rasa…

Rasa Jijik dan Rasa takut adalah keadaan dari rasa hati yang tidak nyaman , keadaan hati yang tidak nyaman ini memang banyak sekali diabaikan orang ketika lagi dimabuk  duniawinya yang mempesona.

Kepala Tujuh  mengingatkan akan adanya Kaweruh Plawangan ( Gerbang ) atau jalan masuk… Jalan masuk kedalam hati yang tidak nyaman itu ada tujuh macam ,  Ular berkepala tujuh  menunjukkan adanya tujuh pintu neraka yang terbuka pada ketidak nyamannya hati seseorang .

Masing masing pintu hati ….disebut gerbang neraka :

1. Puqat ( Jantung ) gerbang neraka Djahanam.

2. Mudzarat ( Sulbi ) gerbang neraka Dzakiem.

3. Tawadzuh ( Perut ) gerbang neraka Waillun.

4. Salim ( ginjal  ) gerbang neraka as’safala safilin

5. Sanubari ( limpa )  gerbang neraka Sahir.

6. Maknawi ( empedu )  gerbang neraka Lalliem.

7. Sawadhi ( Usus ) gerbang neraka Sukra.

Keberadaan tujuh pintu neraka tersebut  tersirat didalam Mushap Al Qur’an , surah Al Hijr 44  ; ” Neraka itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka”

dalam basa jawi disebut ” Neraka iku ana lawange Pitu saben lawang iku tumrape wong wong kang ahli dosa “.

Masing masing mulut ular naga yang tujuh senantiasa menyemburkan api ( ilustrasi keberadaan api neraka / rasa yang membakar diri ).

Adapun Rangga warsito juga menuturkan sebab terbukanya lawanging neraka  :

Rasa sangat panas :  berada di puser/wudel  , perilaku sak wudele dewe yang penting kenyang perut , memburu selera ini mencederai jantung membuka pintu neraka Djahanam , penyimpangan atau perilaku sex yang asusila akan membuka pintu Dzakiem  dan kerusakan dzakar ,demikian juga kesalahan menggunakan dubur akan membuka pintu neraka Waillun .

Rasa tidak nyaman pada neraka as safala safilin  terbuka dikarenakan salah dalam mengelola nafas , kesalahan menggunakan nafas untuk dosa ini juga akan membuat dada terasa sakit , Hidup buta mata dari berbuat kebaikan akan membuka pintu neraka Sahir ,  telinga tidak mau menerima nasehat baik hanya mendengar bujuk rayu nafsu syetan akan membuka pintu neraka Lalliem , asal ngomong tanpa memikirkan baik buruk akan membuka lebar pintu neraka Sukra.

Semua adalah nasehat atau ajakan Rangga warsita agar orang itu mau berbuat baik bagi dirinya  agar pintu naga yang tujuh tergantikan dengan 7 pitulung gusti Allloh kang Moho Suci  dengan tujuh pintu surga.

Sakabat Bani dalam rumusan tauhidnya menuturkan ke sitho:

Rasa didalam kajian memiliki sifat Afdraka yaitu sifat yang memiliki kecenderungan menguasai sifat -sifat yang lainnya.

Jika rasa sudah ngrembaka ( afdraka ) menguasai tubuh ( jamiul badani  ) maka dalam rumusan sakabat Bani disebut juga “terjadinya penguasaan pohon oleh benalu”

Karena benalu menutup pohon terjadilah  :

1. Rasa Mampu

2. Rasa mengetahui.

3. Rasa hidup

4. Rasa melihat

5. Rasa mendengar

6. Rasa berkata.

Untuk melepaskan diri dari belenggu benalu rasa ini diperlukan usaha yang kuat sebagaimana disebut jihad akbar ..karena sang benalu itulah yang buahnya disebut nafsu.

Bolak baliknya keadaan jaman membuat orang pada keblinger ini terbukti banyaknya orang berminat memburu rasa , mahalnya harga jual rasa tidak diperhatikan lagi sing penting seneng ati…nah membeli seneng ati yang justru buahnya ketidak nyamanan.

Serasa melihat sesuatu , rasa mendengar sesuatu ……. sesungguhnya adalah permainan dibalik alam fikir  yang sering disebut halusinasi …… memang alus permainan itu  hingga nyaris mendekati pembenaran …. pada hal masih dalam wacana main main … …….. sesungguhnya hidup ini bukan senda gurauan.

Sitho teringat sahabat Kajenar  tentang ” gulung nafas ”  yang diantaranya adalah menggulung rasa diri agar tidak ngombro – ombro ( berkembang biak ) menjadi-jadi .

Rasa diri di gulung, adalah dalam rangka menguasai untuk   dikelola dengan sebenar-benarnya sehingga tidak berlawanan dengan syara’ ………tujuannya adalah agar ketika digelar maka akan menghasilkan kesegaran bagi alam semesta dan alam diri  , menyegarkan alam akan menghasilkan benih benih kasih sayang diantara sesama.

Pos ini dipublikasikan di pitutur. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s