Satrio Kinunjoro di Jabalekat.

Ketika kesempatan datang maka Semarang menjadi awal sebuah perjalanan seorang mantan Gubernur menuju sebuah dunia baru bernama  Jabalekat , perjalanan Ki Ageng Pandan Arang (2)  itu sudah terjadi di abad 15 setelah berhasil memakmurkan negri Semarang ( asem arang ) dari sebuah desa kecil menjadi negri yang makmur ,  kekuasaan yang dipercayakan oleh Sultan Hadiwijaya  ditinggal dan diserahkan kepada anaknya , Ki Ageng memilih mengikuti nasehat spiritual  Sn.Kalijaga untuk memakmurkan diri di Jabalekat…. dan jadilah disana adanya Sn.Tembayat hingga wafatnya.

candi Gedong di Ungaran

Setelah meniti ondo sewu di Pudak payung Sitho segera bergegas sarapan pagi di Pasar Ungaran  , pagi itu masih agak berkabut namun tidak seberat kabut pagi di Bukit sari puncak Gombel ,hari itupun dihabiskan sitho di Candi Gedong Songo , bukan untuk tapa brata tapi sekedar manekung sejenak sambil menatap teja surya dari kawasan gunung Ungaran.

Route ini pernah dilalui oleh Ki Ageng Pandanarang dalam perjalanan Hijrahnya ke Gunung Jabalekat  , kisah indah perjalanan Kia Ageng menjadi catatan tersendiri , pada saat ini justru banyak pejabat yang mengakiri jabatannya di dalam bui ….. Kinunjara oleh amal dan jabatan yang di embannya .

Di Gedong songo sitho menemukan adanya Satrio Kinunjara , satria adalah laku sejati seorang pejuang dengan gigih gagah tanpa pamrih , keadaan tanpa pamrih ini kadang membuat satrio itu ceplas ceplos tanpa tedeng aling-aling yang menyesekan kepala , dalam temuan sitho ” Satrio kinunjara ” adalah laku seseorang yang berjuang membebaskan diri dari belenggu Hawa nafsunya , ibarat Semar mbarang jantur  ia berusaha sekuat tenaga membebaskan diri dari   kanepson , karena memang banyak Satrio yang Kinunjoro dalam bui dan lebih banyak lagi Satrio kinunjara dalam nepsunya sendiri.

Sel - Kunjara

Ternyata Satrio Kinunjara versi temuan sitho banyak berserakan dimuka bumi ini .

Gedong Kunjara yang terkenal memang hanya dua yaitu  Amarah dan Lauwwamah namun banyak  Sel  justru lebih kokok dari gedungnya sendiri.

Dan tidak jauh dari kemungkinan ini maka Ki Ageng Pandanarang meninggalkan kemewahannya , Ki Ageng menemukan dirinya benar benar sebagai Satrio Kinunjara  drajat lan pangkat maka atas nasehat Sn Kalijaga ditanggalkanlah lebel Satrio Kinunjara itu di Jabalekat. Versi sitho Jabalekat adalah berasal dari sanepan Sn.Kalijaga pada keadaan Ki Ageng Pandanarang , Jabal  berasal dari bhs Arab yang berarti Gunung ( Suatu gundukan batu / tanah  yang tinggi menonjol kepermakaan ) sedang Lekat identik dengan lengket ( menempel ) , mendatangi Tempat yang tinggi yang melekat dalam diri  itulah Jabalekat  atau lebih tepat dalam bhs jawi disebut “Papaning Kaluhuran”  , maka sampai wafat Ki Ageng Pandanaran mapan di Papaning Kaluhuran ( Jabalekat).

Papan / Alam :

Papan Luhur sering juga disebut dengan Alam Luhur ( manas inggil ), alam ini tidak akan dapat dijumpai dengan menggunakan panca indera yang nyata adanya, karena alam luhur ini adanya pada khasanah batin yang tersembunyi dan terjaga kebaikannya.

Alam luhur berada diatas Alam Fikir ( Manas asor ), disebut manas asor ( bawah/rendah )  karena pada kenyataannya bahwa yang terjadi pada ruang ini masih terkontaminasi hal yang negatif  dan berupa wacana pemikiran yang hasilnya masih terhukum adanya baik dan buruk. Manas asor ini memiliki gelombang dan getaran yang berhubungan dengan alam lingkungannya.

Alam Astraal , merupakan alam yang  dihuni beraneka ragam sel nafsu dan kuatnya hasrat / keinginan , pada alam ini keadaan seseorang seakan tidak pernah berhenti berbuat sesuatu walaupun sedang tidur pulas , karya dan wisata dalam tidur disebut juga ” Mimpi” , daya atau getar alam astraal ini bisa sangat kuat sehingga membuat orang tidur jadi mengigau  bahkan ada yg teriak ketakutan gero-gero , kuat lemahnya daya tersebut sebenarnya tergantung kondisi kejiwaan yang melaluinya , pada jiwa yang kuat dia dapat menembus lapisan alam kubur bahkan alam jin yang masih similar dng alam manusia.

I’tikaf – Samadi atau manekung itu bukan hanya merantau di alam astraal saja tapi harus menggayuh / menuju sampai alam luhur agar terbebas dari nafsu yang menyesatkan.



Pos ini dipublikasikan di pitutur. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s