Jejak Satrio Pinandito di Banyubiru.

Langkah pertama terayun memasuki kecamatan Banyubiru  sayup- sayup  terdengar sambutan gema Lokananta bertalu  ,melayangkan senandung kegembiraan   Kebogiro , senja haripun tiba kabut tipis menyelimuti hamparan Rowopening  mengalahkan hijaunya daun Enceng gondok yg melapis permukaan airnya, …..sempat juga ada pertanyaan dimana Banyu(air)birunya?

Rowopening

Ternyata Matahari justru menjawab pertanyaan yang tak terucap , ketika gelap mulai mendatangi Rowopening  dari permukaan masih sempat ditangkap bayangan alam sekitar yang membiru .

Warna masih memberikan pesona …hem … Si tho masih terus menapaki  jejak yang lama telah ditinggalkan  , jejak Ki Ageng Kaca Negara  atau Prabu Bre Wijaya V ….  Banyubiru adalah kawasan yang pernah dijadikan persinggahan atau bahkan semacam singasana di perantauan ( pengasingan ) ….. ah kalau Prabu Bra Wijaya V mengungsikan diri…..  mustahil …..apalagi melarikan diri dari Trowulan karena diserbu Demak lebih tidak mungkin lagi, mengingat  Banyubiru adalah masih Kawasan Semarang  yang dekat dengan Demak Bintoro . …… ah bagi sitho sementara lebih pas kalo  Eyang Prabu pergi  mengasingkan diri dari hiruk pikuk Trowulan dan Demak yang lagi ada gesekan paham dan kekuasaan.

Pedukuhan atau dusun Dukuh menjadi pilihan untuk jadi tempat  peristirahatan sementaranya  yang hingga kini kawasan Dukuh dikenal dengan situs Candi Brawijaya V , hal ini karena para Resi dan Brahmana yang ikut dalam pengasingan Sang Prabu telah membangun Candi-candi sebagai tempat menghaturkan Puja dan Puji kepada SING BHAUREKSANING  URIP ( Yang Maha Hidup dan Maha menghidupkan ).

Gerbang Dukuh

Diam diam Si tho mengagumi langkah bijaksana dari  Sang Prabu Brawijaya V  dengan menetap ( walaupun ) sementara  di Banyubiru , karena Banyubiru  adalah tampat strategis untuk memonitor Pemerintahan Demak  dan Pengging yang keduanya lagi dibangun oleh putra putranya.

Sayang Si tho hanya katongbolong bukan  si beruang seandainya jutawan mungkin  kawasan dukuh ini akan dihidupkan kembali sebagai kawasan wisata ruhani , karena dalam telisik Si tho dikawasan ini telah dimulai adanya ” Persatuan umat beragama ” yang umatnya sama sama nurut dan setia kepada  Sang Prabu Brawijaya V raja junjungannya.

Dukuh – Banyubiru telah menjadi saksi bahwasanya sang Raja Agung Majapahit  telah badar menjadi ” Satrio  Pinandito “.

Selayaknya Satrio Pinandito maka beliau mengenakan busana LURIK LAWE dengan mahkota berupa Udeng dikepala.

Udeng sebagai pengiket merupakan penjawaan (  lelaku ) dari hadis yang tertulis dalam kitab suluk jawi ” Tajul Muluk ” dalam paragraf Surban ( iket ) , tersebut dalam Piweling Kanjeng Nabi Muhammad saw  ” Surban itu bermula adalah mahkota bagi bangsa Arab ” , maka tepat sudah sebagai raja  bangsa Jawa Sang Prabu Brawijaya menggunakan mahkota berupa udeng ( kain bersegi empat ) di kepalanya.

Satrio itu juga prajurit dan seorang prajurit tidak akan asal-asalan menggunakan kabaret dikepalanya melainkan harus melalui ujian penempaan jiwa dan raganya hal ini berbeda dengan singasana yang dapat diperoleh melalui warisan dari leluhurnya.

Dalam proses penempaan diri sebagai Satrio Pinandito inilah Si tho menelisik  adanya Sabdo Palon.

Sabdo atau sabda  adalah ucapan , tutur atau kalam , ketika sebagai raja sabda adalah titah yang harus dilaksanakan oleh para punggawanya , hal ini sangat berbeda ketika Sabda itu turun kepada satrio maka ia harus melaksanakan setiap sabda yang telah dituturkan .

Palon adalah dzat diri yang menerima dan melaksanakan turunnya sabdo atau kalam  , dalam makna ada perbedaan sabdo dengan kalam  hal ini dapat diketahui oleh orang ” yang nglakoni” perbedaan itu sendiri , namun sebagai kabar tetenger Si tho memisahkan bahwa Sabdo itu adalah wujud tutur yang sampainya melalui wasilah atau perantara sedang Kalam itu tutur yang datangnya tanpa perantara dalam hal ini dicatatan Si tho disebut dengan ” mendengar tanpa telinga melihat tanpa mata ” nah…disinilah terjadi sebenarnya pembangkangan Sabdo Palon yang kontroversial , bahwa ia mengaku sebagai ratu dahnyang itu cuma “salin basa” yang sesungguhnya hanya mengaku ” aku ini adalah dzat diriku sejati ( ratu dhanyang tanah jawi )”, keberadaan kalam itu ditandai Si tho sebagai yang dinamakan Kalamwadi .

Dari ungkapan dlm serat sabdo palon paragraf 3 : Sabdo palon berkata kepada tuannya Prabu Brawijaya V;

““Hamba tidak masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan kita harus berpisah.”

Sitho menangkap pesan bahwa keadaan itu merupakan serat bukti nyata bahwa Satrio Pinandito sedang dalam proses menaklukkan anasir diri sebagaimana ajaran luhur Prabu Djayabaya leluhurnya dan adalah wajar jika perjuangan menaklukkan anasir tanah ( dahnyang diri ) ini menimbulkan banyak cerita atau pengalaman yang beraneka ragam dan bagi orang yang cupet daya nalarnya akan mengkaitkan dengan sesuatu yang menakjubkan bahkan mistis luar biasa….. sehingga orang yang sama sekali tidak ngerti akan dengan mudah berkata tabu dan haram dikerjakan.

Sebagai Ksatrio Prajurit keberadaan dahnyang diri atau sering

Banyubiru/cahyo sejati

disebut dengan nama ” sedulur papat ” itu diperlukan dalam mewujudkan  adanya kesaktian , namun sebagai Ksatrio Pinandito hal tersebut sudah tidak diperlukan atau sudah harus salin busana …. sebagai Prajurit Palon tentu tidak segera menerima dipensiunkan dini maka ia mengajak  untuk tetap bertahan dalam keadaannya.

Rasia ini menjadi terang ( mbanyubiru ) jika dilihat dari Ati wening ( Rowopening ) … sebaliknya tak akan nampak dipandang dengan  batin yang masih kotor njembrung seperti Rowo ketutup Enceng Gondok.

Pada laku Ening Cipta dalam I’tikap – manekungnya Si tho membaca semua peristiwa di atas Dukuh Banyubiru dan inilah wisata ruhaniyah yang dinikmatinya.

Apa yang dibaca sungguh berbeda dengan pengertian yang sudah ada selama ini :

Ungkapan sabdo palon ” Hamba tidak masuk Islam ” kepada prabu Brawijaya V , adalah kejujuran dari Jasad si Badan wadhak , hal itu karena adanya kabar pengertian ” Asal tanah kembali ke tanah -asal panas kembali ke Api ” , ungkapan ini justru menunjukkan bahwa Sang Prabu sedang memberi Pitutur kepada Sn.Kalijogo tentang tauhid diri   sekaligus memberi pesan bahwa agama Islam itu sudah lama ada di Majapahit. Perjalanan mentauhidkan diri memang sulit diterima logika dan memang sepantasnya tak dilogikakan , dialog antara  Prabu Brawijaya V dengan Sn.Kalijogo  yang banyak ditulis dalam berbagai literatur masih perlu dikaji dari dalam tulisan itu sendiri.

Kalamwadi

Munculnya nama tokoh Kalam wadi dalam serat Dharmo Gandul sebenarnya adalah rekaan penulis ketika menangkap sebuah wasiat leluhurnya. Sitho menengarai bahwa Kalamwadi sebenarnya hanya satu elemen sifat diri ( isoteres ) yang menyempal dari kesatuannya.Dalam khasanah “ilmu Pangeran” yang berkembang dari Pengging hingga Mataram terdapat satu sandi tauhid :

” Jisim sifating nyawa “

Jisim dimagsud adalah tubuh yang berada didalam dzat diri yang terdalam ,keberadaan kalam wadi adalah satu elemen dari benang sifat yang harusnya terajut dalam dirinya, sifating nyawa adalah karunia dari YANG MAHA SUCI yang harus dijaga kesucian dan keutuhannya.

Adakah ajaran ini masih berlaku dalam laku tauhid ?

Apakah cukup orang ngaku-ngaku saja bertauhid  dengan asal sebut bahwa AKU BERIMAN , AKU PERCAYA sementara dirinya tidak dapat membuktikan sendiri KEPERCAYAAN yang telah diberikan oleh YANG MAHA KUASA.

Bukankah kitab suci Al Qur’an  telah mengabarkan bahwa hal tersebut adalah hal yang dimurkai ……

Wallohus salam,

tobe cont……..

Pos ini dipublikasikan di Lelakon. Tandai permalink.

2 Balasan ke Jejak Satrio Pinandito di Banyubiru.

  1. robby berkata:

    tulisan yang sangat bagus pak. terima kasih atas infonya yang bagus. terima kasih juga pada pak Sriwidada atas pemberitahuan web ini. Rahayu selalu

  2. brobani berkata:

    Rabu · Komentari · Suka
    5 orang menyukai ini.

    Sriwidada Putu Gedhe Wijaya Bung Bani, bahagia hati ini, disamping panjenengan kerso menghimpun renungan kita bersama telah pula panjenengan sempurnakan dengan isoteris sehingga mampu menambah wawasan dan referensi tentang apa yang tersirat di dalam setiap kejadian baik ucapan (sabda) dan Palon (dzat diri ?) sehingga jumbuh.

    Sebagai bangsawan – bangsawan karakter “GERAKAN … Lihat Selengkapnya
    14 Juli jam 20:23 · Suka · 1 orang

    Frans Hananto nuwun kangmas…pangolah pangrengganipun satrio kang mahanani lan migunani adedasar sifat adiluhung inggih mboten tebih saking doyonipun ingkang saged hanguripi ROSO JATI nglenggahaken napsu angkoro …andadosi SUKMO kang murko amargi sampun limpad saking mutmainah aluamah supiah amarah ugi unimah sakamangke GUYUB RUKUN saestu mongkok sesisihan … Lihat Selengkapnya
    14 Juli jam 22:34 · Suka · 1 orang

    Bani Efendi Ms Sriwidada @ Kaleresan nyengkuyung gumelaripun Renungan seri G.
    Ms .Frans @ Maturnuwun , saestu leres atur panjenengan , makaten gumelaripun lelampahan ingkang sampun …saha dawahipun ingkang bade dipun lampahi para satrio …/mugi tansah karahayon.
    14 Juli jam 22:55 · Suka · 2 orang

    Panembahan Ismoyo Terima kasih , maturnuwun kiriman ini , beserta para cantrik kami setuju dengan gagasan Sitho ( Bani juga ya…salin basa ) menjadikan Desa Dukuh – Banyubiru sebagai kawasan prasasti lahirnya ” Kerukunan antar umat beragama” yang diprakarsai oleh Prabu Brawijaya V , smoga niat baik ini dibaca BP3 Jawa Tengah ….. pepatah dari barat ” menegakkan … Lihat Selengkapnya
    14 Juli jam 23:08 · Suka · 2 orang
    ·

    Bani Efendi P ismoyo : nampaknya baru beli benang ke Padang ya…. trimakasih , bukan jadi prasasti tapi dijadikan kawasan wisata ruhani , sebagai mana yang pernah dilakukan oleh P.Brawijaya.V beserta para panoto gama /ulama,resi dan Brahmana ….. setuju dengan managakkan banang basah … begitulah pandangan orang yang keblinger dalam se-jarah para pen-jarah… Lihat Selengkapnya
    14 Juli jam 23:36 · Suka · 2 orang

    Darma Eka Poro satrianing bongso wis podho jumedul… sampun mboten piningit maleh hehehe…….. sampun mboten wigah wigih ngakoni budayane dewe datan ajrih pikantuk pangkat kafir….
    Keseimbangan alam akan mulai merambat naik… kejayaan nusantara akan mulai nampak cahayanya….
    Selamat kepada para sesepuh yang dengan sabar nggulowentah para satrio nuswantoro………..menanamkan patriotisme dalam jiwa setiap anak bangsa…….
    15 Juli jam 18:40 · Suka

    Joko Aji Wibowo WAHHH…gagasan yg bener2 mngggah smangat trmsk sy yg msh awam utk trz bljr pd panjenengan sedoyo..klo setau sy…memang sabdo palon tsb.muksa krn dy menolak msk Islam smp dy smpat berkata ttg keadan nusantara yg trkena pagebluk/musibah yg lamana tu sktr 500th t memang tu sdh takdir dr Gusti kang maha Kuasa,tp sy msh krg jelas mgenai hal tsb krn sy… Lihat Selengkapnya
    Jumat pukul 20:24 · Suka

    Sriwidada Putu Gedhe Wijaya gayung bersambut, daya telah terlontar mangambar arumke seluruh nusantara berbaur dan nyawiji dalan jiwa – jiwa yang terpanggil atas jeritan sang BUNDA yang hamil tua dengan pakian lusuh dan gontai mata nanar akibat diperah dijarah dan didzolimi oleh anak – anak kandungnya sendiri yang sedang keyungyun kadonyan dan mainded jiwa & budaya manca//… Lihat Selengkapnya
    Jumat pukul 20:55 · Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s