Budaya Tauhid Sang Prabu.

Dalam khasanah Ilmu Tauhid  dapat dikenali  adanya 4 azas tauhid  [ dzat , sifat , asma dan af’al ] , merupakan  sebuah kajian tua yang masih dapat dijumpai dalam kitab kuning  Tauhid .

Sambil melepaskan lelah di Plaosan sahabat sitho mendendangkan sebuah syair  Sang Prabu Jaya baya , dalam hati Si tho menterjemahkan tembang indah yang didengarnya :

Sak durunge benihe Ingsoen kuwi ono   ,

[ sebelum dazt itu ada ]

Gusti kang luweh disek nggawe ukom kanggone Ingsoen,

[ Dia lebih dulu menetapkan sesuatu padaku ]

bandjor sukmo kang iseh durong ono isine ing bumi sutji.

[ sebelum ruh itu berada dalam jasad [bumi ]

Ketjobo kang luweh disek teko, asmone,

[ kecuali namaku yang mengawalinya  ada ]

Ingsoen ing bumi sutji, ora ono Gusti ketjobo Ingsoen.

[ Pada alam suci tiada yang Tuhan  selain Aku ]

Lan benihe Ingsoen kang moho sutji,

[ dan ruhku yang Maha Suci ]

kang ditjiptakake Gusti, ndadegake sipate Ingsoen sutji,

[ yang diciptakan-Nya menjadi sifat suciku ]

ono ing asmone Ingsoen.

[ pada nama ku ].

Ingsoen benih kang moho sutji, kang biso nggawe sak widjine kedadian,

[ padaku asal  ruh yang suci , yang dapat membuat segala awal kejadian ]

ugo Ingsoen biso ngentekake opo kang dadi kekarepane Ingsoen.

[ juga hanya aku yang dapat menjadikan kemauanku]

Awet Ingsoen nduweni kasempurnan kang manggon ono ing ragane Ingsoen,

[ Karena aku senyempurnanya  ruh dalam jasad ]

kang diparengake Gusti. Lan iki tondo, kang kasunyatan marang asal – usule Ingsoen.

[Anugerah  yang telah Dia berikan ,  menjadikan  jelas asal usulku ]

Luweh, luweh Ingsoen iki rasane manungso kang ditjiptakake Gusti,

[ kelebihan padaku menjadi rasa hidup manusia yang Dia ciptaankan]

tekane soko: (1. Lemah.) ( 2. Geni.) ( 3. Banyu.) ( 4. Angin.)

[ berawal dari anasir Tanah , Api , Air dan Angin]

Bandjor teko rasane Ingsoen kang lima jo kuwi

[ kemudian dari rahsa itu meliputi adanya  lima hal ]

: ( l. Tjahyo.) ( 2. Roso.) (3. Sukmo.) (4. Angkoro murko.) ( 5. Budi.)

[ cahaya , rasa , sukmo ,nafsu dan perbuatan ]

semono, ugo budi kuwi tali rupane Ingsoen,

[ demikian juga adanya perbuatan itu terwujud oleh-Ku]

kang moho sutji, tan keno, reget kanggo sak lawase.

[ Yang Maha Suci itu senantiasa terjaga kesuciannya selamanya ]

Wejangan yang tertuang dalam syair tembang yang sangat indah , menjadi sebuah budaya yang langka dan nyaris tak tersentuh oleh pengetahuan modern yang justru lebih senang mendedangkan logika yang ada dalam perhitungan dan lembaran prediksi ramalan yang dibarengi data ilmiah.

Wejangan yang berisi rumus cipta membedah anatomi kejadian alam semesta dan mahluk serta manusia  tergantung siapa yang menafsirkannya.

Sitho menyadari ada yang cenderung menafsirkan dengan cara mistisnya [niru ]  Gatoloco  dan ada yang sesuka hatinya saja mendendangkan dan mengelar maknanya….. sumonggo terserah saja pada mereka.

Si tho ..atau si thok  itu  …siji..alias  Ahad atau Setunggal , maka pendekatan bahasa Si tho adalah bahasa Ibu [ bhs. Ngawi ] yang menjadi cikal bakalnya ” Sastro Cetho”   maka hasilnya wejangan sang Prabu Djayabaya adalah berisi Kuliah Tauhid yang Agung dan dalam maknanya.

Si tho jadi ingat sama saudara kembar Coblomo dan Comedit [ akan di blog ] , Coblomo adalah pemuda yang  berahlak sopan santun dan dermawan  yang selalu saja dibayangi oleh adik kesayangannya Comedit  pemuda gagah lugu bahkan slengekan , Coblomo karena loma atau sikap yang royal suka memberi derma  justru dianggap markus oleh adiknya yang kritis dalam memperhitungkan sesuatu sebab akibat dari perbuatan , padahal Coblomo tidak peduli dengan imbalan perbuatan baiknya yg penting dia dapat berbuat itu saja cukup … Coblomo bahkan sempat menggadaikan sepeda untuk ongkos tetangga yang mau magang jadi pegawai negri ……..  oleh adik Comedit justru dicap sebagai penyuapan terhadap calon pejabat …..apa kata Coblomo …. ” [ cahaya , rasa , sukmo ,nafsu dan perbuatan ] itu semua adalah hijab yang harus disingkirkan , Coblomo menasehati adiknya Comedit ,

Cahya : Cahya kito ini hanyalah bias yang sampai  maka   suar nama besar ,kemashuran dan kesohor itu tidak berguna jika Cahyo itu berangkat dari Roso yang tumbuh dalam diri mu , karena rasa yang menjadi  Penguasa dalam dirimu itu akan mempengaruhi sukmo ..ya jiwamu sendiri. Jiwa atau sukmamu akan terpuruk dalam kemegahan dan kelezatan roso kang tuwuh  – tumbuh didalam hidupmu  itu semua adalah cahyanya nafsu yang menjadikan kiblat papat bagi perbuatanmu.

Gusti Yang Maha Suci tidak akan memandang adanya cahya, rasa ,sukma dan perbuatanmu  yang demikian indah mempesona bahkan dijadikan idola para pemburu pahala ….. semua itu kalis muspra sia sia  dan akan menjadikan penghalang untuk mencapai hidupmu yang sebenarnya … adik Comedit.

Terima kasih , puja dan puji sukur kepada Dia Yang Maha Kuasa yang telah memberi karunia yang melimpah ruah ke Bumi Nusantara sehingga tumbuh  Jiwa luhur yang semerbak wangi tak pernah luntur.

Maha Benarlah Allloh swt yang telah mengingatkan bahwa “akan ada utusan [rosul] diantaramu” , dan Allloh telah pula mengutus Prabu Djayabaya untuk menjadi panutan melaksanakan ajaran Manunggal atau Tauhid  bagi bangsa Nusantara .

Karna ke Arifan sang Prabu …… banyak rohaniawan dunia berdatangan ke Nusantara , ada yang datang khusus menjumpai dan belajar  , ada juga yang datang sambil berniaga dan ada juga yang datang untuk menguji kebenaran ajarannya [  pendeta dari Rum ] , perlu kebijakan untuk mengambil kesimpulan terhadap ajaran Sang Prabu.

Pos ini dipublikasikan di pitutur. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Budaya Tauhid Sang Prabu.

  1. Emirat berkata:

    Ass.wr.wb

    Hubungan budaya dan Tauhid bagaimana ,pak?
    Budaya kan seni…..????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s