2012

Tahun 2012, disamping ada kekhawatiran akan terjadi suatu bencana alam yang maha dahsyat bahkan ada yang meramalkan akan terjadi kiamat, tidak sedikit justru yang meramalkan akan terjadinya suatu jaman baru. Kesadaran baru umat manusia menuju jaman kearifan, dunia baru yang jauh lebih baik sebagai anti klimaks dari kerusakan yang telah dilakukan umat manusia selama ini terhadap alam maupun penodaan terhadap banyak sisi kemanusian itu sendiri.

Jaman edan atau jaman gila bukan hanya dikenal di Indonesia atau khususnya Jawa dari peringatan yang disampaikan oleh pujangga Jawa, R. Ng. Ranggawarsita dalam bukunya Serat Kalathida sebagai penggambaran era jaman ini yang banyak pihak mengatakan sebagai jamanKalabendu (terjadinya banyak bebendu atau kekalutan), menjelang kedatangan jaman Kalasuba (terjadinya jaman kesenangan atau kebahagiaan).

Arjuna Ardagh dalam bukunya Translucent Revolution menyebutkan bahwa saat ini kita hidup dalam dunia yang memang benar sedang menggila, yaitu: merebaknya kegiatan terroris, kerusakan akibat imperialisme yang meluas tidak terkontrol dan buta, rusaknya nilai moral, krisis lingkungan yang makin akut, menipisnya cadangan minyak bumi dunia sebagai satu-satunya sumber energi terbesar saat ini.

Dengan keadaan dunia yang makin tidak member harapan, banyak cendikiawan dunia makin percaya bahwa dunia hampir mendekati daya dukungnya terhadap kehidupan dan menuju pada kehancurannya. Titik baliknya adalah tahun 2012, seperti yang diramalkan akan terjadi pergantian siklus panjang 26,000 tahun suku Maya yang akan terjadi pada tanggal 21Desember 2012.

Sedangkan sebagian lain para cendikiawan dunia mencoba melihat siklus waktu yang berada dibelahan bumi yang lain apakah punya siklus waktu yang sejenis yang memberikan tanda-tanda kehancuran atau justru memberikan tanda-tanda harapan datangnya suatu dunia baru.

Dalam mitologi Hindu dikenal sistem Yuga Hindu yang membagi siklus kehidupan sebagai berikut:

1. Satya Yuga atau jaman emas: jaman kemewahan berlebihan; berlangsung selama 1.728.000 tahun; tidak ada perang, kelaparan, pergolakan, atau kejahatan.
2. Treta Yuga atau jaman perak: jaman kemunduran; awal dari korupsi dan kejhatan diperkenalkan; berlangsung selama 1.296.000 tahun.
3. Dvapara Yuga atau jaman perunggu: jaman kejatuhan; korupsi lebih disadari, kejahatan mulai menyebar; segala sesuatu mulai jatuh dalam keadaan tidak harmonis; berlangsung selama 864.000 tahun.
4. Kala Yuga atau jaman besi: ini adalah tahun yang kita alami saat ini; kejahatan dan korupsi adalah kekuatan yang menggerakkan; keserakahan, perang, kelaparan, dan penyakit yang meluas keseluruh planet seperti gelombang pasang kematian dan kehancuran; berlangsung selama 432.000 tahun.

Note: Nilai tahun merupakan nilai relatif atau simbolis, terasanya seolah-olah dalam nilai tahun tersebut. Sedangkan nilai siklus yang sebenarnya adalah 6.480 tahun, kalau ini dikalikan empat 25.940 tahun dan kalau dibulatkan sama dengan nilai siklus panjang suku Maya yang 26.000 tahun.

Siklus ini walaupun waktunya tidak presis sama dengan siklus panjang suku Maya adalah memberikan suatu pandangan bahwa akan adanya siklus akhir dari Kala Yuga sebagai tanda akhir jaman atau siklus kembali lagi ke Satya Yuga atau kembali ke jaman keemasan.

Mitologi Yunani juga mengenal siklus jaman zodiac yang masing-masing berdurasi sekitar 2.160 tahun. Saat ini kita sedang mengalami masa akhir dari siklus Pisces atau jaman Pisces yang dimulai pada tahun 120 sebelum Masehi dan menjelang perubahan menuju jaman Aquarius. Sedang waktu yang tepat perubahan jaman Pisces ke jaman Aquarius para ahli astrologi belum sepakat. Ada yang memperkirakan sekitar tahun 2117, ada juga yang mengatakan sejalan dengan kalender Maya sekitar tahun 2012.

Sedangkan ciri-ciri jaman Pisces yang ditandai dengan simbol dua ikan; sebagai simbul konflik antara dua hal: konflik antar agama (antara agama-agama besar yang ada), konflik ideologi (komunisme vs kapitalisme), dll. Oleh karena itu sepanjang jaman Pisces ditengarahi dengan berbagai konflik kepentingan sampai dengan saat ini.

Sedangkan ciri-ciri jaman Aquarius yang ditandai dengan simbol air, sebagai simbul asal mula kehidupan adalah air. Kehidupan akan ditandai dengan kesadaran umat manusia terhadap spiritual asal usul kehidupannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Akan ditandai dengan harmoni, kebersamaan, dan keseimbangan kehidupan. Berbalik 180 drajat dibandingkan dengan jaman Pisces. Ini adalah suatu harapan datangnya jaman baru, jaman Aquarius tentang kehidupan manusia yang lebih harmonis, kebersamaan, dan keseimbangan dengan semangat spiritual yang tinggi tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

Jaman baru seperti apa yang diprediksi oleh para cendikiawan dunia akan muncul bersamaan dengan momentum gejala alam 2012?

Jean Houston dalam bukunya Jump Timer (Waktu Melompat) bahwa dunia bersiap untuk transformasi radikal yang disebut Waktu Melompat. Dalam masa perubahan yang cepat ini ini, semua budaya, terlepas dari tingkatan sosial atau ekonomi mereka, memiliki sesuatu nilai mulia untuk ditawarkan pada seluruh manusia.

Waktu Melompat adalah transisi sistem keseluruhan, kondisi perubahan interaktif yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan sebagaimana yang kita ketahui. Fokus pada kemunculan pola kemungkinan yang sebelumnya tidak tersedia bagi masyarakat bumi sebagai suatu keseluruhan, yaitu:

1. Denjut Evolusioner dari Bumi ke Semesta. Kita sedang bangkit menuju kesadaran dimana menjadi rekan penciptaan, pelayan bagi kesejahteraan bumi dan partisipasi sadar dalam epik evolusi kosmis..
2. Pemolaan Kembali Sifat Manusia. Kita harus menemukan cara untuk merasa nyaman dengan siapa saja, di mana saja, kapan saja.
3. Kejadian Kembali Masyarakat. Menuju penemuan gaya baru dalam hubungan interpersonal dan cara keberadaan baru dalam komunitas masyrakat global yang ada.Gerakan ini pola perubahan egosentris dan ethnosentris menjadi dunia sentries – perubahan fundamental dalam alam peradaban.
4. Pecahnya Selaput. Dalam realitas saling tergantung pada Waktu Melompat, hambatan lama dileburkan bersama fobia yang menahannya. Teknologi dalam komunikasi instant dan perubahan informasi memungkinkan orang menggabungkan pikiran dan hati dalam penemuan dan penciptaan bersama.
5. Terobosan Kedalaman. Kedalaman sedang menerobos dalam renaisans (kelahiran kembali) spiritual yang sedang terjadi dimana-mana. Kita memerlukan pencerahaan spiritual yang sesuai dengan perkembangan tehnologi untuk memberikan kecukupan inspirasi dari dalam untuk membimbing bentuk luar kita yang meluas.

Inilah waktunya untuk mengajukan pertanyaan besar: bagaimana kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik? Apa yang harus kita lakukan untuk melayani kisah yang besar ini?

Suatu dunia baru yang diinginkan, dibentuk, dan dilaksanakan secara bersama seluruh umat manusia dalam harmoni dan kebersamaan. Ini juga menjadi suatu realisasi pola pemikiran moralitas Jawa dalam perkataan “Mamayu Hayuning Bawono” – ikut serta dalam memelihara kesejahteraan dunia.

PERLUKAH  PEROMBAKAN  STRUKTURAL

Indonesia mempunyai kekayaan yang luar biasa dari segi budaya dengan banyaknya suku bangsa yang ada dalam rangkaian pulau di Nusantara. Sebetulnya merupakan suatu aset yang tidak ternilai bagi masa depan Indonesia, terutama kalau betul-betul bisa melaksanakan motto Bhineka Tunggal Ika, beranekaragam tapi tetap satu. Pertanyaannya: kenapa budaya bangsa selama ini malahan menjadi faktor penghambat bagi kemajuan bangsa Indonesia?

Sebagai salah satu indikator, seberapa besar penghargaan kita terhadap budaya kita sendiri maupun penghargaan dunia terhadap budaya bangsa Indonesia adalah dengan melihat sudah berapa banyak budaya Indonesia masuk dalam katagori Intangible Cultural Heritage di UNESCO. Selama hampir 65 tahun merdeka, budaya Indonesia baru 3 (tiga) yaitu: Wayang (2003), Keris (2005), dan Batik (2009). Bandingkan dengan China – 29 (dua puluh sembilan), Jepang – 16 (enam belas), dan Korea – 8 (delapan). Ini bisa juga sebagai suatu indikasi, negara besar bukan saja dari sisi ekonomi dan tehnologi, tapi juga bermula dari penghargaan terhadap nilai-nilai budayanya sendiri.

Menghargai nilai-nilai budaya tidak sama pengertiannya dengan mempertahankan budaya lama yang dianggap sudah kuno. Yang harus dilakukan adalah melakukan pengkajian terhadap nilai-nilainya yang bersifat Intangible (tidak bisa diukur secara harafiah) sehingga nilai-nilai tersebut bisa tetap terpakai sepanjang masa. Memerlukan suatu usaha untuk menterjemahkan suatu nilai budaya dengan mendalami filosofi yang mendasari didalamnya sehingga cukup bernilai untuk dianggap sebagai warisan budaya dunia.

Jadi kesimpulannya bangsa Indonesia selama ini kurang mau mendalami budayanya sendiri sehingga bisa dimunculkan nilai-nilainya kepermukaan agar mendapat pengakuan sebagai suatu nilai-nilai yang abadi secara universal. Kenapa hanya 3 (tiga) nilai budaya: Wayang, Keris, dan Batik yang telah diakui oleh Unesco?

Kebetulan ketiga-tiganya ada unsur Jawa-nya. Diakui oleh dunia bukan sebagai budaya Jawa, tapi budaya Indonesia. Ini yang masih banyak kurang disadari, bahwa bangsa Indonesia mendasarkan diri pada konsep Bhineka Tunggal Ika. Budaya Indonesia tidak lain adalah kumpulan dari berbagai budaya daerah, terserah dari putra-putri daerah untuk menggali budaya daerahnya sendiri untuk diperkenalkan sebagai budaya Indonesia bahkan sebagai bagian dari budaya dunia.

Kita bisa mencari tahu atau melihat sudah berapa banyak kajian dilakukan, buku yang diterbitkan baik dalam bahasa daerah, bahasa Indonesia dan bahasa asing lainnya untuk memperkenalkan budaya Wayang, Keris, dan Batik. Tidak terhitung jumlahnya, bahkan saat inipun masih terus bermunculan kajian tentang Wayang, Keris, dan Batik dilihat dari berbagai segi. Hal ini yang perlu diperlihatkan oleh putra-putri daerah lainnya diseluruh Indonesia, kalau budayanya ingin dijadikan suatu budaya yang nilai-nilainya bisa mendapatkan pengakuan nasional, bahkan pengakuan dunia. Ini juga sebagai suatu manifestasi pelaksanaan konsep Bhineka Tunggal Ika.

Jalan pintas yang paling mudah memang melupakan saja budaya lama yang kuno, ambil saja budaya asing untuk ditiru, habis perkara. Ini yang terjadi saat ini, mau ambil gampangnya saja, budaya Barat lebih menarik untuk ditiru walaupun belum tentu lebih baik. Sayangnya yang ditiru adalah budaya pop yang bersifat temporer, bukan budaya Barat dalam pengertian nilai-niai filosofi yang terkandung dari budaya Barat. Karena dari nilai-nilai filosofi Barat yang bersumber dari nilai-nilai filosofi Yunani kuno, kita juga bisa belajar banyak. Paling tidak suatu nilai-nilai budaya tidak muncul begitu saja, nilai-nilai budaya Barat pun tidak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai budaya kuno bangsa Yunani sebagai sumbernya.

Apakah bangsa Indonesia kekurangan naskah-naskah budaya kuno yang nilai-nilainya bisa kita adaptasi menjadi nilai-nilai budaya bangsa Indonesia masa kini? Kalau jawaban saya, tentu saja kita tidak kekurangan naskah-naskah budaya Indonesia kuno, tapi bagaimana dengan bangsa Indonesia secara keseluruhan?

Karena sebetulnya topik saya adalah perubahan sistemik suatu tata negara, apa kita bisa hubungkan antara sistem suatu negara dengan nilai-nilai budaya kuno bangsa Indonesia? Tentu saja bisa, kalau kita mau menggali konsep-konsep kenegaraan yang ada dalam budaya masa lalu Indonesia, untuk mudahnya contohnya adalah Wayang, karena Wayang sudah menjadi salah satu Intangible Culture Heritage yang diakui Unesco, tentunya ada yang bisa kita pelajari dari nilai-nilai budaya Wayang sebagai refleksi sistem ketata negaraan.

Note: kajian ini mendasarkan diri dari cerita wayang kulit Jawa, yang dari nilai-nilai yang terkandung didalamnya tidak akan jauh berbeda dengan wayang golek Sunda, wayang Bali, ataupun wayang-wayang lain di Indonesia.

1. Sumber utama cerita wayang kulit Jawa adalah pakem-pakem yang ada di Serat Pustaka Raja Purwa (versi Solo), Serat Purwakandha (versi Jogja), Serat Pedhalangan Ringgit Purwa (versi Mangkunegara), dan Serat Pakem Pedhalangan Wayang Purwa (versi Pakualam) adalah cerita kepahlawanan para ksatria dan raja yang baik melawan ksatria dan raja yang tercela.

2. Pada pagelaran wayang kulit, “Sang Dalang” tidak membedakan negara mana yang sedang diceritakan, selama menjadi awal sebuah cerita, negara tersebut akan diceritakan sebagai sebuah negara yang ideal. Yang pada hakekatnya penjelasan bahwa visi keberadaan suatu negara adalah untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

3. Dunia “wayang kulit” juga tidak bisa lepas dari dunia kepemimpinan yang ideal, yaitu syarat yang berat untuk seseorang menjadi seorang raja atau pemimpin negara karena hanya pemimpin yang ideal bisa mewujudkan masyarakat yang ideal.

4. Dalam “wayang kulit” ada dua episode utama: episode Ramayana dan episode Mahabharata. Masing-masing ada dua negara yang saling berhadapan sebagai pihak yang tercela dan pihak yang patut ditiru. Dalam episode Ramayana, antara negara Alengkadiraja – dengan Rahwana sebagai rajanya dan Ayodya – Ramawijaya sebagai rajanya. Dalam episode Mahabharata dengan Duryudana sebagai rajanya dan Amartapura – dengan Puntadewa/Yudhisthira sebagai rajanya.

5. Kaitannya dengan negara dalam dunia pewayangan, “sang dalang” selalu menceritakan keberadaan negara ideal baik itu di Hastinapura, Amartapura, Alengkadiraja, atau Ayodya kalau negara itu menjadi awal cerita. Yang membedakan sifat negara tersebut adalah sifat pemimpin-pemimpinnya yang menjadikan ciri negara tersebut bisa dikatakan sebagai negara panutan atau bukan.

6. Bukan suatu analogi yang tepat dengan mengatakan suatu negara harus mengikuti sebagai contoh adalah suatu negara seperti Amartapura, Hastinapura, Alengkadiraja, atau Ayodya. Karena yang tercela adalah Hastinapura pada saat dipimpin oleh Duryudana tidak pada waktu dipimpin oleh Panduwinata, ataupun Parikesit begitu juga Alengkadiraja pada saat dipimpin oleh Rahwana tidak pada saat dipimpin Prabu Somali, ataupun Gunawan Wibisana.

“Wayang Kulit” telah memberikan suatu nilai-nilai yang tepat tentang suatu sistem negara panutan yaitu:

1. Sangat tergantung dari etika dari para pimpinannya, negara adalah negara sekedar suatu wilayah tertentu, kesatuan bangsa tertentu, dan dengan suatu visi tertentu, yang memberikan ciri apakah bisa menjadi negara ideal atau panutan adalah pelaku-pelakunya atau pimpinan-pimpinannya.

2. Sistem kenegaraan bukan yang menjadi masalah utama, sistem kerajaan seperti di pewayangan bisa menjadi baik dan tidak baik tergantung dari etika mayoritas para pemimpinnya. Atau dalam perkataan lain sistem kenegaraan tidak menjamin akan tercapainya visi sebuah negara. Pelaku-pelakunya atau pelaksana-pelaksananya yang mempunyai peranan lebih penting.

3. Negara tidak dijalankan oleh satu orang saja (pemimpin tertinggi) tapi dijalankan oleh para pemimpin. Seperti kerajaan Amartapura tidak hanya ada Yudhistira sebagai raja, tapi memerlukan banyak pemimpin-pemimpin lain (Kresna, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dll), kesemuanya adalah para ksatria berhati mulia dalam bidang mereka masing-masing. Walaupun peranan pemimpin tertinggi tetap terpenting yang harus punya kwalitas integritas kepemimpinan, punya kewibawaan yang tinggi, dan patut dicontoh sebagai panutan.

4. Sistem ketatanegraan kita sudah berganti paling tidak empat kali, dan tetap saja visi negara Indonesia untuk mewujudkan negara adil makmur belum tercapai. Ini suatu refleksi bahwa selama ini mayoritas para pemimpin kita punya etika yang rapuh.

5. Kalau sistem kenegaraan tidak penting dalam mencapai suatu visi keberadaan suatu negara:

a. Kenapa kita harus meniru sistem negara orang lain yang sudah terbukti selama ini tidak membawa manfaat maximal buat masyarakat?

b. Kenapa kita tidak menggunakan sistem kenegaraan kita sendiri yang telah digariskan oleh “founding father” kita yaitu sistem yang tercermin di preambul UUD ’45?

6. Kalau kita perhatikan dengan seksama isi preambul UUD ’45 adalah refleksi negara ideal seperti yang ada dalam cerita pewayangan yang digali dari budaya adiluhung milik bangsa Indonesia sendiri. Permasalahannya hanyalah kita tidak punya pemimpin-pemimpin ideal yang punya sifat-sifat kepemimpinan ideal dengan integritas kejujuran yang tidak tercela.
Catatan :

Wiranto Partosudirdjo

http://www.facebook.com/notes.php?id=1651405216

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s