Buya.

Salam dan Sejahtera,

Buya = Buku Saya , merupakan satu ruas diantara halaman depan atau pekarangan dalam blog ini.

Sahaya adalah  B a n i  S e n g g o t h o ,

Bani berarti kaum atau kerabat , sebagai mana layaknya satu kaum biasanya  dipimpin oleh seorang lelaki , sebagai tanda untuk kelahirannya seorang  lelaki biasa orang tua memberi gelar atau nama untuk memudahkan memanggil atau mengenalinya  , maka lahirlah nama  seperti : George , John , Joko,Bambang ,Ucok ,Parulian , Buyung, Amat dan lain sebagainya. Demikian juga dengan bersambungnya sebuah nama , diberikan dibelakang nama panggilan seolah membawa sebuah pesan sekaligus harapan orang tua kepada anak lelakinya dan sudah menjadi kepastian tak akan ada orang tua yang memiliki pesan dan harapan buruk kepada anaknya sendiri.

Lahirnya Senggotho pernah menggegerkan dunia perwayangan dan perwayangan Nusantara adalah paling tua didunia dia sudah ada sebelum datangnya masa Hindu dan Budha dari negri India , wayang identik dengan bayang atau bayangan maka akan selalu saja ada kisah dari bayang atau wayang yang sama , bukan sejarah yang didaur ulang tapi itu adalah satu ketetapan sebagai mana ada dalam masa atau waktu , waktu akan bergulir dari nol kepada nol kembali dan itu akan terus terjadi sampai pada batas ketentuan NYA.

Dalam pengetahuan nol adalah mutlak dia tak dapat dibagi dan membagi seolah hanya nol yg tahu kenapa dia ada , ketika ada orang ribut mengatakan nol adalah kebodohan dan kedunguan  maka nol tetap nol , demikian ketika dituduh kafir atau fakir dia tetap tak bergeming ..tetap saja sebuah nol , dibentuk menjadi besar seperti yang disebut bola terlempar kesana dan kemari juga tetap nol , itulah sedikit tentang nolnya Senggotho.

Bani Lahir tanggal 14 oktober  , menikah setelah secara spiritual Ki Ageng Kaca Negara bersama Ki Bangun tapa bersamaan mamberi nama kepada Bani berdua dng istri ( Isoteres )  dengan nama Ki Ageng  Wahyoe Sasmita , tepat 27 Ramadhan 1400 H

30 th bersama

perhelatan pernikahan dilakukan setelah selesai sholat Taraweh  27 Ramadhan 1400 H dari jam 22.00 s/d jam 02.00 di sebuah tempat di  Surakarta dan tentu saja undangan yang hadir adalah kaum pria saja , alm . Habaib Anis sempat berkata mengalahi yang arab saja ini si tho semua undangan Pria.

Dari Nol yang berjejer maka sekarang Bani sudah mengandeng seorang istri , tiga putra dan tiga putri ditambah momongan cucu , semoga blog ini dapat bermanfaat bagi Bani – Senggotho beserta orang yang mengenal Bani.

NOTASI   B.A.N. I :

B
Bani / Bro/Bra/Bre : Bahwa setiap manusia itu memiliki asal usul yang sama paling tidak adalah berasal dari genetika Adam dan Hawa , walaupun ada yang membuat garis silsilah yang dekat dengan dirinya , adanya asal usul menjadikan manusia [ manungso] itu menjadi bahan baku bagi wujud kemauan sendiri , ada yang jadi bahan baku Tentara , Mentri dan Presiden dan ada juga yang jadi bahan baku Ulama , Pendeta bahkan Syetan bin Dajal , semua tergantung pada usaha dan ikhtiar setiap manusianya.

A.
Agama adalah ageming diri ,merupakan sebuah ketetapan yang sudah baku ada dalam pribadi setiap insan ,keberadaan agama tersembunyi dari segala akses duniawi , diperlukan upaya yang sungguh -sungguh untuk menjadikannya menjadi karakter diri , ketetapan yang tidak mudah dipeluk dan dirangkul walau oleh sebuah hati yang temen bersih dan iklas , agama tetep dalam posisinya sebagai gate way keharibaan YANG MAHA SUCI.

Allloh [ Allah ] adalah pancer yang sejati , menjadi pasword bagi segala umpan puji dan akses menuju hidup dalam alam kelanggeng , nama ,sifat dan dzat diberikan pada manusia sebagai sarana identifikasi untuk menemukan hidupnya yang sejati.

Anak adalah amanah yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta , menjadi Fitnah suci yang harus dijaga sampai dia menentukan pilihan dalam mempertahankan hidupnya sendiri.

N
Nun , merupakan sahutan dari terpanggilnya sebuah nama , menjadi kalam ketika sudah bergerak dalam dirinya maka dengan sahutan itu bersyariat untuk membangun sebuah hakikat sehingga dengan hakikat miliknya sendiri ia dapat berbuat [syariat ] dalam mengarungi hidupnya yang sak dremo nglampahi.
Negara adalah tatanan yang mengatur komunitas hidup , hadir dalam negara dengan kesepakatan , Manunggal ing Gusti , Gusti dalam arti pepunden dan pengabdian [ pelayanan ].

I
Iman [ Percaya] adalah hak setiap insan dengan agamanya , tidak seorangpun yang dapat merubah kepercayaan seseorang selain orang yang bersangkutan , seruan ingat mengingatkan adalah fitroh yang harus dijalani bersama , Ing Ngarsa sung tulodo – Ing madya mangun karsa – Tut wuri handayani , iman akan menuntun seseorang menemukan ilmu untuk bekalnya berjalan dimuka bumi , Ing ngarso { didepan/diawali ] ilmu didapat dari sesama manusia baik berupa saran nasehat , kritik ataupun sekolahan …namun untuk sebuah pengabdian hidup penemu ilmu itu harus mengikuti ( I’tiba ) pada sunah yang indah ( sun tolodo ) , sunah yang baik kadang bisa berasal dari penampilan se-ekor kodok didalam tempurung atau pada diri petani ditengah sawah …tidak mesti dari seorang yang tersohor atau berkedudukan tinggi . Ing Madya [ Dalam tengah perjalanan ] hidup semua amal perbuatan harus didasari oleh Karso [ mangun karso ] atau Iradah diri yang telah dianugerahkan oleh Gusti Yang Maha Suci , jika belum tau juga mulailah dari udo roso [ menanggalkan rasa diri ] sehingga terjelaslah wujud rasa yang bertahta dalam mahligai teleng diri [ yang hanya berguna untuk membangun duniawi ] . Tut wuri { Pada akhirnya ] sebuah perjalanan hidup selayak sebuah kompetisi siapa dapat meraih piala diakhir hayatnya adalah bergantung pada usaha yang ditempuhnya , Banyak yang berakhir tapi ada satu yang tak berakir yaitu Akhire – Roh [ Akhirat ] dialah yang dapat mencapai finis lalu mengambil piala kompetisi kehidupan , hidup yang Handayani adalah yang berhasil mendapatkan piala hidup bukan yang mencapai finis lalu menyerahkan hasil kompetisi pada wasit yang dianggap ada dalam kompetisi , kompetisi itu pengadil wasitnya adalah diri sendiri demikian juga pesertanya maka dijumpai bahwa setiap yang bernafas itu mati [ berakhir hidupnya ] dan orang mati tidak akan dapat bergerak menyongsong piala …hanya yang sanggup bertahan dalam hidupnya [ di akhiroh ] yang dapat mendapati piala [ kelanggengan jati ].

Smoga tulisan ini  ada manfaatnya dan kepada  para sakabat , sanak saudara yang kurang pas  atau  keberatan dengan tulisan dalam blog ini silahkan ajukan/ tulis  saran dan argumen pada kolom komentar untuk bahan koreksi .

Terima kasih telah sudi singgah  ke blog sahaya ini ,

Wallohus salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s