Piweling

Eyang memang sangat istimewa bagi sitho…….

adalah satu tembang yang sering dilantunkan eyang putri ;

Pamedare wasitaning ati, jumantaka haniru Pujangga, dahat muda ing batine. Nanging kedah ginunggung, datan wruh yen akeh ngesemi, ameksa angrumpaka, basa kang kalantur, turur kang katula-tula, tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padanging sasmita.

Sasmitaning ngaurip puniki, mapan ewuh yen ora weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu, rasaning rasa punika, upayanen darapon sampurna ugi, ing kauripanira.

Jroning Quran nggoning rasa yekti, nanging ta pilih ingkang unginga, kajaba lawan tuduhe, nora kena den awur, ing satemah nora pinanggih, mundak katalanjukan, tedah sasar susur, yen sira ajun waskita, sampurnane ing badanira, sira anggugurua.

Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing chukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana

Tembang itu adalah bagian dari ” Serat Woelangreh, Seratan ndalem Kanjeng Sunan Paku Buana IV. Ing Kraton Soerakarta Hadiningrat.

Yang makna nya sebagai berikut :

( Bermula dari terbukanya keadaan rahasia qalbu , maka janganlah suka memposisikan diri dengan ber fatwa bagai orang yang sudah berilmu , jika keadaan pengetahuan diri sendiri masih sangat dangkal . Harusnyalah terlebih dahulu mengupayakan kemampuan diri , dengan tiada takjub terhadap sesuatu hal yang dijumpai , jangan terburu-buru atau memaksakan diri , selagi masih belum mendapati tertibnya kalam , janganlah berfatwa karena akan merugikan diri sendiri , haruslah lebih teliti dalam waspada terhadap keadaan diri sendiri , untuk menggapai anugerah cahaya badihi.)

(: Adalah yang terahasia dari kehidupan ini , jika dapat mengerti apa yang semula tidak diketahui , yaitu sesuatu yang tiada mengambil tempat dalam hidupnya , banyak sudah yang merasa memiliki pengetahuannya , merasa sudah tanggal rasa dirinya , meski sesungguhnya belum mengerti keadaan rasa diri yang sejati . adanya rasa sejati upayakan hingga sempurna dalam kehidupanmu ).

( Didalam al Qur’an adanya pengetahuan rasa sejati , tidak sembarang orang dapat mengetahui rahasia dalam al Qur’an , kecuali orang yang dapat petunjuk-Nya , tidak boleh asal mentafsirkan saja , tidak akan menuai hasil , malah akan merusakkan diri , akhirnya akan tersesat. Jika engkau hendak mengerti , kesempurnaan dalam diri pribadi , belajarlah engkau pada guru yang sejati.)

( Jika engkau hendak belajar juga , pilihlah manusia yang nyata benarnya , yang baik martabahnya , serta mengerti dalamnya hukum , dan tiada kurang dalam ber-ibadah , syukur mendapati ahli I’tikaf / tapa-semedi , yang sudah menguasai segalanya , dan tiada memikirkan pemberian dari orang lain , itulah orang yang pantas jadi pembimbing , maka akan hal ini perhatikanlah ! )

Dulu para  Bapak melantunkan tembang tersebut dengan iringan musik klasik ” Laras madyo”…

Bagi aku sitho tembang tersebut secara spiritual justru mendekatkan sitho dengan ki Bangun topo  yang di idolakan oleh Bung Karno.

4 Balasan ke Piweling

  1. Pungky berkata:

    apakah Ki Bangun Topo itu sama dg Kanjeng Sultan Hambanguntopo Jogjakarta, maksud saya satu orang yg sama?
    trimakasih

  2. name pawiro berkata:

    ora dunug amang bahasa aku arep belaja omong jawa

  3. name pawiro berkata:

    aku jawa sanka negari suriname

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s